Hajatan FIFGROUP Sleman II Diserbu Pengunjung
Hajatan FIFGROUP Sleman II berlangsung meriah dengan berbagai promo menarik, mulai dari angsuran hemat hingga pembiayaan haji.
Sungai Progo. - Wikipedia
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebuah studi global terbaru mengungkap ancaman serius terhadap ekosistem air tawar. Pemanasan iklim ternyata memicu penurunan kadar oksigen secara luas di sungai-sungai di seluruh dunia, kondisi yang berpotensi mengganggu keseimbangan kehidupan akuatik.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini dilakukan oleh tim ilmuwan dari Nanjing Institute of Geography and Limnology. Studi tersebut menganalisis data selama hampir 40 tahun, mencakup lebih dari 21.000 ruas sungai di berbagai belahan dunia.
Hampir 80 Persen Sungai Alami Deoksigenasi
Hasil penelitian menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Rata-rata, kadar oksigen di sungai menurun sebesar 0,045 miligram per liter setiap dekade sejak 1985 hingga 2023. Bahkan, hampir 80 persen sungai yang diteliti mengalami deoksigenasi atau penurunan kadar oksigen.
Fenomena ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup ikan dan organisme air lainnya yang sangat bergantung pada ketersediaan oksigen terlarut.
Sungai Tropis Paling Rentan
Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa sungai di wilayah tropis justru mengalami dampak paling parah. Wilayah ini mencakup daerah di sekitar garis khatulistiwa, termasuk sebagian besar kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Sungai tropis sejak awal memiliki kadar oksigen lebih rendah dibanding wilayah lain. Ketika suhu meningkat, kemampuan air untuk menyimpan oksigen semakin berkurang, sehingga risiko kekurangan oksigen ekstrem menjadi lebih tinggi.
Pemanasan Iklim Jadi Faktor Utama
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor utama penyebab penurunan oksigen:
Pemanasan suhu air (63% kontribusi): air hangat menyimpan lebih sedikit oksigen
Perubahan metabolisme ekosistem (12%): dipengaruhi suhu, cahaya, dan aliran air
Gelombang panas ekstrem (23%): mempercepat penurunan oksigen secara signifikan
Gelombang panas bahkan terbukti mempercepat laju deoksigenasi dibanding kondisi normal.
Dampak pada Keanekaragaman Hayati
Penurunan kadar oksigen menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati sungai. Ikan dan organisme air lainnya akan kesulitan bertahan hidup dalam kondisi oksigen rendah, yang berpotensi menyebabkan kematian massal dan terganggunya rantai makanan.
Para peneliti menegaskan bahwa kondisi ini dapat memperburuk krisis lingkungan global jika tidak segera ditangani.
Seruan untuk Aksi Nyata
Peneliti dari NIGLAS, Shi Kun, menekankan pentingnya langkah mitigasi segera, terutama di wilayah tropis yang paling terdampak.
Menurutnya, menjaga “napas” sungai menjadi tantangan besar di era perubahan iklim saat ini. Upaya perlindungan ekosistem air tawar perlu menjadi prioritas kebijakan lingkungan di berbagai negara.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan di daratan dan atmosfer, tetapi juga di ekosistem air tawar. Tanpa langkah nyata, penurunan oksigen di sungai dapat membawa konsekuensi besar bagi kehidupan manusia dan lingkungan secara global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hajatan FIFGROUP Sleman II berlangsung meriah dengan berbagai promo menarik, mulai dari angsuran hemat hingga pembiayaan haji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 10 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jam keberangkatan, stasiun tujuan, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 15 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dengan tarif Rp8.000. Cek jadwal tiap stasiun di sini.
Pengalaman tumbuh dalam keluarga ekonomi terbatas dapat membentuk kebiasaan finansial hingga dewasa. Simak 8 kebiasaan yang sering terbawa.
KOTAK resmi menjadi band independen setelah 18 tahun bersama label rekaman. Single YOLO menjadi simbol kebebasan kreatif dan era baru mereka.
AC mobil kurang dingin atau bau? Simak 7 cara merawat AC mobil agar tetap sejuk, awet, dan nyaman digunakan setiap har