Advertisement
Ini Sinyal Anda Terjebak Hubungan Toxic, Lari Sebelum Terlambat
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Hubungan toxic sering kali tidak disadari sejak awal karena muncul dalam bentuk halus dan perlahan. Padahal, dampaknya bisa menggerus kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga kualitas hidup seseorang.
Para psikolog menekankan, mengenali tanda sejak dini dan berani keluar adalah langkah penting untuk melindungi diri.
Advertisement
Salah satu tanda paling jelas adalah kekerasan, baik fisik maupun emosional. Bukan hanya tindakan seperti memukul atau mendorong, tetapi juga manipulasi psikologis seperti gaslighting.
Huffington Post mengungkapkan, kondisi ini terjadi ketika seseorang dibuat merasa bersalah terus-menerus atau dianggap “terlalu sensitif” saat menyampaikan perasaan.
BACA JUGA
Terapis seks Tammy Nelson menyebut, kritik yang meremehkan perasaan pasangan bisa menjadi bentuk manipulasi psikologis yang berbahaya jika terjadi berulang.
Tanda berikutnya adalah ketimpangan usaha dalam hubungan. Jika hanya satu pihak yang terus berjuang sementara yang lain pasif, hubungan menjadi tidak sehat. Psikolog Marie Land menilai hubungan yang sehat harus berjalan dua arah, bukan beban sepihak.
Ketiga, pasangan menolak berubah atau mencari bantuan profesional. Ketika masalah berulang tetapi tidak ada upaya perbaikan, ini menjadi sinyal serius. Konselor pernikahan John Amodeo menegaskan, hubungan tanpa kemauan berkembang hanya akan memperburuk kondisi emosional kedua pihak.
Keempat, muncul rasa tidak nyaman dalam keintiman, baik emosional maupun fisik. Jika perasaan ini berlangsung lama tanpa solusi, bisa jadi hubungan sudah tidak sehat. Profesor psikologi Gary Lewandowski juga mengingatkan pentingnya mendengar pandangan keluarga atau teman dekat yang melihat dari luar secara lebih objektif.
Kelima, adanya perselingkuhan berulang yang merusak kepercayaan. Hubungan yang sehat seharusnya memberi rasa aman, bukan ketidakpastian. Jika pengkhianatan terus terjadi tanpa perubahan nyata, hubungan cenderung semakin rapuh.
Keenam, hubungan mulai mengganggu aspek lain dalam hidup. Ketika karier, keluarga, atau tujuan pribadi terabaikan karena konflik pasangan, itu tanda hubungan menjadi beban.
Ketujuh, kebutuhan emosional tidak terpenuhi dan komunikasi tidak berjalan. Sikap defensif, diam berkepanjangan, atau menghindari diskusi justru memperlebar jarak emosional.
Para ahli menegaskan, bertahan dalam hubungan toxic bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan risiko bagi kesehatan mental. Mengakhiri hubungan yang merugikan bukan kegagalan, tetapi langkah berani untuk hidup lebih sehat. Mencari dukungan dari teman terpercaya atau bantuan profesional dapat menjadi awal untuk keluar dari situasi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Talud Sungai Jogja Rapuh, Rp4 Miliar Disiapkan untuk 5 Titik Prioritas
- Jadwal KRL Jogja-Solo Senin 27 April 2026, Tarif Rp8.000
- Gunungkidul Bangun 16 Jembatan Garuda Inisiasi Presiden Prabowo
- HPN 2026 Sleman Meriah: Jalan Sehat hingga Donor Darah
- Pemkot Jogja Segera Cari Daycare Aman Pengganti Little Aresha
Advertisement
Advertisement









