Popcorn Brain pada Anak Makin Marak, Ini Penyebab dan Solusinya

Jumali
Jumali Senin, 06 Juli 2026 15:17 WIB
Popcorn Brain pada Anak Makin Marak, Ini Penyebab dan Solusinya

Foto ilustrasi anak bermain ponsel. - Foto dibuat oleh AI/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Kemudahan akses terhadap media sosial dan berbagai platform digital membawa manfaat sekaligus tantangan bagi perkembangan anak. Salah satu fenomena yang kini banyak dibahas para ahli adalah popcorn brain, kondisi ketika otak terbiasa menerima stimulasi cepat sehingga sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama.

Fenomena ini kerap terlihat dalam aktivitas sehari-hari. Seorang anak yang sedang mengerjakan tugas sekolah bisa tiba-tiba beralih memeriksa notifikasi ponsel, lalu beberapa saat kemudian menonton video pendek di media sosial. Perpindahan perhatian yang berlangsung terus-menerus inilah yang menjadi ciri utama popcorn brain.

Dilansir dari Parents, istilah popcorn brain pertama kali diperkenalkan oleh David Levy, ilmuwan komputer dari University of Washington, untuk menggambarkan kondisi mental ketika pikiran melompat cepat dari satu tugas, informasi, atau pemikiran ke hal lain layaknya biji jagung yang meletup saat dipanaskan.

Dipicu Stimulasi Digital yang Berlebihan

Para pakar menjelaskan bahwa otak manusia secara alami tertarik pada hal-hal baru. Ketika anak menerima notifikasi, komentar, tanda suka, atau menonton video yang menarik, otak akan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa senang dan penghargaan.

Paparan yang berlangsung berulang-ulang membuat otak terbiasa mendapatkan kepuasan secara instan. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan kesabaran dan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku, belajar, atau mendengarkan penjelasan guru, terasa kurang menarik dibandingkan konten digital yang bergerak cepat.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membentuk pola perhatian yang terfragmentasi sehingga anak lebih sulit berkonsentrasi pada satu aktivitas dalam waktu lama.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meski bukan diagnosis medis resmi seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), popcorn brain memiliki sejumlah karakteristik yang mirip dengan gangguan perhatian.

Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  • Sulit fokus pada satu tugas hingga selesai.
  • Cepat merasa bosan saat belajar atau membaca.
  • Sering berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain.
  • Kesulitan mengikuti instruksi yang terdiri dari beberapa tahap.
  • Mudah terdistraksi oleh notifikasi atau suara ponsel.
  • Mengalami kelelahan mental akibat terlalu banyak stimulasi.
  • Meningkatnya rasa gelisah atau cemas ketika jauh dari perangkat digital.

Anak yang mengalami kondisi ini juga cenderung merasa frustrasi saat harus mengikuti aktivitas yang berlangsung lebih lambat dibandingkan ritme media sosial yang mereka konsumsi setiap hari.

Dampaknya terhadap Proses Belajar

Kemampuan fokus merupakan salah satu keterampilan penting dalam perkembangan anak. Ketika perhatian terus-menerus terpecah, proses memahami informasi baru menjadi kurang optimal.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi prestasi akademik, kemampuan menyelesaikan tugas, hingga kualitas interaksi sosial. Anak juga berisiko kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir mendalam karena terbiasa menerima informasi secara cepat dan singkat.

Selain itu, ketergantungan pada stimulasi digital dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa kurang menarik sehingga motivasi belajar menurun.

Peran Orang Tua Sangat Penting

Para ahli menilai langkah paling efektif untuk mengurangi risiko popcorn brain adalah menciptakan kebiasaan digital yang sehat di lingkungan keluarga.

Orang tua dapat mulai dengan membatasi notifikasi yang tidak penting agar anak tidak terus-menerus terdistraksi. Menentukan waktu bebas gawai, seperti saat makan bersama atau menjelang tidur, juga dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital.

Selain membuat aturan, orang tua perlu menjadi contoh yang baik. Anak cenderung meniru kebiasaan orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, membiasakan diri meletakkan ponsel saat berbicara dengan anak atau saat berkumpul bersama keluarga dapat menjadi langkah sederhana namun efektif.

Melalui pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar kembali menikmati aktivitas tanpa gangguan digital dan melatih kemampuan fokus secara bertahap. Di tengah derasnya arus informasi digital, keseimbangan penggunaan teknologi menjadi kunci agar perkembangan anak tetap berjalan optimal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online