Advertisement

Dokter UI: GERD Bisa Sembuh Jika Ubah Gaya Hidup dan Obat Tuntas

Newswire
Jum'at, 06 Maret 2026 - 10:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Dokter UI: GERD Bisa Sembuh Jika Ubah Gaya Hidup dan Obat Tuntas Foto ilustrasi sakit perut. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA— Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi–hepatologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Ari Fahrial Syam, menyebut penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dapat sembuh apabila penderita mengurangi faktor risiko penyebabnya serta menjalani pengobatan hingga tuntas.

“Obatinya tadi menghilangkan gejala juga komplikasi, gaya hidup, kalau dia merokok stop merokok, kalau dia (minum) alkohol juga stop, berat badan penting untuk diturunkan, kemudian diet rendah lemak, jadi ini memang mesti diturunkan,” kata Ari dalam diskusi kesehatan tentang GERD bersama Primaya Hospital di Jakarta, Kamis.

Advertisement

Ia menjelaskan perubahan gaya hidup dengan pola makan yang sehat dapat membantu mengurangi tingkat keparahan GERD. Selain itu, olahraga teratur, menurunkan berat badan agar tidak mengalami obesitas, tidur cukup, serta mengelola stres juga menjadi faktor penting dalam pengendalian penyakit tersebut.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, mayoritas penderita GERD adalah pria berusia di atas 40 tahun yang memiliki kebiasaan merokok dan mengalami obesitas.

Namun, Ari mengungkapkan bahwa saat ini kasus GERD juga mulai banyak ditemukan pada anak-anak. Kondisi ini dipicu oleh pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi keju dan cokelat sejak usia dini, serta kebiasaan tidur setelah makan.

“Makan cokelat keju yang berlebihan sejak kecil, kemudian juga kebiasaan makan langsung tidur. Dan sekarang cenderung anak-anak ini juga kurang bergerak karena gadget, kurangin gadget jadi artinya mereka harus sering di playground,” katanya.

Untuk memastikan diagnosis GERD, dokter biasanya melakukan pemeriksaan endoskopi guna melihat tingkat keparahan luka pada saluran pencernaan serta kondisi katup lambung yang berfungsi menahan naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Menurut Ari, pemeriksaan tersebut penting dilakukan jika pasien mengalami gejala seperti nyeri dada, nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada, hingga muntah berulang.

Selain membantu memastikan diagnosis GERD, endoskopi juga bertujuan mengantisipasi kemungkinan munculnya kanker pada saluran pencernaan akibat luka yang tidak tertangani dengan baik.

Dalam proses pengobatan, pasien juga dapat diberikan obat penekan asam lambung yang harus dikonsumsi hingga terapi selesai. Saat ini, terdapat obat generasi baru dari golongan P-CAB seperti Vonoprazan, Tegoprazan, dan Fexuprazan yang dinilai memberikan harapan baru bagi penderita GERD, terutama yang berkaitan dengan infeksi bakteri Helicobacter pylori.

“Sekarang ini sudah eranya P-CAB. Jadi melihat bahwa memang akhirnya karena kita 20 persen pasien-pasien yang diobatin dengan obat yang sebelumnya itu gagal, jadi ini menjadi harapan buat penderita GERD ada obat baru,” kata Ari.

Ia menambahkan, gejala GERD juga dapat dikurangi dengan menerapkan pola makan teratur, menjaga asupan protein, serta menerapkan pola puasa intermiten.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BPOM Bongkar Peredaran Obat dan Kosmetik Ilegal di Marketplace

BPOM Bongkar Peredaran Obat dan Kosmetik Ilegal di Marketplace

News
| Jum'at, 06 Maret 2026, 13:47 WIB

Advertisement

Catat! Ini Daftar Hari Libur dan Hari Besar April 2026

Catat! Ini Daftar Hari Libur dan Hari Besar April 2026

Wisata
| Kamis, 05 Maret 2026, 22:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement