Siswa SD Meninggal Seusai Tertimpa Patung di Museum Ronggowarsita
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan
“Engkau pintar menerka pikiran orang, Jeng Latri. Dari bisikan siapa, engkau tahu bahwa aku sedang melamunkan bidadari?” Damar tersenyum membuat mukanya semakin tampan. Ada dekik di kedua pipinya jika ia tertawa.
Latri menggunakan jari telunjuknya yang mungil menuding ke air yang mengalir santai.
“Kangmas duduk di sini. Aku pun berada di hilir sungai. Dan riak yang datang memberi kabar padaku bahwa di hulu ada seorang pemuda sedang memimpikan kekasih hatinya. Segera aku kemari, ehh, ternyata Kangmas yang memendam rindu asmara,” Latri cekikikan, namun bola matanya yang indah kelihatan basah.
Damar memandang Latri dengan takjub. Selain ayu, luwes, berbudi halus, santun, gadis ini juga pandai merangkai kata-kata. Latri juga dengan berani balas memandang Damar, dengan tatapan menantang.
“Engkau cerdik layaknya dewi kayangan, Jeng Latri. Sulit aku mengibaratkan engkau ini siapa? Dewi Ratna, Batari Uma, Dewi Laksmi? Tolong dengan mata batinmu yang lantip, tebak siapa bidadari yang kurindukan siang malam itu? Dan berkenankah bidadari tadi menerima cinta yang kupersembahkan untuknya?”
Mendengar kelakar pemuda yang dalam keseharian pendiam itu, sepasang mata Latri ber seri. Ia kelihatan gembira, meski juga ada sedikit kebimbangan.
“Duduk yang tenang, Kangmas. Aku terawang dulu, Kangmasku yang malang,” Dengan pipi kemerah-merahan Latri duduk di dekat Damar, juga menghadap ke air yang gemericik.
“Bagaimana caramu menerawang?” tanya Damar kali ini dengan muka bodoh.
“Sebentar. Jangan ganggu aku. Lihat aku sedang memusatkan pikiran,” Latri memandang air sungai yang tenang itu. Damar tanpa sadar ikut memandang sungai.
“Ohhh,” desis Latri menangkupkan kedua tangan.
“Ada apa Jeng?” Damar menengok ke sungai. Tidak ada apapun di sana.
“Ehmmm. Bidadari itu pun kangen padamu, Kangmas.”
“Benarkah? Engkau yakin?”
Latri mengangguk, sekali ini dengan tersipu-sipu.
“Apa buktinya?” Damar penasaran. Matanya kembali melihat sungai.
“Buktinya bidadari itu mendatangi Kangmas yang sedang merindukannya.”
Damar cepat menengok. Memandang lekat gadis ayu itu yang tetap saja jelita meski dari samping. Tanpa sengaja tangan kekarnya memegang pundak Latri yang halus.
“Jeng Latri, engkau tidak bercanda?”
Gadis itu tertawa manja.
“Tentu saja benar. Aku tidak bercanda, juga tidak dusta,” Latri kemudian pura-pura heran dan menepis dengan halus tangan Damar.”Kangmas yang sedang gandrung dengan bidadari, eh, mengapa pundakku yang kau pegang? Tidak salahkah itu?”
“Mana mungkin aku salah?” Damar tidak melepaskan tangan, malah semakin erat.
“Engkau yang barangkali salah menerawang. Benarkah bidadari yang aku impikan sudi membalas cintaku?”
Latri mengangguk pasti. Ia pura-pura melihat sungai, diikuti Damar.
“Terawanganku tidak pernah keliru. Bidadari itu betul-betul mencintaimu.”
“Jeng Latri!” Damar tidak sadar mengeraskan pegangannya membuat Latri meringis.
“Ehh, Kangmas, aku sudah membantumu menerawang. Tapi balasanmu malah membuat aku kesakitan.”
“Maafkan aku diajeng,” Damar melepaskan tangannya dari pundak Latri, tapi kemudian memegang kedua tangan gadis itu dengan mesra.
BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 050
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
Casemiro dipastikan tampil saat Manchester United menghadapi Nottingham Forest dalam laga kandang terakhirnya di Old Trafford.
Kemenag menggelar sidang isbat penetapan awal Zulhijah 1447 H malam ini. Iduladha 2026 diperkirakan jatuh pada 27 Mei.
Waspada Wangiri Fraud, modus missed call internasional yang bisa menguras pulsa dan membuat tagihan telepon membengkak.
Jepang, Uzbekistan, China, dan Australia lolos ke semifinal Piala Asia U-17 2026 usai melewati laga dramatis di perempat final
PSIM Jogja menghadapi Madura United di Stadion Sultan Agung malam ini. Tim tamu datang dengan tekanan besar dari ancaman degradasi.