Mikrodrama Kini Lebih Lama Ditonton daripada Netflix

Jumali
Jumali Selasa, 01 September 2026 07:27 WIB
Mikrodrama Kini Lebih Lama Ditonton daripada Netflix

Adegan dalam film animasi KPop Demon Hunters. - Netflix

Harianjogja.com, JOGJA— Menonton cerita kini tidak selalu membutuhkan waktu satu jam atau bahkan dua jam. Di tengah perjalanan, saat menunggu kopi, atau ketika memiliki jeda beberapa menit, penonton cukup membuka ponsel untuk mengikuti cerita mikrodrama yang setiap episodenya hanya berdurasi sekitar satu hingga dua menit.

Format cerita pendek bersambung tersebut berkembang menjadi fenomena baru dalam industri hiburan. Bukan hanya penonton yang mulai terbiasa menikmati cerita melalui layar ponsel, sejumlah nama besar Hollywood seperti James Franco, Kim Kardashian, dan Issa Rae juga mulai masuk ke industri mikrodrama sebagai pemain, investor, maupun pendiri platform.

Perubahan kebiasaan menonton itu terlihat dari waktu yang dihabiskan pengguna di Amerika Serikat. Pengguna aplikasi mikrodrama seperti ReelShort rata-rata menghabiskan 35,7 menit setiap hari untuk menonton melalui ponsel atau tablet.

Durasi tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan waktu rata-rata yang digunakan untuk menonton sejumlah layanan streaming besar. Netflix berada di angka 24,8 menit per hari, Amazon Prime Video 26,9 menit, sedangkan Disney+ sekitar 23 menit per hari.

Dengan kata lain, episode yang hanya membutuhkan waktu satu atau dua menit ternyata dapat membuat penonton terus kembali mengikuti kelanjutan cerita. Pola tersebut ikut membuka ruang baru bagi industri hiburan yang selama ini identik dengan film panjang dan serial berbiaya besar.

Pasar Mikrodrama Tembus Triliunan Rupiah

Besarnya perhatian terhadap mikrodrama mulai tercermin dalam nilai industrinya. Omdia memperkirakan pasar mikrodrama global telah mencapai US$11 miliar atau sekitar Rp158 triliun pada 2025.

Nilai tersebut diperkirakan meningkat menjadi US$14 miliar atau sekitar Rp202 triliun pada 2026. Dari nilai pasar tersebut, wilayah di luar Tiongkok diperkirakan menyumbang US$3 miliar.

Amerika Serikat menjadi pasar terbesar di luar Tiongkok. Negara tersebut diperkirakan menyumbang sekitar separuh pendapatan internasional atau sekitar US$1,5 miliar pada tahun ini.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa mikrodrama telah berkembang melewati status sebagai tren hiburan di media sosial. Format tersebut kini menjadi bagian dari industri dengan nilai ekonomi yang semakin besar.

Hollywood Mulai Masuk ke Mikrodrama

Salah satu daya tarik mikrodrama bagi industri film adalah biaya produksinya. Episode yang pendek membuat proses pembuatan dapat dilakukan dengan biaya lebih rendah dan waktu pengerjaan yang lebih cepat dibandingkan film atau serial konvensional.

Kondisi itu memberikan kesempatan kepada para pembuat konten dan aktor untuk memproduksi cerita dalam jumlah lebih banyak sekaligus mengejar audiens yang menghabiskan banyak waktu dengan ponsel. Bagi sebagian bintang Hollywood, mikrodrama juga menjadi ruang baru untuk bereksperimen tanpa harus menghadapi biaya produksi sebesar film layar lebar.

James Franco termasuk nama yang ikut masuk ke format tersebut. Ia membintangi serial "Love, Lies & Frank", yang berkisah tentang seorang direktur perusahaan iklan yang terseret kasus kriminal sekaligus menjalani hubungan cinta terlarang.

