Advertisement

Tren Estetika Meningkat di Singapura, Risiko Kebutaan Mengintai

Jumali
Jum'at, 24 April 2026 - 13:27 WIB
Jumali
Tren Estetika Meningkat di Singapura, Risiko Kebutaan Mengintai Ilustrasi persiapan operasi plastik. - Shutterstock

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Tren operasi estetika di Singapura kian melonjak, terutama di kalangan anak muda. Namun di balik maraknya prosedur untuk memperbaiki penampilan, muncul ancaman serius berupa kegagalan tindakan yang berujung luka permanen hingga kebutaan.

Lonjakan kasus ini tercermin dari data terbaru otoritas kesehatan setempat. Channel News Asia, Jumat (24/4/2026) melaporkan, dalam periode 2022 hingga 2024, tercatat sekitar 90 pelanggaran oleh pihak tak berwenang yang melakukan praktik medis atau kedokteran gigi. Angka tersebut meningkat sekitar 50 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya. Praktik ilegal ini bahkan banyak ditemukan di lokasi non-medis seperti di rumah pribadi, toko, hingga kamar hotel.

Advertisement

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga menekan tenaga medis profesional. Sejumlah dokter bedah plastik mengaku menghadapi tuntutan untuk mengikuti tren prosedur yang viral di media sosial. Padahal, tidak semua metode baru tersebut memiliki kajian risiko yang matang.

Salah satu kasus yang mencuat dialami Georgina Poh, 31 tahun. Ia menjalani prosedur estetika untuk memperbaiki senyumnya di sebuah klinik. Alih-alih mendapatkan hasil sesuai harapan, ia justru mengalami pembengkakan parah, memar di wajah, dan kesulitan membuka mulut selama berminggu-minggu. Bekas luka dari tindakan tersebut masih terlihat hingga kini.

Kondisi semakin rumit karena korban tidak dapat menempuh jalur hukum. Ia telah menandatangani dokumen persetujuan sebelum tindakan dilakukan. Hal ini menjadi celah yang kerap terjadi dalam kasus serupa.

Pengacara Jacqueline Chua menjelaskan bahwa kelalaian dalam prosedur estetika dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai dari kesalahan diagnosis, pemberian saran yang tidak tepat, hingga pelaksanaan tindakan oleh tenaga yang tidak memiliki kompetensi. Banyak kasus akhirnya tidak berlanjut ke pengadilan karena sulitnya pembuktian.

Selain itu, sebagian kegagalan prosedur juga berasal dari tindakan di luar negeri atau dilakukan oleh pihak tanpa izin resmi. Para ahli memperkirakan sekitar satu dari sepuluh kasus komplikasi berasal dari kondisi tersebut.

Menanggapi situasi ini, pemerintah Singapura mulai memperketat regulasi. Aturan baru diberlakukan, termasuk kewajiban lisensi tambahan untuk prosedur invasif. Panduan teknis juga diperbarui untuk mencegah praktik ilegal yang membahayakan keselamatan publik.

Meski demikian, tantangan tetap besar. Tingginya keinginan masyarakat, khususnya anak muda, untuk mendapatkan hasil instan dalam memperbaiki penampilan dinilai menjadi faktor utama meningkatnya risiko. Tanpa pemahaman yang matang, prosedur estetika dapat berubah menjadi ancaman serius bagi kesehatan.

Pesan penting dari kasus ini adalah kehati-hatian sebelum menjalani tindakan medis. Memahami risiko secara detail menjadi langkah krusial, karena dampak seperti kerusakan jaringan atau kehilangan fungsi tubuh sering kali tidak dapat diperbaiki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Batas Beli Beras Diperketat Harga SPHP Tetap Stabil

Batas Beli Beras Diperketat Harga SPHP Tetap Stabil

News
| Jum'at, 24 April 2026, 14:57 WIB

Advertisement

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Wisata
| Jum'at, 24 April 2026, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement