Tak Cuma Bikin Candu, Nikotin Juga Berdampak pada Fungsi Seksual

Jumali
Jumali Senin, 06 Juli 2026 13:37 WIB
Tak Cuma Bikin Candu, Nikotin Juga Berdampak pada Fungsi Seksual

Ilustrasi kehidupan seksual./Telegraph

Harianjogja.com, JOGJA—Nikotin merupakan zat adiktif utama yang terkandung dalam rokok konvensional maupun rokok elektronik (vape).

Selama ini, nikotin lebih sering dikaitkan dengan risiko kecanduan, penyakit paru-paru, hingga gangguan kardiovaskular. Namun, dampaknya ternyata juga dapat menjangkau aspek lain yang jarang disadari, yakni kesehatan seksual.

Healthline, Senin (6/7/2026) melaporkan, sejumlah penelitian menunjukkan nikotin dapat memengaruhi fungsi seksual melalui berbagai mekanisme, mulai dari gangguan aliran darah, perubahan hormon, hingga pengaruh terhadap sistem saraf. Dampaknya dapat berbeda pada setiap individu, tetapi dalam jangka panjang kebiasaan merokok cenderung memberikan efek negatif terhadap kesehatan reproduksi.

Aliran Darah ke Organ Reproduksi Bisa Terganggu

Salah satu efek utama nikotin adalah menyebabkan penyempitan pembuluh darah atau vasokonstriksi. Kondisi ini membuat aliran darah ke berbagai organ tubuh menjadi tidak optimal, termasuk organ reproduksi.

Pada pria, gangguan aliran darah dapat meningkatkan risiko disfungsi ereksi karena ereksi sangat bergantung pada pasokan darah yang lancar ke jaringan penis. Sementara pada perempuan, berkurangnya aliran darah ke area genital dapat menurunkan sensitivitas dan mengurangi produksi pelumas alami saat berhubungan seksual.

Dalam jangka panjang, kerusakan pembuluh darah akibat kebiasaan merokok dapat memperburuk fungsi seksual dan menurunkan kualitas kehidupan intim seseorang.

Memengaruhi Hormon yang Berkaitan dengan Libido

Nikotin juga diketahui dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi yang berperan dalam mengatur gairah seksual.

Beberapa penelitian menemukan hubungan antara kebiasaan merokok dengan perubahan kadar hormon tertentu pada pria maupun perempuan. Ketidakseimbangan hormon tersebut dapat berdampak pada penurunan libido, gangguan kesuburan, hingga berkurangnya fungsi reproduksi secara keseluruhan.

Meski efeknya tidak selalu sama pada setiap orang, para ahli menilai perubahan hormonal akibat paparan nikotin menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai.

Mitos Rokok Meningkatkan Gairah Seksual

Masih banyak orang yang meyakini bahwa merokok dapat membantu meningkatkan gairah seksual karena memberikan efek relaksasi dan mengurangi stres.

Namun, menurut sejumlah kajian kesehatan, sensasi tersebut umumnya hanya bersifat sementara. Efek yang dirasakan perokok lebih berkaitan dengan meredanya gejala putus nikotin setelah merokok, bukan karena adanya peningkatan libido yang sesungguhnya.

Akibatnya, muncul persepsi keliru bahwa rokok membantu meningkatkan performa seksual, padahal dampak biologis nikotin justru lebih banyak merugikan fungsi seksual dalam jangka panjang.

Berhenti Merokok Dapat Membantu Pemulihan

Kabar baiknya, sejumlah dampak negatif nikotin terhadap pembuluh darah dapat membaik setelah seseorang berhenti merokok.

Perbaikan sirkulasi darah yang terjadi secara bertahap berpotensi meningkatkan fungsi seksual dan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Banyak mantan perokok melaporkan peningkatan stamina, kualitas ereksi, hingga membaiknya fungsi seksual setelah menghentikan kebiasaan merokok.

Meski demikian, proses pemulihan tidak berlangsung sama pada setiap orang. Faktor usia, kondisi kesehatan, serta lama paparan nikotin menjadi penentu utama keberhasilan pemulihan tersebut.

Jangan Abaikan Gangguan Fungsi Seksual

Apabila mengalami penurunan gairah seksual atau gangguan fungsi seksual yang berlangsung dalam waktu lama, masyarakat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Gangguan tersebut tidak selalu disebabkan oleh nikotin atau kebiasaan merokok. Faktor lain seperti penyakit kronis, efek samping obat-obatan, gangguan hormonal, hingga masalah psikologis juga dapat menjadi penyebabnya.

Pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab yang mendasari sekaligus menentukan penanganan yang sesuai. Dengan demikian, masalah kesehatan seksual dapat ditangani lebih dini sebelum memengaruhi kualitas hidup secara lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online