Prabowo Takziah ke Kediaman Megawati atas Wafatnya Guruh
Presiden Prabowo Subianto bertakziah ke kediaman Megawati atas wafatnya Guruh Soekarnoputra yang meninggal di usia 73 tahun.
Ilustrasi obesitas./Daily Express
Harianjogja.com, JAKARTA–Masyarakat kini diminta lebih peka terhadap perubahan fisik yang tampak sederhana, karena ukuran celana ternyata bisa menjadi indikator paling praktis untuk mendeteksi risiko obesitas sentral.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa penumpukan lemak di area perut sering kali menjadi ancaman tersembunyi yang lebih berbahaya dibandingkan sekadar angka timbangan, mengingat kondisi ini berkaitan erat dengan distribusi lemak yang tidak sehat.
Lonjakan prevalensi obesitas sentral di Indonesia terlihat sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, di mana data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kenaikan dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menegaskan bahwa seseorang sudah masuk kategori risiko jika lingkar perutnya melebihi 90 sentimeter untuk laki-laki dan di atas 80 sentimeter bagi perempuan.
“Kalau kami bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” tegas Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).
Ia menilai banyak orang merasa sehat hanya karena berat badan mereka terlihat normal, padahal lingkar perut yang melewati batas aman sudah cukup untuk memicu berbagai penyakit tidak menular yang mematikan.
Berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis 2025, tercatat sebanyak 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut secara akurat.
Dalam momentum Hari Obesitas Sedunia, Kemenkes memperingatkan bahwa lemak perut yang berlebih memiliki korelasi tinggi terhadap munculnya penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, serangan jantung, hingga risiko stroke yang fatal.
“Kadang orang merasa tidak gemuk, tapi lingkar perutnya sudah di atas batas. Itu yang sering tidak disadari,” kata Nadia terkait fenomena obesitas sentral yang kerap terabaikan oleh masyarakat urban.
Oleh karena itu, pemeriksaan indeks massa tubuh serta pengukuran lingkar perut secara rutin minimal setahun sekali sangat dianjurkan sebagai langkah deteksi dini sebelum komplikasi kesehatan muncul akibat pola hidup yang menetap.
Mengingat obesitas tidak terjadi secara instan melainkan akibat akumulasi gaya hidup buruk dalam jangka panjang, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan perubahan perilaku sejak dini. Langkah preventif yang paling efektif adalah dengan konsisten menjaga pola makan, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta aktif bergerak secara rutin agar risiko gangguan metabolik dapat ditekan dan kesehatan jangka panjang tetap terjaga melalui kontrol ukuran celana secara berkala.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Presiden Prabowo Subianto bertakziah ke kediaman Megawati atas wafatnya Guruh Soekarnoputra yang meninggal di usia 73 tahun.
Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan. Ferran Soriano menegaskan proses hukum masih panjang dan klub akan melawan.
Discord mulai menerapkan verifikasi usia global. Lebih dari 90% pengguna tak perlu unggah ID, tetapi sejumlah fitur akan dibatasi.
Italia menang 4-1 atas Turki di UEFA Nations League. Pio Esposito mencetak gol sekaligus mengukir catatan sejarah bersama Azzurri.
29 September 2026 diperingati sebagai Hari Sarjana Nasional, Hari Jantung Sedunia, hingga Save the Koala Day. Simak enam momen pentingnya.
Prakiraan cuaca DIY Selasa, 29 September 2026: mayoritas cerah berawan, suhu 22–34°C, kelembapan 44–98 persen. Cek rincian per kecamatan.