Jelang DCF XVI, Harga Homestay Dieng Diminta Wajar
Jelang DCF 2026, pengelola homestay Dieng diminta tak menaikkan harga berlebihan demi menjaga citra wisata.
Rokok - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA–Ibadah puasa di bulan suci Ramadan dinilai menjadi peluang emas bagi para pecandu rokok untuk mengakhiri ketergantungan mereka secara total. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan bahwa durasi menahan diri dari fajar hingga magrib merupakan latihan nyata bahwa tubuh sebenarnya mampu berfungsi optimal tanpa asupan nikotin.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut menjelaskan bahwa asap rokok membawa ribuan senyawa kimia berbahaya, di mana ratusan di antaranya bersifat toksik dan memicu puluhan jenis penyakit kronis.
Menurutnya, momentum bulan suci Ramadan tahun ini harus dimanfaatkan untuk membersihkan paru-paru, mengingat zat beracun tersebut berdampak buruk pada kesehatan organ tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya,” tegas Prof. Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3/2026).
Ia juga menyoroti aspek etika beribadah, di mana asap rokok sering kali menimbulkan gangguan bagi orang lain, sehingga penghentian kebiasaan ini selaras dengan semangat menjaga kenyamanan sesama selama menjalankan rukun Islam.
Lebih lanjut, Adjunct Professor Griffith University ini mematahkan anggapan keliru bahwa seseorang baru bisa bekerja atau beraktivitas setelah mengisap rokok. Faktanya, selama bulan puasa, para perokok terbukti tetap produktif dari pagi hingga sore hari meski tanpa tembakau, yang sekaligus membuktikan bahwa ketergantungan tersebut hanyalah sugesti yang bisa dikendalikan dengan niat kuat untuk berhenti merokok di bulan Ramadan.
Prof. Tjandra juga memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak berbuka puasa dengan merokok, karena hal itu justru memperparah kondisi tubuh yang sedang lemah setelah seharian tidak makan dan minum.
Alih-alih menyalakan rokok, waktu berbuka sebaiknya diisi dengan asupan nutrisi dan makanan bergizi, sehingga kebiasaan positif tersebut dapat berlanjut secara konsisten bahkan setelah bulan suci berakhir demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan jangka panjang.
Manfaat kesehatan yang didapat dari berhenti merokok di bulan Ramadan akan sangat terasa bagi kehidupan pribadi maupun orang-orang di sekitar, mengingat ketagihan zat kimia tersebut secara empiris sudah bisa diredam selama belasan jam setiap harinya.
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes itu menambahkan bahwa keberhasilan menahan diri hingga waktu sahur berikutnya akan menjadi modal utama untuk meninggalkan rokok selamanya dan menciptakan pola hidup baru yang lebih bersih serta bebas dari risiko penyakit paru maupun gangguan jantung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Jelang DCF 2026, pengelola homestay Dieng diminta tak menaikkan harga berlebihan demi menjaga citra wisata.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.
Australia memperketat larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dengan menaikkan denda hingga Rp1,1 triliun dan memperluas pengawasan.
Simak lima fakta menarik Tanjung Verde, debutan Piala Dunia 2026 yang sukses lolos ke babak 32 besar dan akan menghadapi Argentina.