Gempa Kolombia, Korban Tewas Terus Bertambah Menjadi 190 Orang
Korban gempa Kolombia bertambah menjadi 190 orang. Sebanyak 1.679 orang terluka dan ratusan masih terjebak di bawah reruntuhan.
Rokok - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA–Ibadah puasa di bulan suci Ramadan dinilai menjadi peluang emas bagi para pecandu rokok untuk mengakhiri ketergantungan mereka secara total. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan bahwa durasi menahan diri dari fajar hingga magrib merupakan latihan nyata bahwa tubuh sebenarnya mampu berfungsi optimal tanpa asupan nikotin.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut menjelaskan bahwa asap rokok membawa ribuan senyawa kimia berbahaya, di mana ratusan di antaranya bersifat toksik dan memicu puluhan jenis penyakit kronis.
Menurutnya, momentum bulan suci Ramadan tahun ini harus dimanfaatkan untuk membersihkan paru-paru, mengingat zat beracun tersebut berdampak buruk pada kesehatan organ tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya,” tegas Prof. Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3/2026).
Ia juga menyoroti aspek etika beribadah, di mana asap rokok sering kali menimbulkan gangguan bagi orang lain, sehingga penghentian kebiasaan ini selaras dengan semangat menjaga kenyamanan sesama selama menjalankan rukun Islam.
Lebih lanjut, Adjunct Professor Griffith University ini mematahkan anggapan keliru bahwa seseorang baru bisa bekerja atau beraktivitas setelah mengisap rokok. Faktanya, selama bulan puasa, para perokok terbukti tetap produktif dari pagi hingga sore hari meski tanpa tembakau, yang sekaligus membuktikan bahwa ketergantungan tersebut hanyalah sugesti yang bisa dikendalikan dengan niat kuat untuk berhenti merokok di bulan Ramadan.
Prof. Tjandra juga memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak berbuka puasa dengan merokok, karena hal itu justru memperparah kondisi tubuh yang sedang lemah setelah seharian tidak makan dan minum.
Alih-alih menyalakan rokok, waktu berbuka sebaiknya diisi dengan asupan nutrisi dan makanan bergizi, sehingga kebiasaan positif tersebut dapat berlanjut secara konsisten bahkan setelah bulan suci berakhir demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan jangka panjang.
Manfaat kesehatan yang didapat dari berhenti merokok di bulan Ramadan akan sangat terasa bagi kehidupan pribadi maupun orang-orang di sekitar, mengingat ketagihan zat kimia tersebut secara empiris sudah bisa diredam selama belasan jam setiap harinya.
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes itu menambahkan bahwa keberhasilan menahan diri hingga waktu sahur berikutnya akan menjadi modal utama untuk meninggalkan rokok selamanya dan menciptakan pola hidup baru yang lebih bersih serta bebas dari risiko penyakit paru maupun gangguan jantung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Korban gempa Kolombia bertambah menjadi 190 orang. Sebanyak 1.679 orang terluka dan ratusan masih terjebak di bawah reruntuhan.
Prabowo meresmikan 3.395 jembatan TNI-Polri dan 3.000 sumber air bersih TNI AD di seluruh Indonesia pada 13 Agustus 2026.
Gempa Kolombia menewaskan 265 orang dan merusak 53.526 rumah. Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat ekonomi.
DPRD Kulonprogo meminta Pemkab menyiapkan solusi permanen kekeringan, termasuk pemetaan wilayah dan pembangunan sumber air alternatif.
BPKAD Kota Jogja mengembangkan SIAP, sistem pengingat digital untuk mendorong penarikan APBD tepat waktu dan mencegah penumpukan.
Iran menolak menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi tuntutan terkait perang, aset, dan gencatan senjata.