Advertisement
Psikiater Ungkap Dampak Libur Panjang pada Kesehatan Mental Anak
Foto ilustrasi anak/anak Indonesia dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Masa kembali ke sekolah seusai libur panjang kerap memicu gejolak emosional pada anak, namun sering keliru dimaknai sebagai kemalasan semata. Psikiater anak Dr. Shorouq Motwani, Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja asal India, menilai fase ini sebagai momen krusial kesehatan mental anak, ketika transisi, tekanan akademik, dan perubahan ritme hidup bertemu dalam waktu singkat.
Seusai dikutip dari The Times of India, Shorouq menuturkan bahwa Januari sering dianggap sebagai bulan “reset” bagi orang dewasa. Namun, di klinik kesehatan mental anak, realitasnya berbeda. Dalam minggu-minggu seusai musim liburan, psikiater anak melihat perubahan halus namun signifikan pada pasien muda, perubahan yang kerap dianggap sebagai bad mood biasa, padahal mencerminkan tekanan emosional yang nyata.
Advertisement
Istilah populer seperti “Blue Monday” tidak sepenuhnya mewakili situasi ini. Gangguan emosional pada anak bukan soal satu hari, melainkan tentang transisi, tekanan, serta terganggunya rutinitas yang memuncak seusai liburan berakhir.
Pergeseran Emosional Pasca Liburan
BACA JUGA
Musim liburan memberi anak jeda dari rutinitas harian: tidur larut malam, waktu layar lebih lama, batasan yang longgar, dan tanpa tugas sekolah. Namun, ketika kembali ke sekolah dengan struktur yang ketat, banyak anak kesulitan masuk kembali ke “zona” belajar. Dalam praktik klinis, dokter kerap menemukan anak menjadi lebih mudah tersinggung, mengalami perubahan suasana hati, atau menunjukkan ledakan emosi yang sebelumnya jarang muncul.
Perubahan ini sering diikuti menurunnya motivasi atau keengganan berangkat ke sekolah, disertai keluhan lelah meskipun durasi tidur dianggap cukup. Pada sebagian anak, kondisi tersebut tampak dari berkurangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya mereka sukai. Pada remaja, gejala ini kerap berkembang menjadi penarikan diri sosial atau lonjakan kecemasan yang tiba-tiba, terutama terkait performa akademik.
Tekanan Akademik dan Kecemasan Performa
Januari lazim bertepatan dengan masa ujian dan penilaian. Dalam fase ini, banyak anak memendam ekspektasi orang tua, guru, dan diri sendiri tanpa mampu mengekspresikan stres yang mereka rasakan. Di ruang praktik, psikiater anak sering mendapati anak menjadi sangat kritis terhadap dirinya sendiri, merasa tidak pernah cukup baik, dan terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Tekanan tersebut mendorong sebagian anak menghindari tugas sekolah karena takut gagal, bahkan sebelum mencoba. Pada saat yang sama, stres emosional itu kerap muncul dalam bentuk keluhan psikosomatis, seperti sakit kepala atau sakit perut, yang tidak selalu memiliki penyebab medis jelas. Tanda-tanda ini merupakan sinyal emosional, bukan sekadar masalah perilaku, sehingga membutuhkan perhatian dan dukungan, bukan hukuman.
Peran Tidur, Layar, dan Sinar Matahari
Musim hujan di wilayah tropis membawa hari yang lebih pendek dan berkurangnya aktivitas luar ruang. Selama masa libur, siklus tidur anak sering terganggu akibat paparan layar yang berlebihan, baik dari gawai maupun televisi. Kondisi tersebut berdampak langsung karena kurang tidur memengaruhi emosi, konsentrasi, dan daya ingat anak.
Pada kelompok remaja, pola tidur yang tidak teratur bahkan dapat memperburuk gejala kecemasan dan depresi, termasuk pada mereka yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan mental. Perubahan sederhana pada jam tidur dapat membawa efek besar terhadap stabilitas emosi dan kesiapan belajar.
Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Suasana hati rendah sementara saat penyesuaian adalah hal wajar. Namun, orang tua disarankan mencari bantuan profesional bila kondisi tersebut bertahan lebih dari dua hingga tiga minggu, mulai mengganggu kehadiran di sekolah atau fungsi harian, serta disertai penarikan diri, rasa putus asa, atau perubahan nafsu makan.
Kewaspadaan menjadi lebih mendesak apabila muncul pembicaraan tentang menyakiti diri sendiri atau perasaan tidak berharga, karena hal ini menandakan tekanan emosional yang lebih dalam dan membutuhkan penanganan segera.
Cara Orang Tua Mendukung Kesejahteraan Emosional
Dukungan orang tua tidak harus besar atau rumit. Membangun kembali rutinitas dengan menetapkan jadwal tidur dan makan yang teratur membantu anak menemukan kembali ritme hariannya. Upaya ini dapat diperkuat dengan mendorong gerak fisik dan aktivitas luar ruang yang memicu produksi hormon kebahagiaan.
Di sisi lain, pembatasan penggunaan layar, terutama menjelang waktu tidur, penting untuk memulihkan kualitas istirahat. Yang tak kalah krusial, orang tua perlu menciptakan ruang aman untuk berbicara secara terbuka tanpa menghakimi, serta menghindari kalimat yang meremehkan perasaan anak, seperti menyebutnya sekadar “fase”.
Kesehatan mental anak bukan semata soal diagnosis, tetapi tentang menumbuhkan ketangguhan dalam menghadapi perubahan. Dalam fase seusai libur panjang ini, kesehatan mental anak membutuhkan perhatian setara dengan prestasi akademik, terutama ketika ritme hidup kembali mengencang dan tuntutan sekolah mulai padat.
"Januari adalah waktu di mana mendengarkan anak Anda menjadi lebih penting daripada sekadar mengoreksi perilaku mereka," kata Shorouq Motwani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : The Times of India
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sudewo di Pusaran Kontroversi: Nyaris Dimakzulkan hingga Terjaring OTT
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Wisatawan Asal Pekalongan Terseret Ombak di Pantai Siung Gunungkidul
- Ribuan Umat Hindu Padati Prambanan Shiva Festival 2026
- DPRD DIY Nilai Legalitas KDMP Kunci Sukses Program MBG
- Tradisi Sumber Rejo di Clapar Kulonprogo Terjaga Sejak Ratusan Tahun
- Arus Balik Long Weekend, 30 Ribu Penumpang Padati Daop 6 Jogja
Advertisement
Advertisement



