Veda Ega Start Posisi 21 di Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama gagal lolos Q2 Moto3 Catalunya 2026 dan akan memulai balapan dari posisi ke-21 di Barcelona.
Camilan, ngemil - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Di balik kemasan yang menarik, sejumlah camilan favorit ternyata menyimpan bahan yang perlu diwaspadai. Kandungan ini sering kali tidak disadari, tetapi berpengaruh pada rasa kenyang, nafsu makan, hingga kesehatan tubuh.
Pelatih nutrisi dan kebugaran di Life Time Plymouth, Keri Anderson, menyebut banyak camilan dirancang agar terus ingin dikonsumsi, bukan untuk memberi rasa kenyang.
“Kebanyakan camilan kemasan sebenarnya tidak selalu ‘buruk’, tetapi, banyak yang dirancang agar kita terus ingin makan lagi, bukan benar-benar membuat kenyang atau puas,” ujarnya, dikutip dari Eat This Not That.
Gula Tambahan yang Tersamar
Gula tambahan menjadi salah satu kandungan paling umum. Tidak selalu ditulis sebagai “gula”, bahan ini bisa muncul dalam bentuk lain seperti sirup beras merah, sirup tapioka, hingga konsentrat jus buah.
Kandungan ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah dan membuat rasa lapar datang lebih cepat.
Minyak Nabati yang Diproses
Minyak nabati seperti kedelai, jagung, dan kanola banyak digunakan dalam camilan kemasan. Bahan ini mudah dikonsumsi berlebihan, terutama saat dikombinasikan dengan karbohidrat dan garam.
Kombinasi tersebut membuat camilan terasa “nagih” dan sulit dihentikan.
Pemanis Buatan yang Menipu Rasa
Camilan berlabel rendah gula sering mengandung pemanis buatan seperti sukralosa atau aspartam. Pada sebagian orang, bahan ini justru memicu keinginan makan manis lebih banyak.
Akibatnya, rasa puas sulit tercapai meski sudah mengonsumsi camilan.
Daftar Bahan yang Terlalu Panjang
Daftar komposisi yang panjang bisa menjadi tanda bahwa produk tersebut melalui banyak proses pengolahan. Semakin sederhana bahan, biasanya semakin mudah dicerna tubuh.
Sebaliknya, produk dengan banyak bahan cenderung lebih “dirancang” daripada alami.
Minim Protein dan Serat
Camilan yang rendah protein dan serat sering tidak memberikan rasa kenyang yang cukup lama. Kondisi ini membuat seseorang lebih cepat lapar dan terus ingin ngemil.
Padahal, dua komponen ini penting untuk menjaga kestabilan energi.
Perisa Alami dan Penguat Rasa
Istilah “perisa alami” dan penguat rasa juga perlu diperhatikan. Meski tidak selalu berbahaya, istilah ini sering digunakan untuk menambah cita rasa, bukan nilai gizi.
Hal ini menjadi tanda bahwa fokus utama produk adalah rasa, bukan manfaat kesehatan.
Pilihan Camilan yang Lebih Sehat
Untuk menghindari risiko tersebut, Keri Anderson menyarankan memilih camilan yang lebih sederhana dan alami. Buah, kacang-kacangan, greek yogurt, atau minuman protein dapat menjadi alternatif.
Pilihan ini mengandung kombinasi serat, protein, dan lemak sehat yang membantu tubuh merasa kenyang lebih lama.
Dengan memahami kandungan di balik camilan, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari tanpa harus sepenuhnya menghindari camilan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Veda Ega Pratama gagal lolos Q2 Moto3 Catalunya 2026 dan akan memulai balapan dari posisi ke-21 di Barcelona.
Bahasa Inggris akan jadi pelajaran wajib SD mulai 2027. Pemerintah siapkan pelatihan guru dan strategi peningkatan mutu pendidikan.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.
Ratusan warga Seloharjo Bantul menolak mantan dukuh kembali menjabat. Gugatan ke PTUN picu aksi dan pemasangan spanduk protes.
Presiden Prabowo beli sapi Brahman 1,2 ton dari Boyolali untuk kurban Iduladha 2026. Simak daftar sapi pilihan dari berbagai daerah.
Kinerja perbankan nasional tetap kuat di tengah tekanan global. Kredit tumbuh 9,49% dan bank BUMN jadi penopang utama ekonomi.