Mendagri Tito Usul Kepala Daerah Dapat Insentif dari PAD
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Seorang Mesaharaty sedang menabuh gendangnya untuk membangunkan sahur di Mesir./Daily News Egypt\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Kebiasaan membangunkan sahur oleh warga sekitar dengan berkeliling dari satu rumah ke rumah lain ternyata tidak hanya dilakukan di Indonesia. Meski di Indonesia sendiri tiap tahunnya selalu ada cara unik atau paling sederhana dengan seruan bangun atau adzan dari Masjid untuk membangunkan sahur.
Sejumlah negara di timur tengah juga melakukan tradisi serupa dengan julukan yang berbeda-beda. Kira-kira apa saja julukan tersebut? Simak ulasannya berikut ini:
Nafar, Maroko
Maroko mengenal orang yang membangunkan sahur dengan nama Nafar (pemain terompet). Tak hanya mengandalkan beduk seperti di Indonesia Nafar turut mengenakan pakaian tradisional Gandora, topi, dan sandal sederhana lalu keliling kota meniupkan terompet dan menyenandungkan doa-doa dengan merdu.
Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ketujuh dimana sahabat Nabi Muhammad SAW berkeliaran di jalanan saat fajar menyanyikan doa-doa yang merdu. Kini Nafar yang juga biasanya berkeliling bersama dengan tebbal (pemain drum) dipilih langsung oleh masyarakat setempat dengan pribadi yang penuh empati dan jujur.
Jasa mereka yang begitu penting ini sering kali mendapat tips dari warga bahkan di akhir bulan Ramadan mereka mendapat who have woken from the calls often give tips to nafar and tebbal throughout Ramadan, but especially on the final night of the month to show their gratitude to the service.
The Drummers, Turki
Drum Davul khas Turki mempunyai suara yang keras dan lantang, cara yang tepat untuk membangunkan umat muslim yang akan sahur. Kalau di hari-hari biasa tentunya suara lantang dari Davul akan jadi bual-bualan warga namun justru ditunggu-tunggu saat Ramadan tiba.
Seraya memukul Davul dan bernyanyi dari satu rumah ke rumah lain mereka juga memakai pakaian tradisional, tak jarang para penggebuk Davul diundang sahur bersama oleh para penduduk, sebagai cara berterima kasih sudah membangunkan sahur.
Mesaharaty, Sebagian negara Arab
Sebagian negara Arab punya julukan yang sama untuk orang yang membangunkan sahur yakni Mesaharaty atau ‘Pembangkit Fajar', kali ini mereka tidak beraksi menggunakan drum atau terompet namun tabla sebuah gendang mirip rebana.
Para Mesaharaty akan berkeliling seluruh penjuru kota menabuh tabla dan menyenandungkan sebuah lagu berbunyi “Es’ha ya nayem, wahid el dayem” berarti Bangunlah kamu yang tertidur, puji Yang Maha Kuasa, terkadang mereka juga dilengkapi dengan atribut pakaian tradisional seperti di masa lampau.
Namun cara Mesaharaty membangunkan orang berbeda-beda di tiap negara misalnya di Kuwait mereka berkeliling bersama anak-anak yang membacakan doa.
Di Sudan, Mesaharaty membawa lentera dan daftar nama-nama warga kemudian mengetuk pintu rumah warga seraya memanggil nama mereka. Sedangkan di Lebanon, Suriah, dan Palestina, Mesaharaty memanfaatkan bunyi peluit untuk membangunkan sahur.
Tradisi ini bukan datang dari zaman Nabi Muhammad melainkan saat masa kekhalifahan Abbasiyah, dimana Gubernur Mesir pada tahun 852, Orbat bin Ishaq menjadi Mesaharaty pertama dalam sejarah. Orang nomor satu di Mesir ini tak segan untuk turun ke jalanan Kairo membangunkan penduduknya untuk sahur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mendagri Tito Karnavian mengusulkan kepala daerah mendapat insentif dari PAD jika berhasil meningkatkannya. Aturan masih perlu dikaji bersama.
Koperasi Merah Putih di DIY berkembang sesuai kebutuhan warga, mulai dari distribusi pupuk hingga pemasok sembako dan UMKM.
Munja menargetkan ekspor kendaraan pemadam kebakaran mulai 2027 setelah menguasai 35% pasar domestik dan membidik pangsa pasar 70%.
DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta melantik pengurus Baguna periode 2025-2030 sekaligus menggelar simulasi penyelamatan korban bencana di Sungai Gajahwong.
Sebanyak 22 mahasiswa dari 17 negara belajar pengelolaan sampah perkotaan secara langsung di Kelurahan Terban dan Baciro, Kota Jogja.
Geopark Ijen akan menjalani revalidasi UNESCO pada 3-7 Agustus 2026 untuk mempertahankan status green card yang diraih sejak 2023.