Produksi tersebut juga menjadi salah satu serial pertama yang dibuat berdasarkan perjanjian kerja baru serikat pekerja film untuk mikrodrama. Kehadiran proyek tersebut menunjukkan bahwa format cerita pendek mulai memperoleh tempat dalam ekosistem industri film yang lebih formal.

Nama lain yang ikut memanfaatkan pertumbuhan mikrodrama adalah Issa Rae. Melalui perusahaannya, Hoorae Media, ia bekerja sama dengan PineDrama, aplikasi milik TikTok, untuk memproduksi serial "Screen Time".

Respons penonton terhadap serial tersebut terbilang besar. "Screen Time" ditonton hampir 75 juta kali hanya dalam minggu pertama dan kemudian melampaui 150 juta penayangan.

Angka tersebut menunjukkan bagaimana sebuah cerita dengan format sangat pendek dapat memperoleh jangkauan audiens dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat. Pola konsumsi seperti ini pula yang membuat mikrodrama semakin menarik bagi pelaku industri hiburan.

Aktor, Kreator, hingga Investor Ikut Berebut Peluang

Jesse Tyler Ferguson, yang dikenal melalui serial "Modern Family", juga mengambil bagian dalam perkembangan format tersebut. Ia membintangi serial komedi musikal "Theater Kids Vs. Zombies".

Sementara itu, Taye Diggs mengambil peran yang lebih jauh. Selain menjadi pemain, ia mendirikan platform mikrodrama bernama Microhouse Films yang ditujukan untuk memberikan ruang lebih besar kepada pembuat film muda untuk berkarya.

Potensi bisnis mikrodrama juga menarik perhatian keluarga Kardashian. Kim Kardashian dan Kris Jenner diketahui menanamkan modal di platform GammaTime. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa peluang di balik format cerita pendek tidak hanya dilihat dari sisi kreativitas, tetapi juga dari potensi bisnisnya.

Maria Rua Aguete, kepala divisi media dan hiburan Omdia, melihat perkembangan tersebut sebagai perubahan dalam cara masyarakat menikmati cerita melalui perangkat pribadi.

"Mereka sedang mengubah cara orang menikmati cerita di layar ponsel. Bukan berarti orang berhenti menonton film panjang, kini mereka juga menginginkan cerita yang dapat dinikmati kapan saja, dalam waktu singkat, langsung di genggaman tangan," ujarnya.

Peluang Mikrodrama di Indonesia

Perubahan perilaku penonton tersebut juga membuka peluang bagi pasar Indonesia. Tingginya penggunaan ponsel dan kebiasaan mengonsumsi video melalui gawai memberikan ruang bagi format cerita pendek untuk dikembangkan sesuai selera penonton lokal.

Dengan durasi yang singkat dan biaya produksi yang lebih terjangkau dibandingkan produksi film atau serial biasa, mikrodrama berpotensi menjangkau audiens dalam jumlah besar. Format tersebut juga dapat mengikuti pola konsumsi masyarakat yang memiliki banyak waktu jeda dalam aktivitas sehari-hari.

Peluang itu membuka kemungkinan semakin banyak pelaku industri film Indonesia mencoba format cerita bersambung berdurasi pendek. Bintang film Indonesia juga berpeluang mengikuti jejak aktor Hollywood yang tidak hanya tampil sebagai pemain, tetapi turut terlibat dalam pengembangan platform mikrodrama.

Perkembangan mikrodrama pada akhirnya memperlihatkan bahwa pilihan penonton semakin beragam. Film panjang dan serial konvensional tetap menjadi bagian dari hiburan, tetapi cerita yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat kini memiliki ruang tersendiri di layar ponsel.

Dari perjalanan satu atau dua menit tersebut, penonton tetap dapat mengikuti konflik, kejutan, dan ketegangan sebuah cerita tanpa harus menyiapkan waktu khusus untuk duduk menonton dalam durasi panjang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online