Kopi Gula Aren Bisa Picu Kalori Berlebih

Jumali
Jumali Jum'at, 22 Mei 2026 10:27 WIB
Kopi Gula Aren Bisa Picu Kalori Berlebih

Gula putih dan gula aren. - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Minuman berbahan gula aren semakin populer dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada kopi susu kekinian dan berbagai minuman manis lainnya.

Banyak orang menilai gula aren lebih sehat dibanding gula putih karena dianggap alami dan diproses secara tradisional.

Padahal, gula aren tetap termasuk gula tambahan yang perlu dibatasi konsumsinya agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

Gula aren dibuat dari nira pohon aren yang dimasak hingga mengental dan membentuk kristal.

Karena prosesnya tidak melalui pemurnian sebanyak gula pasir, gula aren masih mengandung sejumlah mineral seperti kalium, magnesium, dan zat besi.

Namun, kandungan mineral tersebut jumlahnya relatif kecil sehingga tidak membuat gula aren otomatis menjadi pemanis yang sepenuhnya sehat.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, gula aren tetap mengandung sukrosa yang dapat memengaruhi kadar gula darah serta meningkatkan asupan kalori harian.

Indeks glikemik gula aren memang sedikit lebih rendah dibanding gula pasir, tetapi perbedaannya dinilai tidak terlalu signifikan apabila dikonsumsi berlebihan.

Karena itu, penderita diabetes maupun orang dengan resistensi insulin tetap disarankan membatasi konsumsi minuman berbahan gula aren.

Masalah utama minuman manis bukan hanya jenis gulanya, tetapi jumlah konsumsi yang terlalu sering.

Banyak minuman kekinian berbahan gula aren juga mengandung tambahan sirup, krimer, maupun susu tinggi lemak yang membuat kadar gula dan kalorinya semakin tinggi.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung jika dikonsumsi rutin dalam jangka panjang.

Satu gelas minuman manis bahkan dapat mendekati atau melebihi batas konsumsi gula tambahan harian yang direkomendasikan, yakni sekitar 25–30 gram per hari untuk orang dewasa.

Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung menganggap semua produk berlabel gula aren lebih aman atau lebih sehat.

Meski demikian, minuman berbahan gula aren tetap boleh dikonsumsi selama tidak berlebihan.

Untuk mengurangi risiko kesehatan, masyarakat disarankan memilih ukuran minuman lebih kecil, mengurangi kadar gula, dan membatasi frekuensi konsumsi.

Pilihan lain yang dianggap lebih aman adalah membuat minuman sendiri di rumah agar kadar gula lebih mudah dikontrol.

Selain itu, membaca label kandungan gula dan kalori pada minuman kemasan juga penting dilakukan sebelum membeli produk.

Pakar kesehatan menilai pola konsumsi yang seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan tubuh, termasuk dalam mengonsumsi minuman manis.

Gula aren memang memiliki proses pembuatan yang lebih alami dibanding gula putih, tetapi tetap perlu dikonsumsi secara bijak agar tidak menimbulkan dampak kesehatan di kemudian hari.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online