Advertisement

Psikologi Parenting: Memahami Ledakan Emosi Anak Sejak Dini

Maya Herawati
Rabu, 21 Januari 2026 - 20:07 WIB
Maya Herawati
Psikologi Parenting: Memahami Ledakan Emosi Anak Sejak Dini Anak/anak. / Ilustrasi dibuat oleh Artificial Intelligence

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam sudut pandang psikologi anak, pertengkaran masa kecil bukanlah drama berlebihan, melainkan ekspresi emosional yang wajar pada fase perkembangan tertentu.

Apa yang dulu terasa sangat besar, kini justru bisa dipahami sebagai proses belajar mengenali diri dan dunia sekitar. Berikut ini penjelasannya seperti dikutip dari The Times of India, Rabu (21/1/2026)

Advertisement

Dunia Anak yang Belum Mengenal Gambaran Besar

Bagi anak-anak, pertengkaran bukan sekadar peristiwa sesaat. Segelas jus yang tumpah, pintu yang dibanting karena barang disentuh tanpa izin, atau keheningan beberapa menit dapat terasa seperti krisis besar. Anak belum memiliki kemampuan kognitif untuk melihat konteks yang lebih luas. Saat itu, satu peristiwa menjadi seluruh dunia yang mereka pahami.

Dalam psikologi perkembangan, anak memang belum mampu memisahkan emosi dari situasi. Ketidakadilan kecil langsung diterjemahkan sebagai pengalaman emosional yang menyeluruh dan mendesak.

Emosi Datang Lebih Dulu daripada Logika

Pada masa kanak-kanak, emosi hadir tanpa jeda. Penolakan sederhana bisa dimaknai sebagai pengabaian, sementara kata “tidak” terdengar sangat personal. Anak belum memiliki jarak emosional untuk menyadari bahwa rasa marah atau sedih akan berlalu.

Dari kacamata psikologi, reaksi ini bukanlah bentuk berlebihan, melainkan keterbatasan alat regulasi emosi. Anak bereaksi dengan cara terbaik yang mereka miliki pada usia tersebut.

Pertengkaran Keluarga yang Terasa Menyerang Pribadi

Konflik di dalam rumah sering kali terasa paling berat bagi anak. Aturan soal waktu tidur, screen time, atau tugas rumah yang diputuskan sepihak dapat memicu perasaan tidak didengar. Anak merasa terpojok, sementara orang tua merasa sudah bersikap logis dan bertanggung jawab.

Sesungguhnya, konflik ini jarang tentang aturan itu sendiri. Lebih dalam, anak sedang memperjuangkan rasa diakui, ingin dianggap mampu mengambil keputusan, dan ingin diperlakukan sebagai individu yang bermakna.

Ketika dilihat bertahun-tahun kemudian, pertengkaran keluarga tidak mengecil, melainkan menjadi lebih jelas. Orang tua berupaya menjaga struktur dan keamanan, sementara anak sedang belajar membangun otonomi. Psikologi menyebut ini sebagai benturan kebutuhan yang sama-sama valid, tetapi disampaikan dengan bahasa emosional yang berbeda.

Persaingan yang Sarat Emosi

Pertengkaran antar saudara memiliki dinamika unik. Hal kecil seperti pensil yang dipinjam atau camilan yang hilang bisa memicu konflik besar. Harga diri anak sangat sensitif, dan permintaan maaf terasa seperti kekalahan.

Di balik konflik tersebut, tersembunyi kebutuhan psikologis akan perhatian, ruang, dan keadilan. Hidup dalam kedekatan membuat gesekan sulit dihindari, dan perdamaian sering datang tanpa seremoni, melalui tawa atau lupa pada pemicu awal.

Pertengkaran di Lingkar Persahabatan Anak

Di luar rumah, konflik di taman bermain atau lingkungan pertemanan terasa lebih kacau. Giliran bermain yang terlewat atau candaan yang salah sasaran dapat memutus hubungan secara dramatis. Pada usia ini, persahabatan terasa sangat menentukan harga diri.

Psikologi melihat fase ini sebagai proses belajar sosial. Anak sedang memahami batas, rekonsiliasi, dan makna kedekatan, meski sering dibungkus emosi yang berlebihan dan canggung.

Makna yang Tumbuh Saat Dewasa

Waktu tidak menghapus ingatan pertengkaran masa kecil, tetapi mengubah maknanya. Konflik yang dulu terasa tragis kini menjadi penanda kebutuhan emosional yang belum terucap. Kebutuhan itu tidak hilang, hanya berevolusi seiring kedewasaan.

Melihat kembali pertengkaran tersebut tanpa terburu-buru menghakimi memberi pemahaman baru. Dari sudut pandang parenting dan psikologi, pertengkaran masa kecil adalah cara anak belajar menyuarakan kepentingan, menuntut ruang, dan mengenali emosi, dengan cara yang belum rapi, tetapi jujur. Jika diingat kembali, bukan kemarahannya yang melekat, melainkan keaslian perasaan di dalamnya, ketika didengar terasa jauh lebih penting daripada menjadi benar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : The Times of India

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Potongan Jenazah Korban Ketiga Pesawat ATR IAT Ditemukan

Potongan Jenazah Korban Ketiga Pesawat ATR IAT Ditemukan

News
| Rabu, 21 Januari 2026, 22:17 WIB

Advertisement

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai

Wisata
| Senin, 19 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement