Dunia Dosen Gelar RPS OBE Masterclass, Tingkatkan Kualitas Pembelajar
Dunia Dosen menghadirkan RPS OBE Masterclass untuk membantu dosen menyusun RPS berbasis Outcome-Based Education secara terukur dan siap akreditasi.
Kelelahan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kekurangan zat besi masih menjadi persoalan kesehatan yang sering luput dikenali karena gejalanya muncul perlahan dan kerap tidak terasa. Padahal, kondisi ini dapat berdampak pada kualitas aktivitas harian hingga berkembang menjadi anemia jika tidak ditangani sejak dini.
Dikutip dari Eatingwell, defisiensi zat besi dapat terjadi dalam spektrum yang luas, mulai dari gejala ringan, menengah, hingga anemia sebagai kondisi paling berat. Dalam tahap lanjut, kekurangan zat besi berpotensi mengganggu fungsi tubuh secara menyeluruh dan memengaruhi produktivitas sehari-hari.
Sejumlah tanda fisik dan psikologis berikut perlu diwaspadai sebagai indikasi tubuh kekurangan zat besi. Mengenali gejala sejak awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang lebih serius.
Gejala paling umum adalah rasa lelah yang muncul terus-menerus. Jika tubuh kerap merasa kelelahan dalam beberapa waktu terakhir tanpa sebab yang jelas, kondisi tersebut bisa menjadi sinyal defisiensi zat besi dan sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan.
Rasa mudah kedinginan juga dapat menjadi petunjuk. Kekurangan zat besi dapat menghambat kerja tiroid serta hormon tiroid yang berperan penting dalam mengatur suhu tubuh, sehingga penderita lebih sensitif terhadap udara dingin.
Sesak napas saat beraktivitas, termasuk ketika rutin berolahraga, juga patut diperhatikan. Zat besi berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sehingga kadar zat besi yang rendah membuat tubuh kesulitan memenuhi kebutuhan oksigen saat menjalani aktivitas kardio.
Perubahan emosi berupa mudah tersinggung menjadi gejala lain yang kerap terabaikan. Sebuah penelitian menunjukkan remaja dengan defisiensi zat besi atau anemia cenderung mengalami tingkat iritabilitas lebih tinggi dibandingkan remaja dengan kondisi kesehatan normal.
Dari sisi fisik, rambut yang menipis dan rapuh dapat menjadi tanda lanjutan. Rontok sebanyak 50–100 helai per hari masih tergolong normal, namun jika jumlahnya melebihi itu, kondisi tersebut bisa mengindikasikan kekurangan zat besi.
Gangguan suasana hati seperti depresi dan kecemasan juga dikaitkan dengan rendahnya kadar zat besi. Zat besi berperan sebagai komponen penting dalam kerja neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin, sehingga kekurangannya dapat memengaruhi kestabilan emosi.
Selain itu, kekurangan zat besi juga berkaitan dengan kondisi peradangan tertentu. Bagi individu yang memiliki gangguan radang usus, konsultasi mengenai kadar zat besi menjadi langkah penting karena kondisi tersebut dapat memengaruhi penyerapan nutrisi dan memperparah defisiensi zat besi yang dialami.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Dunia Dosen menghadirkan RPS OBE Masterclass untuk membantu dosen menyusun RPS berbasis Outcome-Based Education secara terukur dan siap akreditasi.
Pakar Forensika Digital UII menilai markas judi online internasional di Jakarta menjadi ancaman serius cybercrime bagi Indonesia.
Long weekend 14–17 Mei 2026 di Jogja dipenuhi agenda wisata, budaya, dan event menarik. Simak rekomendasi lengkapnya di sini.
Pemkab Bantul turunkan tarif pantai barat jadi Rp5.000 per destinasi mulai Juli 2026. Skema baru dinilai lebih adil bagi wisatawan.
Nadiem Makarim dituntut 18 tahun penjara dalam kasus korupsi Chromebook Rp2,18 triliun. Jaksa juga minta denda dan uang pengganti.
KID DIY fokus pada penguatan informasi kebencanaan hingga tingkat kelurahan. Sistem terpadu disiapkan untuk cegah simpang siur saat darurat.