Advertisement
Psikolog Ungkap Faktor yang Membuat Orang Mudah Marah saat Kecewa
Foto ilustrasi menangis. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Cara seseorang merespons kekecewaan tidak muncul begitu saja. Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang mampu menghadapi kekecewaan secara sehat atau justru bereaksi secara impulsif.
Kemampuan mengelola emosi tersebut, menurut Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, sangat menentukan bagaimana seseorang memahami dan menyalurkan perasaannya ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Individu yang mampu mengendalikan emosi biasanya dapat mengenali apa yang dirasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Advertisement
"Orang yang mampu merespons kekecewaan secara lebih sehat umumnya dapat mengenali apa yang ia rasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, Kamis (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola emosi kerap berkaitan erat dengan pengalaman masa kecil serta lingkungan keluarga tempat individu tersebut tumbuh.
BACA JUGA
Anak yang sejak kecil dibiasakan menenangkan diri saat marah dan diberi ruang aman untuk mengungkapkan perasaan cenderung memiliki kemampuan pengelolaan emosi yang lebih baik. Kondisi tersebut membuat mereka lebih mampu menghadapi kekecewaan dengan cara yang sehat dan terkontrol.
Sebaliknya, individu yang kesulitan memahami atau mengendalikan emosi berpotensi lebih besar menunjukkan respons agresif ketika menghadapi situasi yang memicu kekecewaan.
Menghadapi Kekecewaan
Ratih menuturkan bahwa saat seseorang menghadapi kekecewaan, perasaan sedih atau terluka dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan. Reaksi tersebut kerap muncul sebagai mekanisme perlindungan diri. Dalam beberapa kasus, kemarahan dipilih sebagai cara paling cepat untuk melampiaskan ketidaknyamanan emosional.
Selain pengalaman hidup, kondisi psikologis tertentu juga dapat memengaruhi respons seseorang terhadap tekanan. Stres berkepanjangan, kelelahan mental, hingga pengalaman trauma disebut dapat memperbesar kemungkinan seseorang bereaksi secara emosional.
"Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi situasi yang memicu frustrasi," ujarnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog menyampaikan bahwa kemampuan mengelola emosi sebenarnya tidak terbentuk secara otomatis, melainkan perlu dilatih sejak usia dini baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan.
Ia menilai bahwa sistem pendidikan selama ini cenderung lebih menitikberatkan pada kepatuhan terhadap instruksi dibandingkan melatih kemampuan peserta didik untuk berdialog, memahami emosi, serta mengambil keputusan secara mandiri.
"Padahal kemampuan berpikir kritis dan mengelola emosi itu harus dilatih terus. Kalau tidak, seseorang akan lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi tekanan," katanya.
Novi juga menyoroti pengaruh media sosial yang semakin intens dalam kehidupan sehari-hari. Paparan konten yang terus-menerus dinilai dapat memicu respons emosional yang lebih cepat, terutama jika kemampuan pengendalian diri tidak terlatih dengan baik.
Menurutnya, algoritma media sosial sering kali mendorong orang untuk merespons secara cepat dan emosional, sehingga kebiasaan mengambil jeda untuk berpikir sebelum bereaksi menjadi semakin jarang dilakukan.
"Kalau kemampuan berpikirnya kuat, seseorang masih bisa menunda keputusan. Tapi kalau tidak, emosi lebih mudah mengambil alih," katanya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang merespons kekecewaan, terutama ketika tekanan emosional datang dari berbagai faktor seperti pengalaman hidup, kondisi mental, maupun paparan lingkungan digital yang semakin intens.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Viral Influencer Kena Campak Tetap Keluar Rumah, Ini Kata Kemenkes
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Cuaca Ekstrem Terjang Gunungkidul, Kerugian Material Capai Rp99 Juta
- Waspada Bibit Siklon 90S, BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Terjang DIY
- Dishub Kulonprogo Prediksi Arus Mudik Lebaran 2026 Lancar Terkendali
- Posko Aduan THR Dibuka di Bantul, 1 Kasus Tahun Lalu Belum Tuntas
- RSUD Sleman Targetkan Pendapatan Rp152 Miliar pada 2026
Advertisement
Advertisement







