Sandiaga: Desa Wisata Bakal Jadi Winner
Kunjungan di Desa-desa Wisata naik sebesar 30 persen pada masa pandemi di saat sektor pariwisata lainnya mengalami kontraksi.
Sapardi Djoko Damono
Harianjogja.com, JAKARTA -- Pencinta sastra Tanah Air berduka dengan berpulangnya seorang sastrawan kenamaan Sapardi Djoko Damono pada hari ini, Minggu (19/7/2020). Pria yang akrab disapa SDD itu meninggal di usianya yang ke-80 tahun.
Peraih penghargaan pencapaian seumur hidup di bidang kebudayaan dari Ubud Writeres & Readers Festival itu, merupakan salah satu penulis dan penyair yang terbilang sangat aktif.
Sejak duduk di bangku SMA, Sapardi telah mulai menulis dan menerjemahkan puisi, cerpen, novel, essai, dan drama yang diantaranya telah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU).
Baca juga: Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia, Seperti Ini Perjalanan Hidup Sang Pujangga
Meski usianya tak lagi muda, tetapi Sapardi masih aktif menulis. Dalam sebuah kesempatan, saat peluncuran kumpulan cerpen Sepasang Sepatu Tua di UI pada 2019 lalu, Sapardi pernah mengatakan hal lain yang membuatnya terus memiliki ide dalam menulis karena hobinya yang rajin membaca.
Pensiunan Guru Besar UI ini mengaku senang membaca sejak duduk dibangku SD sampai akhirnya masuk ke jurusan Sastra Barat. Di situ, Sapardi mempelajari banyak bahasa mulai dari Inggris, Perancis, Jerman, dan Latin.
“Dari situ saya mulai membaca macam-macam yang kemudian masuk dalam otak saya. Sebagai penulis, saya banyak terinspirasi dari karya-karya besar tersebut. Itulah, mengapa dalam setiap penulisan saya di setiap buku akan berbeda,” cerita Sapardi pada Bisnis semasa mendiang masih hidup tahun lalu.
Baca juga: Puisi-Puisi Terpopuler Sapardi Djoko Damono, Sederhana Namun Penuh Makna Kehidupan
Meski aktif menulis, pria kelahiran 20 Maret 1940 ini mengaku pernah mengalami stagnasi atau writers block dalam proses kreatifnya. Itulah sebabnya, dia menulis berbagai macam karya mulai dari puisi, cerpen, novel, hingga drama.
“Jadi kalau yang di sini macet ya sudah berhenti saja. Tapi saya bisa membuat karya lainnya jadi tidak terasa ada ada block dalam penulisan,” tuturnya.
Apalagi, diakui olehnya bahwa sering kali tokoh yang ada di dalam bukunya, terutama di novel atau cerpen, ngeyel dan tidak mau menuruti jalan cerita yang sudah dibuat olehnya sebagai pengarang.
“Sekarang saya sedang proses menulis novel, tapi belum jadi-jadi karena tokohnya yang ngeyel dan tidak mau manut. Tapi kalau ngeyel terus, dan saya marah, ya saya buang [tokoh utamanya],” jelas pujangga penerima berbagai penghargaan di bidang sastra dan kebudayaan ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Kunjungan di Desa-desa Wisata naik sebesar 30 persen pada masa pandemi di saat sektor pariwisata lainnya mengalami kontraksi.
Kementerian HAM mendukung potongan aplikator ojol maksimal 8 persen demi perlindungan pekerja digital dan keadilan ekonomi platform.
Selamat pagi pembaca setia Harianjogja.com. Semoga aktivitas Anda hari ini berjalan lancar dan penuh energi positif. Dari tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat.
Permintaan pisau kurban dan kapak sembelih di Kulonprogo melonjak hingga 100 persen menjelang Iduladha 2026.
9 WNI peserta flotilla Gaza ditangkap Israel. Kemlu RI bergerak cepat menempuh jalur diplomatik dan perlindungan kekonsuleran.
BPKAD Kota Jogja mengimbau warga membayar pajak daerah lewat virtual account agar lebih aman dan terhindar dari modus penipuan.