Keselamatan Penerbangan Indonesia 78,85 Persen, Lampaui Rata-rata Global
Kinerja keselamatan penerbangan Indonesia mencapai 78,85% berdasarkan audit ICAO, melampaui rata-rata global yang berada di angka 70,6%.
Ilustrasi tidur/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA-- Seringkali karena suatu alasan, orang memilih tidur saat lapar. Perilaku tidur saat lapar seperti ini ternyata dianggap tidak baik untuk kesehatan.
Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh Ahli gizi, dr. Juwalita Surapsari, SpGK. Menurutnya, ketika seseorang memaksakan tidur saat lapar, dampak negatifnya justru akan berlipat-lipat ganda dan dapat membahayakan kesehatan.
"Kalau lagi lapar terus dipaksakan untuk tidur, itu malah bisa bikin kacau sistem metabolisme tubuh. Saya selalu melarang pasien yang sedang diet terus mereka ingin skip makan malam," tegas dr. Juwalita Surapsari, saat ditemui di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Juwalita menambahkan, ketika seseorang menunda makan malam dan memaksakan untuk tidur, biasanya mereka akan terbangun sekitar jam 1-2 dini hari. Bila sudah demikian, mereka justru akan kalap menyantap makanan karena rasa laparnya sudah memuncak.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa cara terbaik untuk menghilangkan rasa lapar adalah dengan menyantap makanan sesuai porsinya. Tidak perlu berlebihan dan tidak boleh terlalu sedikit.
Lantas, bagaimana bila rasa lapar melanda di jam-jam krusial seperti siang dan sore hari? Khususnya bagi mereka yang bekerja kantoran dan tidak memiliki stok makanan.
"Kita bisa memanipulasi otak dengan meminum air putih. Dengan meminum air putih ada proses impuls yang kemudian menimbulkan sensasi rasa kenyang. Cara ini dapat dilakukan bila memang tidak memiliki persediaan makanan. Tapi kalau sudah ada waktu luang, segera turun ke bawah untuk membeli maknan," katanya.
Lebih lanjut Juwalita menjelaskan, secara ilmiah, orang-orang yang terbiasa menunda makan cenderung lebih muda kepancing emosinya. Ini disebabkan karena kandungan glukosa di dalam tubuh mereka sudah mulai berkurang.
Seperti diketahui, glukosa merupakan sumber energi di dalam tubuh yang memainkan peran penting dalam menjaga stamina dan suasana hati manusia. Namun ketika gula darah turun, tubuh akan mengeluarkan hormon ghrelin. Hormon ini kemudian akan mencetuskan hormon kortisol (stres).
"Saat kortisol dilepaskan, tubuh kita bawaanya jadi enggak enak atau sering juga disebut dengan istilah stressful. Pada tahap tersebut rasa marah akan muncul," tuturnya.
Tidak hanya itu, Juwalita menyebutkan bahwa otak juga menjadi salah satu organ di dalam tubuh yang bergantung pada glukosa. Bila asupan glukosa mulai menurun, kadar Neuropeptide Y di otak akan semakin tinggi sehingga dapat memengaruhi perilaku seseorang.
Ia akan lebih agresif dan lebih gampang melontarkan kata-kata kasar. Untuk menanggulangi hal tersebut, Juwalita menyarankan untuk selalu menyediakan camilan khusus sebagai pengganjal perut pada jam-jam krusial.
Kadar gula biasanya menurun menjelang jam makan siang sekitar pukul 09.00 - 12.00. Lalu, menjelang makan malam sekitar pukul 16.00, pada saat itu perut sedang kosong-kosongnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Kinerja keselamatan penerbangan Indonesia mencapai 78,85% berdasarkan audit ICAO, melampaui rata-rata global yang berada di angka 70,6%.
Pedro Acosta finis kedua di MotoGP Aragon 2026. Pol Espargaro menyebut performanya menjadi pasokan oksigen bagi KTM.
Pokémon: Wild Card resmi diumumkan dan dijadwalkan tayang global pada 2027. Teaser perdana menampilkan Mimikyu dan pemain TCG misterius.
Jose Mourinho memberikan penghormatan kepada Lionel Messi setelah bintang Argentina itu mengumumkan pensiun dari sepak bola internasional.
Wakil presiden bukan jabatan wajib di setiap negara. Rusia, Korea Selatan, Prancis hingga Meksiko punya mekanisme suksesi tanpa wakil presiden.
Lee Know Stray Kids donasi US$69.000 (Rp1,23 miliar) untuk korban banjir Nepal melalui World Vision. Simak aksi kemanusiaan idol K-Pop ini selengkapnya.