Indonesia Bisa Lolos Semifinal Piala AFF 2026, Ini Skenarionya
Timnas Indonesia masih berpeluang lolos ke semifinal Piala AFF 2026 meski kalah 0-3 dari Vietnam. Berikut skenario yang harus terjadi.
Ilustrasi puasa/sobatdiabet.org
Harianjogja.com, SOLO—Pada awal puasa Ramadan 1444 Hijriah/2023, netizen dihebohkan dengan narasi mengenai manfaat mengonsumsi minuman oralit.
Di media sosial, banyak netizen mengeluhkan tindakan panic buying oralit karena disebut mampu menjadi doping saat puasa.
Oralit disebut dapat menggantikan cairan dan elektrolit dalam tubuh, sehingga orang yang berpuasa tak mudah merasa haus dan lemah.
Menjadi tren kesehatan baru, apakah benar oralit dapat mencegah seseorang terkena dehidrasi? simak penjelasan berikut ini.
Oralit merupakan obat yang biasa digunakan untuk mengatasi dehidrasi akibat diare dan muntah.
Meskipun dijual bebas, penggunaan oralit pun tak boleh sembarangan karena akan menimbulkan efek lain dalam tubuh.
"Oralit ini pertolongan pertama, misalnya untuk pasien gastroenteritis (flu perut) sebelum masuk rumah sakit. Penting mengatasi kemungkinan dehidrasinya dulu, baru kemudian mengatasi penyebabnya," ujar Konsultan Hematologi dan Onkologi, Prof. Zubairi Djoerban di akun Twitternya @ProfesorZubairi pada Selasa (28/3/2023).
Prof. Zubairi mengatakan, oralit utamanya dikonsumsi oleh pasien diare karena selain kehilangan cairan, penderita diare juga kehilangan elektrolit yang tidak baik untuk kesehatan.
Menjawab hal itu, Prof Zubairi mengatakan bahwa meminum oralit tak berpengaruh banyak pada tubuh. Justru apabila terlalu banyak mengonsumsinya menjadi berbahaya.
"Lemas dan ngantuk ya biasa. Kita lihat saja pemain bola muslim yang di Eropa. Mereka tetap bermain dan energik, meski puasa tanpa oralit. Jadi tidak perlu takut ya untuk puasa meski tanpa doping oralit,"
Menurutnya saat puasa, kondisi fisik akan normal karena tidak mengalami gejala seperti muntaber. Sehingga apabila kelebihan konsumsi oralit, maka dapat menyebabkan hipernatremia atau hiperkalemia.
Hal ini disebabkan karena oralit punya kadar Natrium klorida atau NaCl yang konsentrasinya cukup tinggi mencapai sekitar 520 miligram per 200 mililiter.
Kemudian kalium dalam oralit juga tinggi yaitu sekitar 300 miligram per 200 cc.
"Ya kalau natrium terlalu tinggi di dalam darah, ya bisa bahaya. Mula-mula kehausan, lelah, gangguan otot, bisa juga sampai kejang. Ini serius," lanjut Prof Zubairi.
Sedangkan apabila tubuh kelebihan kalium yang terlalu tinggi lebih dari 6,4. Bisa menyebabkan hiperkalemia.
"Kemungkinan terburuknya? Bisa menyebabkan hemolisis. Sel darah merahnya hancur. Bisa juga rhabdomyolysis, ototnya rusak. Bahkan bisa menyebabkan penyakit ginjal dan Lupus memburuk,"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Timnas Indonesia masih berpeluang lolos ke semifinal Piala AFF 2026 meski kalah 0-3 dari Vietnam. Berikut skenario yang harus terjadi.
Liverpool menjamu Villarreal di Liga Champions 21 Oktober 2026. Simak jadwal, performa terkini, rekor pertemuan, dan catatan kedua tim.
Muhammad Lutfi menduga GIC dan Temasek terkait tekanan kepada MSCI. Apa alasan resmi MSCI mengusulkan perubahan status pasar Indonesia?
Janice Tjen tersingkir di babak 32 besar Jepang Terbuka 2026 usai kalah dari Ashlyn Krueger. Ia masih akan berlaga di sektor ganda.
Prancis memberlakukan jam malam terbatas di Paris dan sejumlah komune setelah demonstrasi berujung kekerasan, penjarahan, dan kerusakan fasilitas umum.
Porsche Mission S menjadi visi supercar bermesin tengah di atas 911, dengan desain terinspirasi mobil legendaris dan kokpit berorientasi pengemudi.