Film Horor Monster Pabrik Rambut Hadirkan Teror Dunia Kerja

Sunartono
Sunartono Jum'at, 22 Mei 2026 07:27 WIB
Film Horor Monster Pabrik Rambut Hadirkan Teror Dunia Kerja

Para pemeran Film Monster Pabrik Rambut saat Meet and Greet dengan penonton di JCM, Kamis (22/5/2026). /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Industri film horor Indonesia kembali diramaikan kehadiran Monster Pabrik Rambut, film terbaru produksi Palari Films yang dijadwalkan tayang mulai 4 Juni 2026. Berbeda dari tren horor lokal yang identik dengan jumpscare dan sosok makhluk gaib konvensional, karya sutradara Edwin ini justru menawarkan nuansa teror retro ala 1980-an dengan latar eksploitasi dunia kerja sebagai tema utama.

Cerita film ini berpusat pada tiga saudara bernama Putri, Ida, dan Bona yang terpaksa bekerja di sebuah pabrik demi melunasi utang peninggalan ibu mereka. Alih-alih menemukan jalan keluar, keputusan tersebut justru membawa ketiganya masuk ke rangkaian kejadian misterius yang perlahan membuka tabir kematian sang ibu di tempat kerja itu.

Karakter Putri diperankan Rachel Amanda, sementara Ida dimainkan Lutesha dan Bona diperankan Iqbaal Ramadhan. Ketiganya digambarkan harus menggantikan posisi ibu mereka di pabrik sambil mencoba mengungkap berbagai kejanggalan yang terjadi di lingkungan kerja tersebut.

Edwin menjelaskan bahwa Monster Pabrik Rambut tidak hanya menyuguhkan ketakutan visual, tetapi juga menghadirkan tekanan psikologis yang lahir dari relasi kuasa dan situasi kerja yang tidak sehat. Menurutnya, dinamika hubungan kakak beradik di tengah lingkungan penuh misteri menjadi inti emosional dalam film tersebut.

Proses produksi film ini juga terbilang tidak biasa. Edwin mengungkapkan tim produksi membutuhkan waktu panjang untuk mempersiapkan berbagai properti pendukung, termasuk mengumpulkan rambut asli dari berbagai daerah. Selain itu, sekitar 1.200 manekin kepala didatangkan dari Bali untuk menunjang kebutuhan artistik selama proses syuting di bangunan kosong milik Perusahaan Film Negara (PFN) di Jakarta.

Kondisi lokasi syuting yang dipenuhi debu dan serpihan rambut bahkan sempat membuat mata para pemain mengalami iritasi selama pengambilan gambar berlangsung.

Film ini turut diperkuat kehadiran Dian Sastrowardoyo yang memerankan karakter Mariati, pemilik pabrik sekaligus sosok sentral dalam misteri cerita. Edwin menyebut karakter tersebut sejak awal memang dirancang khusus untuk diperankan Dian.

“Karakter tersebut sejak awal memang dirancang khusus untuk diperankan Dian Sastrowardoyo. Kehadiran Dian tidak hanya memperkuat karakter Mariati, tetapi juga memberi banyak masukan selama proses pengembangan cerita dan produksi film berlangsung,” katanya saat Meet and Greet dengan penonton di Jogja City Mall, Kamis (21/5/2026).

Selain mengandalkan atmosfer mencekam, Monster Pabrik Rambut juga menghadirkan karakter dengan kemampuan unik yang jarang ditemui dalam film horor Indonesia. Putri digambarkan sebagai sosok kakak tertua yang logis, sedangkan Ida memiliki kemampuan indigo untuk berkomunikasi dengan makhluk tak kasatmata. Sementara Bona memiliki kemampuan regenerasi tubuh sehingga bagian tubuhnya dapat tumbuh kembali ketika terlepas.

Iqbaal Ramadhan mengaku tertarik bergabung dalam proyek tersebut karena menawarkan pendekatan horor berbeda dibanding film-film yang tumbuh bersama generasinya.

“Kita sama-sama mengamini kalau film horor adalah salah satu genre yang paling banyak penontonnya di bioskop. Tapi bagaimana akhirnya Monster Pabrik Rambut ini bisa hadir sebagai pilihan lain yang tidak kalah seru dan menarik bagi para penonton film Indonesia, terutama yang punya ketertarikan lebih pada film horor,” kata Iqbaal.

Rachel Amanda juga mengungkapkan bahwa proses produksi berjalan cukup menyenangkan meski cerita film dipenuhi nuansa kelam. Ia menyebut suasana kerja selama syuting tetap sehat dan nyaman bagi seluruh pemain.

Salah satu daya tarik utama film ini terletak pada penggunaan teknik practical effect atau efek buatan langsung di lokasi syuting. Iqbaal menjelaskan penggunaan teknologi CGI dalam film dibuat sangat minim karena Edwin lebih memilih menghadirkan monster secara nyata di depan kamera.

Film ini menggunakan teknik CGI yang sangat sedikit. Teknik tersebut sebenarnya sudah umum digunakan di industri perfilman Indonesia maupun dunia. Namun, Edwin lebih tertarik memakai teknik practical effect atau efek buatan tangan secara langsung.

“Jadi, monsternya kelihatan dan ada beneran di set. Kita sebagai pemain juga tidak perlu membayangkan atau melihat sesuatu di layar hijau [green screen] atau layar biru. Semuanya bisa langsung terlihat nyata di depan kita. Karena practical effect itulah, maka banyak makeup prosthetic yang harus kami gunakan. Itu salah satu tantangan tersendiri di prosesnya,” urai Iqbaal.

Keputusan menggunakan efek praktikal membuat tim produksi harus mendatangkan sekitar dua truk rambut asli dari berbagai daerah untuk kebutuhan properti monster. Rambut-rambut tersebut kemudian digunakan untuk membangun suasana pabrik sekaligus menciptakan visual monster yang menjadi elemen penting dalam film.

Tidak hanya menjadi pemeran dan eksekutif produser, Iqbaal juga terlibat dalam penulisan sekaligus membawakan lagu tema berjudul Kepala Pundak Kerja Lagi. Lagu tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat nuansa retro dan tekanan dunia kerja yang menjadi benang merah cerita Monster Pabrik Rambut.

Tim produser bersama Edwin menegaskan bahwa Monster Pabrik Rambut dirancang sebagai refleksi horor modern yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban. Tekanan pekerjaan, budaya lembur, tenggat waktu, hingga relasi kuasa di lingkungan kerja menjadi sumber ketakutan utama yang diangkat dalam film ini, melampaui sekadar teror monster dan makhluk menyeramkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online