Panas Ekstrem Prancis: 2.025 Kematian dan Rumah Sakit Penuh
Gelombang panas ekstrem di Perancis tewaskan 2.025 orang dalam sepekan. Suhu 40°C, rumah sakit penuh, kamar mayat kewalahan. Krisis iklim semakin nyata.
Ilustrasi hujan meteor./Twitter
Harianjogja.com, JOGJA— Penghujung Juli 2026 diperkirakan menjadi salah satu periode terbaik bagi para pengamat langit malam. Sejumlah lembaga astronomi dunia memprediksi tiga hujan meteor akan mencapai puncak aktivitasnya dalam rentang waktu yang berdekatan, menghadirkan pertunjukan kosmik yang dapat diamati dari berbagai wilayah di Bumi.
Berdasarkan prediksi dari NASA, Royal Observatory Greenwich, International Meteor Organization, dan PAGASA, tiga hujan meteor yang akan menghiasi langit akhir bulan ini adalah Piscis Austrinids, Alpha Capricornids, dan Southern Delta Aquariids.
Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung antara 28 hingga 31 Juli 2026, menjadikan periode itu sebagai waktu yang ideal bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan langit malam.
Piscis Austrinids Jadi Pembuka
Hujan meteor Piscis Austrinids diperkirakan mencapai aktivitas terbaiknya sekitar 28 Juli 2026. Fenomena ini dikenal memiliki karakter meteor yang bergerak relatif lambat dan tampak lebih redup dibandingkan hujan meteor besar lainnya.
Meski jumlah meteor yang terlihat tidak terlalu banyak, Piscis Austrinids tetap menarik perhatian karena muncul secara konsisten setiap tahun. Periode aktivitasnya biasanya berlangsung dari Juli hingga Agustus.
Salah satu daya tarik hujan meteor ini adalah lokasi titik radiannya yang berada dekat dengan Fomalhaut, salah satu bintang paling terang di langit malam. Kedekatan tersebut membuat fenomena ini menjadi incaran para penggemar astronomi yang ingin mengabadikan pemandangan langit.
Alpha Capricornids dan Southern Delta Aquariids Menyusul
Setelah Piscis Austrinids, langit malam akan kembali diramaikan oleh dua hujan meteor lain yang mencapai puncaknya hampir bersamaan pada 30 hingga 31 Juli 2026.
Alpha Capricornids dikenal menghasilkan meteor yang bergerak lambat namun cukup terang. Aktivitasnya diperkirakan mencapai sekitar lima meteor per jam. Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, hujan meteor ini terkenal karena sering menghasilkan bola api terang atau fireball yang terlihat mencolok di langit.
Sementara itu, Southern Delta Aquariids merupakan salah satu hujan meteor tahunan yang cukup aktif. Fenomena ini dapat menghadirkan lebih banyak meteor dibanding Alpha Capricornids dan biasanya memberikan peluang pengamatan yang baik selama beberapa hari di sekitar puncaknya.
Namun, meteor Southern Delta Aquariids umumnya tidak meninggalkan jejak cahaya yang panjang dan jarang menghasilkan bola api besar seperti yang sering muncul pada Alpha Capricornids.
Tantangan Cahaya Bulan
Menurut penjelasan NASA, hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur debu dan material yang ditinggalkan komet atau asteroid. Partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan terbakar akibat gesekan udara sehingga menghasilkan garis cahaya yang dikenal sebagai meteor atau bintang jatuh.
Meski akhir Juli menawarkan tiga fenomena sekaligus, para pengamat diperkirakan menghadapi tantangan berupa cahaya Bulan yang sangat terang.
Berdasarkan data dari American Meteor Society, pada 30 hingga 31 Juli 2026 Bulan diperkirakan berada pada fase sekitar 98 persen purnama. Kondisi ini berpotensi mengurangi jumlah meteor yang dapat terlihat dengan mata telanjang, terutama meteor yang redup.
Karena itu, masyarakat yang ingin menyaksikan fenomena tersebut disarankan mencari lokasi dengan tingkat polusi cahaya rendah, jauh dari pusat perkotaan, gedung tinggi, maupun lampu jalan yang terang.
Meski tidak seluruh meteor dapat terlihat jelas akibat cahaya Bulan, akhir Juli tetap menjadi kesempatan istimewa untuk menikmati salah satu pertunjukan alam paling menarik di langit malam. Dalam rentang beberapa hari saja, langit akan menyajikan tiga fenomena astronomi berbeda yang menunjukkan bahwa keajaiban alam semesta dapat disaksikan langsung tanpa memerlukan peralatan khusus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gelombang panas ekstrem di Perancis tewaskan 2.025 orang dalam sepekan. Suhu 40°C, rumah sakit penuh, kamar mayat kewalahan. Krisis iklim semakin nyata.
Prabowo menunjuk Danantara mengimplementasikan perdagangan listrik RI-Singapura yang ditargetkan mencapai kapasitas 3,4 gigawatt pada 2035.
Polisi menangkap TW, terduga pelaku pencurian yang mengaku beraksi di 22 TKP di Soloraya. Kasus masih terus dikembangkan.
Progres Tol Jogja-Solo Seksi 2.2 mencapai 86%. Pengerjaan kini memasuki tahap pengecoran rigid pavement di atas ring road utara Sleman.
Rupiah ditutup melemah ke Rp17.995 per dolar AS. Pasar menanti data cadangan devisa dan mencermati sentimen global serta Fitch Ratings.
Agrinas Palma Nusantara membuka lebih dari 20.000 lowongan kerja hingga Agustus 2026 untuk mendukung pengelolaan kebun sawit sitaan negara.