Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 153

Joko Santosa
Joko Santosa Rabu, 02 Desember 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 153

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

153

“Trangg!” Bunga api berpijar. Keris Naga Siluman bertemu dengan keris Kalawelang luk tiga belas juga. Entah kapan Lohgawe melolos senjatanya tahu-tahu tangan kanannya memegang keris untuk menangkis serangan Kertapati.

Kembali terjadi pertempuran mati-matian, dan udara di dalam gua menjadi panas karena hawa keris Naga Siluman dan Kalawelang yang ngedab-edabi. Resi Kamayan juga menghunus sebuah sipat kandel yaitu keris luk tujuh dhapur carubuk.

“Tranggg!” Kali ini keris Kalawelang bertumbukan dengan keris carubuk mengguncang udara sekitar. Saking kerasnya benturan, Resi Kamayan terpental tiga meter menabrak dinding gua. Lohgawe paham, demang Kertapati pasti memanfaatkan peluang di waktu ia terhuyung dua jangkah. Dan benar. Dengan wajah buas, demang itu menusukkan keris Naga Siluman sepenuh tenaga ke punggung Lohgawe. Memang kesempatan ini yang ditunggu-tunggunya. Ia menggeser kaki kirinya dan sengaja tidak menangkis sehingga tubuh Kertapati maju terdorong tenaganya, dan tangan kanan Lohgawe menusuk dada lawannya.

“Crappp!” Keris Kalawelang amblas ke dada demang Kertapati, persis seperti peristiwa Gayatri bunuh diri dengan menusukkan cundrik ke dadanya.

Demang Kertapati memegangi dada, dan dari sela-sela jari tangannya merembes darah merah kental kehitaman.

“Bocah se…tan!” Kertapati terjerembab ke tanah, namun sebelum ia terhempas Lohgawe tangkas melompat, dan di tangan kirinya tergenggam pusaka Kertapati, keris Naga Siluman.

“Kertapati” Resi Kamayan menghampiri murid keponakannya menjelang sakaratul maut Ia memandangi demang Kertapati dengan perasaan campur aduk. Pertama, rasa melas, karena ia puluhan tahun berpetualang dengan Kertapati di mana masing-masing merasa ada chemistry. Ia mengikuti kiprah Kertapati dimulai sebagai tamtama; naik pangkat kepala pengawal; kemudian lurah prajurit; hingga akhirnya ditahbiskan menjadi demang di Tembayat. Dan kedua, rasa getun sebab dengan meninggalnya Kertapati yang memiliki penggayuh merebut Mataram, praktis sang resi batal menjadi patih utama.

“Paman…” bisik Kertapati ketika akan memasuki pintu alam ketiga yaitu dunia kebakaan

Resi Kamayan mengangkat kepala murid keponakannya dengan masygul.

“Tahan dirimu..” ujar Resi Kamayan yang bimbang dengan ucapannya sendiri. Keris itu masuk terlalu dalam menyentuh jantung. Tidak ada lagi pengharapan.

“Ba…las..kan..” Kepala Kertapati meregang dalam papahan Resi Kamayan. Lalu lemas.

Pelan-pelan sang resi berdiri setelah meletakkan kepala Kertapati di atas tanah. Ia harus membalas dendam. Harus. Pembalasan adalah sebuah keniscayaan. Murid keponakannya gugur. Impian kamukten resi itu ikut gugur pula. Ia tidak memiliki semangat untuk hidup, apalagi anak muda itu tentu akan melaporkan semua kejadian kepada Panembahan Senopati, mungkin lewat gurunya, Kaki Suryadharma. Dan Mataram akan memburunya.

“Lohgawe kita lanjutkan.” Resi Kamayan tahu ia akan kalah. Di dalam gua yang pengap ini ia akan menjadi pecundang dengan kesadaran yang getir: Ia akhirnya memang bukanlah siapa siapa. Kendati ia bertarung dengan nyali seorang resi yang sakti, toh pada pungkasnya ia hanya orang yang tersisihkan. Dan waktu terlampau sempit untuk memaki atau apalagi merutuki nasib.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online