Advertisement

Diet Nabati Sehat Turunkan Risiko Demensia, Ini Temuannya

Newswire
Kamis, 23 April 2026 - 16:27 WIB
Abdul Hamied Razak
Diet Nabati Sehat Turunkan Risiko Demensia, Ini Temuannya Ilustrasi / Diet berbasis bahan pangan nabati. (Pixabay)

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Hasil studi skala besar yang dipublikasikan dalam jurnal medis American Academy of Neurology, yakni Neurology, mengungkap bahwa kualitas makanan berbasis nabati berpengaruh signifikan terhadap risiko demensia.

Demensia sendiri merupakan kumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan mengingat, berpikir, hingga menjalankan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini menegaskan bahwa tidak semua pola makan nabati memberikan manfaat yang sama bagi kesehatan otak.

Advertisement

Mengutip laporan Eating Well, Rabu (22/4/2026), para peneliti menganalisis data lebih dari 92.000 peserta berusia 45 hingga 75 tahun yang terdaftar sebagai penerima Medicare. Data tersebut dikumpulkan melalui studi kohort multietnis yang memantau kebiasaan makan responden dalam jangka panjang.

Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan informasi pola makan melalui kuesioner komprehensif di awal studi dan sepuluh tahun setelahnya. Para peneliti kemudian mengelompokkan pola makan menjadi tiga kategori utama, yakni indeks diet nabati secara keseluruhan, indeks diet nabati sehat, dan indeks diet nabati tidak sehat.

Indeks diet nabati sehat mencakup konsumsi makanan bergizi tinggi seperti biji-bijian utuh, sayur, buah, kacang-kacangan, polong-polongan, minyak nabati, serta minuman seperti teh dan kopi. Sebaliknya, indeks diet nabati tidak sehat mencakup makanan olahan seperti biji-bijian rafinasi, kentang goreng, jus buah dengan tambahan gula, serta makanan tinggi gula tambahan.

Hasilnya menunjukkan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan nabati dalam jumlah tinggi secara umum memiliki risiko demensia 12 persen lebih rendah dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling sedikit.

Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada kualitas makanan. Mereka yang menjalani pola makan nabati sehat tercatat mengalami penurunan risiko demensia sebesar 7 persen. Sebaliknya, konsumsi tinggi makanan nabati tidak sehat justru meningkatkan risiko hingga 6 persen.

Penelitian ini juga menyoroti dampak perubahan pola makan dalam jangka panjang. Penurunan konsumsi makanan nabati sehat secara signifikan dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia hingga 17 persen. Sementara peningkatan konsumsi makanan nabati tidak sehat dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko hingga 25 persen.

Lebih rinci, penurunan konsumsi biji-bijian utuh, kacang-kacangan, minyak nabati, serta teh atau kopi berkaitan dengan peningkatan risiko demensia antara 11 hingga 15 persen. Selain itu, konsumsi gula tambahan juga berkontribusi pada peningkatan risiko sebesar 12 persen.

Temuan lain yang menarik, penurunan konsumsi telur juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia hingga 12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pola makan seimbang yang tetap memasukkan sumber protein hewani dalam jumlah wajar masih memiliki peran penting.

Meski demikian, peneliti mengakui adanya keterbatasan dalam studi ini, seperti penggunaan data klaim Medicare yang kurang akurat dalam mengidentifikasi kasus demensia serta ketergantungan pada ingatan peserta dalam melaporkan pola makan.

Kendati begitu, hasil penelitian ini mempertegas bahwa pola makan berbasis nabati tidak otomatis menyehatkan. Kunci utama terletak pada pemilihan makanan yang berkualitas, minim proses, dan kaya nutrisi untuk menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kemenkop Tegaskan Posisi Manajer Tak Gantikan Pengurus Kopdes

Kemenkop Tegaskan Posisi Manajer Tak Gantikan Pengurus Kopdes

News
| Kamis, 23 April 2026, 17:17 WIB

Advertisement

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Vietnam Terapkan Kartu Kedatangan Digital di Bandara

Wisata
| Rabu, 22 April 2026, 11:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement