Advertisement

Tak Mau Tercekik Harga Naik saat Musim Liburan, Ini Saran untuk Anda saat Berbelanja

Newswire
Selasa, 21 Maret 2023 - 01:07 WIB
Arief Junianto
Tak Mau Tercekik Harga Naik saat Musim Liburan, Ini Saran untuk Anda saat Berbelanja Ilustrasi. - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Perilaku berbelanja masyarakat Indonesia yang cenderung berbondong-bondong dan memborong barang pada momen tertentu, menjadi pemicu hukum pasar berlaku.

Harga komoditas barang akan melesat naik ketika permintaan tinggi yang berakibat barang menjadi langka. Kestabilan dan kewajaran harga pasar ditentukan, salah satunya oleh perilaku berbelanja warga, maka jangan menjadi langganan korban permainan harga.

Advertisement

Pakar ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Imam Prayogo, membenarkan bahwa perilaku konsumen dalam berburu barang atau komoditas berpengaruh pada sentimen harga di pasaran. “Setelah memastikan barang yang akan dibeli merupakan kebutuhan (bukan keinginan), kemudian mempertimbangkan skala prioritas,” kata Igo, begitu sapaan akrabnya.

Membeli kebutuhan pokok, tidak perlu memburu diskon, sebab diskon pada dasarnya harga standar yang semula dinaikkan. Bahkan beberapa barang diskon hampir memasuki habis masa pakai.

Igo, sapaan akrabnya, yang merupakan ahli manajemen risiko, melihat fenomena berburu diskon masyarakat pada momen tertentu menjadi kemenangan kapitalis. Di mana seolah perputaran ekonomi tumbuh karena daya beli meningkat. Padahal, ada atau tidak adanya diskon, stok barang yang menjadi komoditas bahan pokok persediaannya tercukupi.

Hal ini karena, dalam memproduksi bahan pangan, ada fix cost dan variable cost. Produksi bahan pangan pastinya diproduksi setiap hari, sehingga persediaan akan bahan pangan selalu ada. Maka, bila ada kelangkaan barang, pasti ulah distributor menimbun barang.

Musim Belanja

Saat Ramadan, warga muslim akan berduyun-duyun ke pasar, baik tradisional maupun modern untuk berbelanja berbagai keperluan bahan pangan.

Momen Ramadan dan Lebaran dan hari-hari besar keagamaan lain, bukanlah kejadian luar biasa yang datang tiba-tiba, melainkan momen rutin yang telah terjadwal pasti. Itulah sebabnya, masyarakat sudah bisa mempersiapkan jauh-jauh hari, tidak perlu tergopoh-gopoh belanja pada H-1 puasa, apalagi untuk bahan pangan yang memiliki masa simpan cukup lama.

Belanja pada saat musim padat, tidaklah nyaman. Perjalanan menuju pasar atau pusat perbelanjaan menemui kemacetan lalu-lintas di mana-mana, kemudian di lokasi belanja berdesakan dengan ramai orang, juga kecenderungan harga yang tengah tinggi.

Mengapa harga menjadi tinggi? Karena sebagian besar konsumen memburu komoditas barang yang sama. Untuk kategori sembilan bahan pokok (sembako) memang mau tidak mau harus dibeli, tapi di luar itu ada barang yang bersifat komplementer dan substitusi yang dapat disiasati.

Belanja cerdas.

Agar tidak menjadi korban permainan harga, warga masyarakat atau konsumen perlu bersiasat dalam perburuan memperoleh barang yang dibutuhkan. Berikut sejumlah langkah yang dapat dipertimbangkan:

Lakukan:

  1. Timing atau pemilihan waktu belanja perlu diperhatikan. Pilihlah waktu berbelanja pada low season agar nyaman, tidak tertular kepanikan dalam hiruk-pikuk keramaian orang, sehingga dapat memilih barang dengan tenang dan teliti.
  2. Barang substitusi, berpikir antimainstream dengan memilih barang-barang substitusi yang tidak banyak diburu orang. Dengan begitu tidak banyak pesaing untuk memperolehnya.
  3. Incar barang sepi peminat. Dengan berbelanja di saat low season konsumen dapat leluasa melihat-lihat barang terlebih dulu sebelum memutuskan membeli. Dalam proses pencarian itu kadangkala bisa menemukan barang bagus, namun tidak dikerubuti orang karena luput dari perhatian mereka. Bila sedang beruntung, anda dapat memperoleh barang bagus dengan harga yang tidak mahal.

Hindari:

  1. Tren. tidak perlu menjadi pengekor tren, tentukan dan ciptakan gaya hidup anda sendiri, agar tidak selalu kalang kabut dalam perburuan barang yang juga diperebutkan oleh jutaan orang lain.
  2. Tertipu promo. Percayalah dalam dunia perniagaan hampir tidak ada yang tulus memberi diskon. Diskon hanyalah istilah penggoda untuk konsumen. Senyatanya, itu hanyalah trik pemasaran, biasanya harga barang diskon telah dinaikkan terlebih dulu lalu seolah-olah ada potongan harga, yang angka akhirnya adalah harga standar barang tersebut. Barang didiskon, biasanya untuk menghabiskan stok gudang karena telah mendekati masa kedaluwarsa. Atau bisa juga karena ada cacat produksi.
  3. Beli barang dengan harga tak wajar. Bila harga suatu komoditas telah melambung tinggi melampaui batas kewajaran, maka tinggalkan. Jangan memaksakan membeli barang itu, sesekali beri pelajaran pada spekulan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

IDAI Sebut Layanan Kesehatan Anak Berkualitas Tinggi Belum Merata

News
| Sabtu, 22 Juni 2024, 20:17 WIB

Advertisement

alt

Libur Iduladha, Warung Satai Klathak di Jogja Ini Diserbu Wisatawan

Wisata
| Kamis, 20 Juni 2024, 21:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement