Daftar Harga BBM 21 Oktober 2026 di Pertamina, Shell, Vivo, BP
Harga BBM 21 Oktober 2026 di Pertamina, BP-AKR, Vivo, dan Shell. Simak daftar lengkap harga bensin dan diesel per liter.
Ilustrasi terkejut
Harianjogja.com, JAKARTA—Belum lama ini dikabarkan bahwa seorang bayi meninggal dunia karena terkejut mendengar suara petasan di Gresik. Kaget yang luar biasa dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah.
Saat mendengar suara atau disentuh yang tidak terduga, kita cenderung melompat kaget. Pada beberapa orang, ada yang memiliki respons terkejut secara berlebihan dan dapat menyebabkan jatuh bahkan kematian.
Melansir Bisnis.com-jaringan Harianjogja.com dari National Organization for Rare Disorders (NORD), hiperekpleksia adalah kelainan neurologis herediter langka yang dapat memengaruhi bayi saat baru lahir (neonatal) atau sebelum lahir (dalam rahim). Kelainan ini juga dapat mempengaruhi anak-anak dan orang dewasa.
Orang dengan kelainan ini memiliki refleks kaget berlebihan (mata berkedip atau kejang tubuh) terhadap suara, gerakan, atau sentuhan yang tiba-tiba diikuti dengan kekakuan otot yang dapat menyebabkan masalah pernapasan dan bahkan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).
Baca juga: Krisdayanti Ganti Nama, Berawal dari Buka-Buka Berkas Lama
Gejalanya meliputi ketegangan otot yang ekstrem (kekakuan atau hipertonia) yang mencegah gerakan sukarela dan dapat menyebabkan orang yang terkena jatuh dengan kaku, seperti batang kayu, tanpa kehilangan kesadaran. Refleks yang berlebihan (hyperreflexia), dan cara berjalan yang tidak stabil (gait) juga dapat terjadi.
Hiperekpleksia sering salah didiagnosis sebagai salah satu bentuk epilepsi sehingga proses mendapatkan diagnosis yang akurat dapat berlangsung lama. Pengobatannya relatif tidak rumit dan melibatkan penggunaan obat anti-kecemasan dan anti-kejang. Terapi fisik dan kognitif adalah pilihan pengobatan tambahan.
Baik pada bayi maupun orang dewasa, hiperekpleksia paling efektif diobati dengan obat anticemas dan antikejang. Untuk mendukung pengobatan, lakukan perawatan lain, seperti terapi fisik dan/atau kognitif untuk mengurangi kecemasan. Selain itu, konseling genetik mungkin bermanfaat bagi pasien dan keluarga mereka.
Melansir Live Science, kondisi tersebut muncul saat lahir dan gejala sementara biasanya berkurang setelah tahun pertama. Penyakit ini disebabkan oleh beberapa mutasi genetik. Hasil akhirnya adalah kegagalan sel saraf untuk berkomunikasi dengan baik.
Secara khusus, mutasi memengaruhi bagaimana molekul yang disebut glisin, dipindahkan antar sel. Biasanya, glisin mengirimkan sinyal penghambatan yang meredam respons seseorang terhadap kebisingan dan suara. Pada orang dengan gangguan kaget, sinyal penghambat ini tidak diterima dan hasilnya adalah respons berbahaya yang diperkuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Harga BBM 21 Oktober 2026 di Pertamina, BP-AKR, Vivo, dan Shell. Simak daftar lengkap harga bensin dan diesel per liter.
Cek jadwal perpanjangan SIM Sleman Rabu, 28 Oktober 2026, di MPP dan Satpas, lengkap dengan jadwal SIMMADE, SIM Keliling, serta syaratnya.
Cek jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis Rabu, 28 Oktober 2026. Ada enam keberangkatan tiap arah dengan tarif Rp12.000.
Cek jadwal DAMRI dari Bandara YIA ke Jogja dan Sleman, lengkap dengan jam keberangkatan, lima pilihan tujuan, dan tarif Rp80.000.
Cek jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu, 28 Oktober 2026. Tersedia 10 perjalanan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Cek jadwal KA Bandara YIA 28 Oktober 2026 untuk layanan reguler dan Xpress, lengkap dengan waktu keberangkatan dari Jogja dan bandara.