Kekayaan Charlie Kirk, Tewas Ditembak di Utah Valley University
Charlie Kirk, aktivis konservatif dan pendukung Presiden AS Trump, seorang yang vokal dan pendiri Turning Point USA, ditembak hingga tewas
Ilustrasi./JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA—Penyakit stroke sering kali dianggap sebagai penyakit degeneratif yang hanya bisa terjadi pada orang berusia lanjut. Padahal anak muda tidak luput dari risiko terkena stroke.
Mengutip American Heart Association, dalam waktu 30 tahun terakhir kasus strok pada anak muda naik 10%-15%.
Di Indonesia sendiri sejak 2018 sampai saat ini bahwa strok masih jadi penyebab kematian dan kecacatan nomor satu di Indonesia, menggeser posisi penyakit jantung.
Stroke sendiri tidak seperti penyakit jantung yang hanya punya dua kemungkinan selamat dan tidak selamat. Tetapi juga menyebakan kecacatan yang menghilangkan produktivitas, hingga menambah beban ekonomi keluarga dan negara.
Dokter spesialis neurologi dr. Indah Aprianti Putri menjelaskan pada 2015-2016 stroke itu tidak hanya menyerang di perkotaan tapi juga di pedesaan. Perubahan gaya hidup mengubah kondisi populasi berisiko stroke, sehingga baik di perkotaan dan perdesaan tidak berbeda.
Berdasarkan pengukuran WHO, orang lanjut usia (lansia) adalah 80 tahun, dan usia muda adalah 18 tahun sampai 45 tahun.
Melihat faktor risiko pada usia muda, di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional penderita stroke usia muda pada 2021 angkanya naik dari 5 persen menjadi 10 persen dari 4.300 total pasien.
Kemudian, pada 2022 naik menjadi 9,8%, dan saat ini sampai dengan Agustus 2023 sudah 10%. Oleh karena itu stroke di usia muda akan jadi tantangan ke depan karena jumlahnya yang semakin meningkat.
BACA JUGA: Fisioterapi Tiang Rehabilitasi Medis Pasca-Strok
Dokter Indah juga menjelaskan bahwa stroke memiliki tiga derajat keparahan, mulai dari yang ringan, sedang, hingga berat.
Stroke dengan gejala ringan pada umumnya bisa sembuh sempurna dalam 3-6 bulan. Sementara yang sedang dan berat berisiko mengalami kecacatan jangka panjang, daan parahnya lagi bisa menyerang mental sehingga produktivitas semakin terganggu.
Dokter Indah menjelaskan gejala stroke bisa dideteksi mulai dari senyum tidak simetris, gerakan setengah badan lebih berat sebelah, dan rabun pada mata yang tadinya normal jadi ganda.
Selain itu, ada gejala lain seperti kebas pada setengah badan, dan sakit kepala hebat sehingga harus ke rumah sakit.
Jika mengalami gejala-gejala ini jangan didiamkan karena waktunya untuk menjadi semakin parah sangat ketat.
"Jangan tunggu sampai lumpuh, 4,5 jam adalah golden period untuk pasien segera mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat," paparnya dalam siaran langsung bersama Kementerian Kesehatan, Rabu (13/9/2023).
Dokter Indah menyebutkan penyebab stroke pada anak muda adalah perubahan gaya hidup, terutama karena semaki banyak yang merokok menggunakan vape.
"Kalau lifestylenya saat ini banyak yang merokok, atau pakai vape. Vape ini bedanya ketika menyebabkan plak, yang akan terkena dan tersumbat adalah pembuluh darah yang lebih besar di leher atau otak. Kalau terkena di pembuluh darah yang besar, gejalanya akan lebih berat, derajat keparahannya lebih ke sedang dan berat," paparnya.
Sementara jika gaya hidup makan makanan yang tidak sehat seperti tinggi natrium, yang akan terserang adalah pembuluh darah yang kecil, sehingga gejalanya umumnya lebih ringan.
"Di Asia kita lebih banyak pembuluh darah kecil yang terkena, tapi anak muda akan berpotensi terkena pembuluh darah besar, karena pola makannya sudah mengikuti barat, makan junk food, merokok vape. Kalau sudah terkena yang gejala berat akan lebih berat untuk kembali produktif," imbuhnya.
Selain itu, ada pula faktor risiko penyebab stroke yang tidak bisa dimodifikasi seperti usia, genetik, dan jenis kelamin.
Melakukan olahraga memang direkomendasikan oleh WHO. Direkomendasikan 3-4 kali seminggu selama 30 menit, atau bisa 1 kali dalam seminggu selama 1 jam 10 menit.
Namun, rajin olahraga tidak bisa "membayar dosa" ketika sudah menerapkan gaya hidup tidak sehat.
Pasalnya, sejak kita lahir dan mulai makan, dalam 10 tahun pertama plak dalam pembuluh darah sudah mulai terbentuk jika tidak makan makanan sehat. "Semakin lama plak itu terbentuk, itu seperti gunung es, ketika pembuluh darah sudah tidak elastis, misalnya 40 tahun, plaknya terbentuk di bawah pembuluh darah, dan bisa menumpuk sehingga pembuluh darah bisa pecah atau tersumbat. Makanya olahraga tidak bisa untuk tawar menawar pada kesehatan kita," jelasnya.
Oleh karena itu, agar tidak terkena strok, bisa dengan menjauhi dan memastikan tidak merokok, tidak memiliki riwayat kolestrol, dan hipertensi.
Sumber: Bisnis.com
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Charlie Kirk, aktivis konservatif dan pendukung Presiden AS Trump, seorang yang vokal dan pendiri Turning Point USA, ditembak hingga tewas
Film Jangan Buang Ibu karya Leo Pictures akan menggelar Gala Premiere di 20 kota termasuk Yogyakarta sebelum tayang 25 Juni 2026.
Fathul Wahid bukan dikenal sebagai penyair. Dia akademisi, Guru Besar Sistem Informasi, dan Rektor UII. Justru karena itulah puisinya terasa menarik.
DSI resmi jadi BUMN baru pengelola ekspor SDA. Siap kendalikan sawit, batu bara, dan ferro alloy mulai 2026.
Simak cara menyalakan genset saat listrik padam dengan aman agar terhindar dari korsleting dan kerusakan mesin.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bekerja sama dengan DPRD DIY menggelar bedah buku Cerdas Mengolah Sampah Mandiri Bersama Komunitas