Advertisement
Psikiater Ungkap Cara Mengatasi Kebiasaan Makan Saat Stres
Foto ilustrasi ngemil / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kebiasaan makan saat stres atau stress eating sering terjadi tanpa disadari dan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental jika berlangsung terus-menerus. Psikiater menegaskan bahwa memahami pemicu emosi dan membangun pola makan teratur menjadi kunci utama untuk mengendalikan kebiasaan makan saat stres tersebut.
Kebiasaan makan saat stres kerap muncul pada situasi penuh tekanan, seperti menjelang ujian atau sebelum presentasi penting. Kondisi ini membuat seseorang makan secara impulsif meskipun sebenarnya tidak merasa lapar secara fisik. Fenomena yang dikenal sebagai emotional eating ini merupakan respons emosional yang umum terjadi, tetapi jika menjadi kebiasaan dapat merugikan kesehatan.
Advertisement
Dr. Vineet Pali, psikiater di Maarga Mind Care, Gurgaon, India, seperti dikutip dari Hindustan Times Jumat (26/2/2026) menjelaskan bahwa menggunakan makanan sebagai pelarian emosi bukanlah mekanisme koping yang sehat dalam jangka panjang.
"Mengonsumsi makanan enak sesekali adalah hal manusiawi yang tidak berbahaya, namun mengandalkan makanan sebagai mekanisme koping utama dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan kesejahteraan emosional," katanya.
BACA JUGA
Menurutnya, kebiasaan makan saat stres sebaiknya tidak ditekan secara paksa, tetapi perlu dipahami akar penyebabnya agar bisa dikelola dengan lebih sehat. Salah satu langkah penting adalah mengenali perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional sebelum seseorang memutuskan untuk makan.
Lapar emosional biasanya muncul secara tiba-tiba dan disertai keinginan kuat terhadap makanan tertentu, terutama makanan manis atau asin. Sebaliknya, lapar fisik berkembang secara bertahap dan dapat dipenuhi dengan berbagai jenis makanan seimbang. Selain stres, perasaan bosan dan kesepian juga sering menjadi pemicu seseorang makan tanpa kontrol.
Menciptakan jeda antara emosi dan tindakan juga dapat membantu mengurangi dorongan tersebut. Aktivitas sederhana seperti latihan pernapasan singkat, berjalan sebentar, atau memberi waktu jeda beberapa menit sebelum makan dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih rasional.
Psikiater tersebut juga menekankan pentingnya memiliki alternatif cara mengelola emosi selain makanan. Tujuannya bukan membatasi diri secara ekstrem, tetapi memperluas pilihan cara mengatasi stres agar makanan tidak selalu menjadi respons otomatis.
Kadar Hormon Stres
Aktivitas fisik ringan, peregangan tubuh, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau berbicara dengan teman terpercaya dapat membantu menurunkan kadar hormon stres kortisol secara alami.
Selain faktor emosional, pola makan yang tidak teratur juga meningkatkan risiko stress eating. Melewatkan waktu makan atau menjalani diet terlalu ketat dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap keinginan makan berlebihan ketika tekanan muncul. Oleh karena itu, menjaga jadwal makan dengan menu seimbang yang mengandung protein, serat, dan lemak sehat sangat penting untuk stabilitas energi dan emosi.
Perencanaan makan atau meal planning juga dapat membantu mengurangi keputusan impulsif saat seseorang berada dalam kondisi stres tinggi. Dengan pola makan teratur dan pengelolaan emosi yang tepat, kebiasaan makan saat stres dapat dikendalikan sekaligus mendukung kesehatan mental dan fisik secara menyeluruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Hindustan Times
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Perang Sarung di Grobogan Berujung Maut, Enam Remaja Ditahan
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







