111 Korban KM Mutiara Sentosa II Tiba di Tanjung Perak, Ini Kondisinya
111 penyintas KM Mutiara Sentosa II tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Berikut kondisi korban dan update terbaru proses evakuasi.
Foto ilustrasi menangis. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Cara seseorang merespons kekecewaan tidak muncul begitu saja. Psikolog klinis Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog menjelaskan bahwa kemampuan mengelola emosi menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang mampu menghadapi kekecewaan secara sehat atau justru bereaksi secara impulsif.
Kemampuan mengelola emosi tersebut, menurut Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, sangat menentukan bagaimana seseorang memahami dan menyalurkan perasaannya ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Individu yang mampu mengendalikan emosi biasanya dapat mengenali apa yang dirasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
"Orang yang mampu merespons kekecewaan secara lebih sehat umumnya dapat mengenali apa yang ia rasakan, menahan rasa tidak nyaman, serta mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain," kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu, Kamis (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dalam mengelola emosi kerap berkaitan erat dengan pengalaman masa kecil serta lingkungan keluarga tempat individu tersebut tumbuh.
Anak yang sejak kecil dibiasakan menenangkan diri saat marah dan diberi ruang aman untuk mengungkapkan perasaan cenderung memiliki kemampuan pengelolaan emosi yang lebih baik. Kondisi tersebut membuat mereka lebih mampu menghadapi kekecewaan dengan cara yang sehat dan terkontrol.
Sebaliknya, individu yang kesulitan memahami atau mengendalikan emosi berpotensi lebih besar menunjukkan respons agresif ketika menghadapi situasi yang memicu kekecewaan.
Menghadapi Kekecewaan
Ratih menuturkan bahwa saat seseorang menghadapi kekecewaan, perasaan sedih atau terluka dapat dengan cepat berubah menjadi kemarahan. Reaksi tersebut kerap muncul sebagai mekanisme perlindungan diri. Dalam beberapa kasus, kemarahan dipilih sebagai cara paling cepat untuk melampiaskan ketidaknyamanan emosional.
Selain pengalaman hidup, kondisi psikologis tertentu juga dapat memengaruhi respons seseorang terhadap tekanan. Stres berkepanjangan, kelelahan mental, hingga pengalaman trauma disebut dapat memperbesar kemungkinan seseorang bereaksi secara emosional.
"Faktor-faktor tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi situasi yang memicu frustrasi," ujarnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si, Ph.D., Psikolog menyampaikan bahwa kemampuan mengelola emosi sebenarnya tidak terbentuk secara otomatis, melainkan perlu dilatih sejak usia dini baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan.
Ia menilai bahwa sistem pendidikan selama ini cenderung lebih menitikberatkan pada kepatuhan terhadap instruksi dibandingkan melatih kemampuan peserta didik untuk berdialog, memahami emosi, serta mengambil keputusan secara mandiri.
"Padahal kemampuan berpikir kritis dan mengelola emosi itu harus dilatih terus. Kalau tidak, seseorang akan lebih mudah bereaksi secara impulsif ketika menghadapi tekanan," katanya.
Novi juga menyoroti pengaruh media sosial yang semakin intens dalam kehidupan sehari-hari. Paparan konten yang terus-menerus dinilai dapat memicu respons emosional yang lebih cepat, terutama jika kemampuan pengendalian diri tidak terlatih dengan baik.
Menurutnya, algoritma media sosial sering kali mendorong orang untuk merespons secara cepat dan emosional, sehingga kebiasaan mengambil jeda untuk berpikir sebelum bereaksi menjadi semakin jarang dilakukan.
"Kalau kemampuan berpikirnya kuat, seseorang masih bisa menunda keputusan. Tapi kalau tidak, emosi lebih mudah mengambil alih," katanya.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana seseorang merespons kekecewaan, terutama ketika tekanan emosional datang dari berbagai faktor seperti pengalaman hidup, kondisi mental, maupun paparan lingkungan digital yang semakin intens.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
111 penyintas KM Mutiara Sentosa II tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Berikut kondisi korban dan update terbaru proses evakuasi.
Polres Karanganyar menghentikan penyelidikan dugaan MinyaKita berbau solar setelah uji laboratorium memastikan tidak ada kandungan solar maupun minyak tanah.
Gempa magnitudo 5,3 mengguncang Ismailia, Mesir. Belum ada laporan korban, sementara pemerintah mengaktifkan tanggap darurat dan rumah sakit bersiaga.
Bantul menargetkan angka kemiskinan turun di bawah 10 persen pada 2026. Sebanyak 103 program disiapkan dengan dukungan pembaruan DTSEN.
Korlantas Polri dan Jasa Marga memperkuat pengawasan kendaraan ODOL melalui integrasi ETLE, RFID, dan WIM menjelang penerapan Zero ODOL awal 2027.
WMO memprediksi El Nino menguat pada Agustus-Oktober 2026 dan berpotensi memicu suhu di atas normal, kekeringan, banjir, serta kebakaran hutan.