Jokowi: Saya Yakin Elon Musk Buka Pabrik Kendaraan Listrik di Indonesia
Meski masih dalam proses negosiasi, Presiden Jokowi meyakini Bos Tesla, Elon Musk, pada akhirnya akan memutuskan menggelontorkan investasi di Indonesia.
Sumber: Science Daily
Harianjogja.com, JAKARTA - Hasil analisis yang dimuat dalam British Journal of Sports Medicine menyebutkan kebiasaan berlari, sesedikit apa pun berkaitan dengan risiko kematian yang lebih rendah secara signifikan.
Dilansir Science Daily, Jumat (8/11/2019), para peneliti menyimpulkan, jika lebih banyak orang berlari, kemungkinan kesehatan dan umur suatu populasi akan meningkat secara substansial.
Awalnya tidak jelas seberapa baik lari untuk mencegah risiko kematian dari sebab apa pun, terutama dari penyakit kardiovaskular dan kanker. Juga tidak jelas seberapa banyak berlari yang perlu dilakukan seseorang untuk menuai manfaat potensial ini, atau apakah meningkatkan frekuensi, durasi, dan kecepatan akan lebih menguntungkan.
Untuk mencoba dan mencari tahu, para peneliti secara sistematis meninjau penelitian yang relevan, presentasi konferensi, dan tesis doktoral serta disertasi dalam berbagai database akademik.
Mereka mencari studi tentang hubungan antara berlari atau jogging dan risiko kematian dari semua penyebab, penyakit kardiovaskular, dan kanker.
Mereka menemukan 14 studi yang cocok, yang melibatkan 232.149 orang, yang kesehatannya telah dilacak antara 5,5 dan 35 tahun. Selama waktu itu, 25.951 peserta penelitian meninggal.
Ketika data penelitian dikumpulkan, jumlah lari dikaitkan dengan risiko kematian 27% lebih rendah dari semua penyebab untuk kedua jenis kelamin, dibandingkan dengan tidak berlari.
Hal itu dikaitkan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 30% lebih rendah, dan risiko kematian akibat kanker lebih rendah 23%.
Bahkan kebiasaan kecil berlari, misalnya, sekali seminggu atau kurang, berlangsung kurang dari 50 menit setiap kali, dan pada kecepatan di bawah 6 mil (8 km) per jam, tampaknya masih dikaitkan dengan manfaat kesehatan atau umur panjang yang signifikan.
Para peneliti menyarankan, berlari selama kurang dari 25 menit per minggu direkomendasikan untuk mengurangi risiko kematian. Hal ini membuat lari merupakan opsi yang berpotensi bagus bagi mereka yang memiliki hambatan utama untuk melakukan olahraga yang cukup karena kurangnya waktu. Namun analisis juga menunjukkan, peningkatan \'dosis\' berlari tidak terkait dengan penurunan lebih lanjut risiko kematian dari sebab apa pun.
Ini adalah penelitian observasional, dan karena itu, tidak dapat membuktikan penyebabnya. Para peneliti mengingatkan bahwa jumlah penelitian yang dimasukkan kecil dan metode mereka bervariasi, yang mungkin mempengaruhi hasil.
Namun demikian, mereka menyatakan bahwa durasi lari seberapa lama pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Peningkatan tingkat partisipasi dalam berlari, terlepas dari dosisnya, mungkin akan mengarah pada peningkatan substansial dalam kesehatan dan umur panjang seseorang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Meski masih dalam proses negosiasi, Presiden Jokowi meyakini Bos Tesla, Elon Musk, pada akhirnya akan memutuskan menggelontorkan investasi di Indonesia.
Elon Musk sebut Neuralink "teknologi level Yesus". Klaim ambisius ini tuai kritik pakar karena kurangnya bukti ilmiah. Simak fakta selengkapnya di sini.
Wali Kota Jogja menemukan kandang ayam, sampah, dan pendangkalan saat susur Sungai Code, Pemkot rencanakan normalisasi.
Perbaikan Jalan R Agil Kusumadya Kudus tuntas, akses Demak–Kudus kini mulus dengan anggaran gabungan pusat dan daerah Rp40 miliar.
Maarten Paes tampil solid bawa Ajax Amsterdam ke final playoff Europa Conference League. Simak performa kiper Timnas Indonesia vs Groningen di sini.
Lelang jabatan Pemkab Gunungkidul selesai, tujuh kandidat bersaing jadi kepala OPD dan menunggu keputusan bupati.