Cuaca Panas dan Polusi Picu ISPA, Ini Cara Menjaga Pernapasan

Newswire
Newswire Senin, 17 Agustus 2026 18:27 WIB
Cuaca Panas dan Polusi Picu ISPA, Ini Cara Menjaga Pernapasan

Ilustrasi ISPA - FReepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Cuaca panas dan memburuknya kualitas udara pada musim kemarau dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok yang rentan. Debu dan polutan yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga meningkatkan peluang terjadinya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked mengatakan paparan debu dapat menurunkan daya tahan saluran pernapasan dan memicu inflamasi.

"Iritasi tersebut dari debu, akan menurunkan daya tahan saluran nafas, menyebabkan inflamasi, sehingga mudah terkena ISPA atau infeksi saluran pernapasan atas," kata dokter spesialis paru-paru dan pernapasan itu kepada ANTARA di Jakarta pada Senin.

Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut menjelaskan orang dengan daya tahan tubuh rendah memiliki peluang lebih besar mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara selama musim kemarau.

Cara menjaga daya tahan tubuh saat kemarau

Feni menyarankan masyarakat memperkuat daya tahan tubuh dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Istirahat yang cukup serta asupan vitamin juga menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi tubuh.

"Nah trik-triknya bagaimana kalau untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tentu butuh vitamin, istirahat yang cukup, pola hidup bersih sehat intinya," katanya.

Pola makan bergizi seimbang yang mencakup buah-buahan, sayur-sayuran, dan sumber vitamin juga disarankan. Ketika kualitas udara memburuk, konsumsi suplemen vitamin dan antioksidan dapat dipertimbangkan.

Upaya menjaga kualitas udara juga perlu dilakukan dari lingkungan sekitar. Feni mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah dan tidak merokok.

"Dari kita sendiri supaya tidak terjadi menambah polusi udara ya tidak ikut-ikutan membakar sampah, atau tidak merokok," kata dr. Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

Batasi aktivitas luar saat kualitas udara buruk

Feni menyarankan masyarakat menerapkan skala prioritas dalam melakukan kegiatan di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.

Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari saat cuaca panas dan polusi udara tinggi, masyarakat disarankan menggunakan kacamata dan pelindung wajah. Perlindungan tersebut dapat membantu meminimalkan kemungkinan iritasi pada mata dan saluran pernapasan akibat paparan polutan.

"Kalau memang harus keluar rumah, ya gunakan alat-alat proteksi yang tadi dan sesegera mungkin kembali ke rumah untuk menghindari pajanan debu," kata dr. Feni.

Individu yang memiliki penyakit pernapasan kronis, seperti asma, juga diingatkan untuk tetap mengonsumsi obat-obatan rutin ketika kualitas udara memburuk.

Kunjungan pasien ISPA mencapai 676.404

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman sebelumnya menyampaikan angka kunjungan pasien ISPA di rumah sakit mencapai 676.404 kunjungan sepanjang Januari hingga Juli 2026.

ISPA merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis infeksi yang memengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan bawah, termasuk hidung, tenggorokan, sinus, bronkus, dan paru-paru.

Menurut informasi yang disiarkan di laman resmi Kementerian Kesehatan, ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur. Paparan polusi udara juga dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan memicu infeksi saluran napas.

Gejala ISPA dapat berupa batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sesak napas, pilek, suara serak atau hilang, sakit kepala, serta nyeri otot dan sendi.

Feni mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala tersebut, khususnya jika muncul pada kelompok rentan seperti balita, lansia, penderita penyakit paru-paru, dan penderita penyakit jantung.

Menurut dia, kelompok tersebut sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala-gejala ISPA.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online