Advertisement

Waspada Ukuran Celana Naik, Tanda Awal Bahaya Obesitas Sentral

Newswire
Rabu, 04 Maret 2026 - 14:47 WIB
Maya Herawati
Waspada Ukuran Celana Naik, Tanda Awal Bahaya Obesitas Sentral Ilustrasi obesitas. - Daily Express

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA–Masyarakat kini diminta lebih peka terhadap perubahan fisik yang tampak sederhana, karena ukuran celana ternyata bisa menjadi indikator paling praktis untuk mendeteksi risiko obesitas sentral.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan bahwa penumpukan lemak di area perut sering kali menjadi ancaman tersembunyi yang lebih berbahaya dibandingkan sekadar angka timbangan, mengingat kondisi ini berkaitan erat dengan distribusi lemak yang tidak sehat.

Advertisement

Lonjakan prevalensi obesitas sentral di Indonesia terlihat sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, di mana data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan kenaikan dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menegaskan bahwa seseorang sudah masuk kategori risiko jika lingkar perutnya melebihi 90 sentimeter untuk laki-laki dan di atas 80 sentimeter bagi perempuan.

“Kalau kami bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” tegas Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2026).

Ia menilai banyak orang merasa sehat hanya karena berat badan mereka terlihat normal, padahal lingkar perut yang melewati batas aman sudah cukup untuk memicu berbagai penyakit tidak menular yang mematikan.

Berdasarkan data program Cek Kesehatan Gratis 2025, tercatat sebanyak 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut secara akurat.

Dalam momentum Hari Obesitas Sedunia, Kemenkes memperingatkan bahwa lemak perut yang berlebih memiliki korelasi tinggi terhadap munculnya penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, serangan jantung, hingga risiko stroke yang fatal.

“Kadang orang merasa tidak gemuk, tapi lingkar perutnya sudah di atas batas. Itu yang sering tidak disadari,” kata Nadia terkait fenomena obesitas sentral yang kerap terabaikan oleh masyarakat urban.

Oleh karena itu, pemeriksaan indeks massa tubuh serta pengukuran lingkar perut secara rutin minimal setahun sekali sangat dianjurkan sebagai langkah deteksi dini sebelum komplikasi kesehatan muncul akibat pola hidup yang menetap.

Mengingat obesitas tidak terjadi secara instan melainkan akibat akumulasi gaya hidup buruk dalam jangka panjang, masyarakat diimbau untuk mulai melakukan perubahan perilaku sejak dini. Langkah preventif yang paling efektif adalah dengan konsisten menjaga pola makan, membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta aktif bergerak secara rutin agar risiko gangguan metabolik dapat ditekan dan kesehatan jangka panjang tetap terjaga melalui kontrol ukuran celana secara berkala.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Gantikan Sang Ayah, Mojtaba Jadi Calon Kuat Pemimpin Baru Iran

Gantikan Sang Ayah, Mojtaba Jadi Calon Kuat Pemimpin Baru Iran

News
| Rabu, 04 Maret 2026, 14:57 WIB

Advertisement

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Festival Imlek Nasional 2026 Pecahkan Rekor Dunia Lontong Cap Go Meh

Wisata
| Minggu, 01 Maret 2026, 22:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement