Advertisement
Melihat Negara Paling Bahagia di Dunia, Indonesia Posisi Ke-83

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—World Happiness Report 2025 dari Gallup melaporkan negara-negara yang paling bahagia di dunia. Di peringkat teratas negara paling bahagia di dunia, negara-negara kawasan Nordik menguasai. Indeks kebahagiaan ini dapat digunakan untuk mengukur perbedaan kualitas hidup antarnegara.
Gallup rutin menyebar survei untuk menilai kebahagiaan masyarakat di berbagai belahan dunia. Mereka melibatkan 1.000 responden per negara per tahun. Responden diminta menilai tingkat kebahagiaannya dari skala 0-10, semakin tinggi nilainya berarti semakin bahagia responden di negara tersebut.
Advertisement
Negara Nordik mendominasi posisi teratas negara paling bahagia di dunia, mulai dari Finlandia, Denmark, Islandia, hingga Swedia yang mengisi empat posisi teratas. Sebaliknya, negara paling tidak bahagia di dunia saat ini diisi oleh Afghanistan dengan skor 1,364, diikuti oleh Sierra Leone dengan 2,998 poin dan Lebanon dengan 3,186 poin.
BACA JUGA: Perempuan Lajang Lebih Bahagia dari Laki-Laki Lajang
Adapun skor ini diperoleh dari rata-rata skor hasil survei selama tiga tahun terakhir, dari 2022 hingga 2024. "Pemeringkatan tahun 2025 didasarkan pada data gabungan tahun 2022 hingga 2024. Dengan total sampel 3.000 responden per negara selama tiga tahun, estimasi yang diberikan lebih akurat dan mengurangi kesalahan dalam pengambilan sampel acak," tulis dalam laporan tersebut.
Posisi Indonesia
Indonesia berada di posisi ke-83 secara global dari 147 sebagai negara paling bahagia di dunia. Skor Indonesia sebesar 5,617 poin. Di kawasan Asia Tenggara, posisi Indonesia berada di tengah-tengah, ada yang lebih baik, ada pula yang lebih buruk.
Singapura menjadi negara paling bahagia di Asia Tenggara, dengan skor 6,565 poin. Singapura berada di posisi ke-34 secara global. Sementara itu, Myanmar jadi negara dengan indeks kebahagiaan terendah, di angka 4,321, setara peringkat ke-126 global.
Tingkat kebahagiaan secara tidak langsung mengukur kepuasan dan kualitas hidup suatu warga negara. Indonesia dengan skor 5,617 menunjukkan bahwa masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki guna meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan warganya. Skor ini menunjukkan bahwa warga Indonesia tidak bahagia, dan tidak juga tidak bahagia.
Ragam Isu Hantam Indonesia
Pada 2025, dengan ragam isu yang menghantam Indonesia, meski baru awal tahun, bukan tidak mungkin bahwa indeks kebahagiaan warganya akan kembali menurun. Mulai dari isu korupsi BBM Pertamina, kebijakan efisiensi anggaran, pengesahan UU TNI yang dipandang kurang urgensinya, deflasi di bulan Februari, hingga kenaikan PPN dan pelemahan daya beli masyarakat, warga Indonesia dihadapkan dengan sejumlah tantangan mengawali 2025 ini.
Ditambah lagi sejumlah tantangan geopolitik dari kebijakan presiden baru AS, Trump, yang beberapa dipandang merugikan Indonesia, salah satunya terkait penghentian bantuan USAID. Tahun 2025 tentu takkan lebih mudah dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan hadiah awal tahun yang belum apa-apa sudah menggemparkan negara. Sikap optimis dan semangat perlu terus dijaga.
Bahagia Meski Ekonomi Sulit
Beberapa tahun lalu, tepatnya pada 2021, Badan Pusat Statistik juga pernah mengeluarkan indeks kebahagiaan di Indonesia. Maluku Utara merupakan provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi di Indonesia.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kala itu, Hasto Wardoyo, mengatakan bahwa indeks kebahagiaan di Indonesia berdasarkan indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) sudah tinggi meski skor kemandirian masih rendah.
“Kita ini kemandiriannya lemah, tetapi kebahagiaannya tinggi. Kita ini miskin tetapi bahagia, dan itu kenyataan, masih bisa bersyukur, meskipun masih miskin tetapi tidak sedih,” kata Hasto, beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan dalam iBangga, skor indeks kebahagiaan tercatat sebesar 72, tetapi skor kemandirian masih di angka 51, sedangkan skor ketenteraman sekitar 56-57. “Nilai maksimalnya 100, tetapi ini naiknya bertahap, misalnya indeks ketenteraman itu salah satunya (indikator) kalau suami istri menikah secara sah dan ada dokumennya, itu skor kita belum sampai 60 karena perceraian tinggi,” katanya.
Sedangkan untuk indeks kemandirian, tingkat perekonomian masyarakat Indonesia rata-rata masih menengah ke bawah, sehingga skornya masih rendah. “Kemudian kemandirian, itu jelas angkanya masih 52, karena itu urusan ekonomi, jadi dia dinilai berdasarkan bisa atau tidak mencukupi biaya pendidikan, makan, dan lain sebagainya. Memang seluruh rakyat Indonesia yang menengah ke bawah kan masih banyak,” kata Hasto.
Hasto juga mengungkapkan, indeks kebahagiaan Indonesia cenderung tinggi karena masyarakatnya masih memegang teguh budaya gotong royong dan saling bersosialisasi satu sama lain.
“Kemudian kalau kebahagiaan, memang kita untuk bisa bersosialisasi, gotong royong, berwisata, rekreasi, berkomunikasi, berinteraksi, memang happy kita ini, kalau di kampung itu kan ada gardu untuk ronda ramai-ramai, ketawa-ketawa padahal utangnya banyak, akhirnya terbiasa, jadi indeks kebahagiaannya tinggi,” katanya.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), metode penghitungan Indeks Kebahagiaan tahun 2017-2021 berbeda dengan metode tahun 2014. Indeks kebahagiaan tahun 2017-2021 diukur menggunakan tiga dimensi, yakni kepuasan hidup (life satisfaction), perasaan (affect), dan makna hidup (eudaimonia).
Sementara metode sebelumnya (2014), indeks kebahagiaan hanya diukur menggunakan satu dimensi yaitu kepuasan hidup. Berdasarkan data BPS, di tahun 2021, Maluku Utara menjadi provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi yakni di angka 76,34.
Resep Hidup Bahagia
Para ilmuwan menemukan bahwa menonton acara olahraga membuat orang lebih bahagia. Olahraga dengan banyak penonton seperti sepakbola paling memberikan kebahagiaan dan menonton langsung di stadion, bisa memunculkan kebersamaan dan rasa keterikatan.
Temuan tersebut berasal dari Profesor Shintaro Sato dari Universitas Waseda, Jepang. Shintaro juga mengatakan dampak jangka panjang dari menonton olahraga berupa struktur otak yang berubah, sehingga bisa lebih mudah bahagia. Penelitian ini mencakup 20.000 orang sebagai sampel. Hasilnya, penggemar olahraga punya kesehatan mental yang lebih baik dibanding yang tidak suka menonton olahraga.
BACA JUGA: Senyum Bahagia Lestari, Peserta Fun Run with PLN Mobile Jelang Hari Pelanggan Nasional
Hasil pindai MRI mengungkap pusat sistem penghargaan di otak menjadi superaktif ketika orang menyaksikan acara olahraga. Pertandingan yang ditonton memicu keluarnya hormon bahagia. Shintaro mengamati struktur otak penonton itu berubah seiring waktu dan sinyal listrik di area terkait emosi positif pun semakin banyak.
"Bertambahnya aktivitas otak di sirkuit penghargaan bisa diinterpretasikan sebagai perasaan bahagia. Hasil ini memberikan pandangan penting menonton olahraga favorit bisa meningkatkan kesehatan," kata Shintaro, dikutip dari jurnal Sports Management Review.
"Hubungan ini juga bisa ditingkatkan dengan menonton olahraga setiap hari dan artinya semakin lama orang menonton pertandingan olahraga setiap hari, semakin nyata dampaknya pada kesehatan mereka, plus struktur otak bisa berubah secara bertahap sehingga orang dapat lebih mudah merasa bahagia."
Faktor Kebahagiaan pada Gen Z
Setiap generasi bisa jadi memiliki sumber kebahagiaan yang berbeda. Dalam memprediksi kebahagiaan pada Gen Z, kita bisa melihat penelitian berjudul Analisis Faktor Kebahagiaan pada Mahasiswa Generasi Z karya Anisah Prafitralia dari UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember. Penelitian yang termuat di Psychospiritual: Journal of Trends in Islamic Psychological
Research ini rilis tahun 2023.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kebahagiaan bagi Gen Z. Metode penelitian menggunakan metode survey. Peneliti mengumpulkan data dari 27 partisipan, yang merupakan mahasiswa prodi Bimbingan dan Konseling Islam. Data dikumpulkan melalui kuesioner untuk mempelajari persepsi dan pengalaman mereka tentang kebahagiaan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Survei dilakukan secara online.
"Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang bisa mendatangkan kebahagiaan bagi mahasiswa Generasi Z meliputi keinginan yang tercapai atau sesuai ekspektasi (29,6%), berkumpul dengan orang-orang yang disayangi (25,9%), liburan dan hiburan (18,5%), mampu membahagiakan orang lain (11,11%), pikiran yang tenang (7,4%), dan lain-lain (7,4%)," tulis dalam laporan tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Masih Pemulihan, Paus Fransiskus Mendadak Muncul di Hadapan Umat di Kota Vatikan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini Minggu 6 April 2025: Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Ceper, Srowot, Delanggu hingga Palur
- Jadwal KRL Solo-Jogja Hari Ini Minggu 6 April 2025: Stasiun Palur, Jebres, Balapan, Purwosari hingga Ceper Klaten
- Jadwal Terbaru Kereta Api Prameks Hari Ini Minggu 6 April 2025
- Cuaca Hari Ini Minggu 6 April 2025: DIY Berawan
- Jadwal Kereta Bandara Xpress Hari Ini Minggu 6 April 2025, Berangkat dari Stasiun Tugu, Wates dan YIA
Advertisement
Advertisement