40.000 Kopdes Merah Putih Siap Beroperasi pada Oktober 2026
Pemerintah targetkan 40.000 Kopdes Merah Putih beroperasi Oktober 2026 untuk dorong ekonomi desa dan distribusi bantuan.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, JAKARTA—Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra menegaskan kematangan emosi orang tua menjadi kunci utama mencegah kekerasan terhadap anak sejak usia dini.
Novi menegaskan, kematangan emosional idealnya sudah terbentuk jauh sebelum seseorang menikah dan memiliki anak.
“Seseorang yang siap jadi orang tua itu harus mampu mengelola dan meregulasi emosinya dengan baik. Secara sosial, ia juga mampu berkomunikasi dalam berbagai situasi dan membangun relasi yang sehat,” kata Novi, Rabu (17/12/2025).
Novi mengatakan, indikator psikologis seseorang siap menjadi orang tua dapat dilihat dari kematangan emosional, kognitif, dan sosial yang tecermin dalam perilaku sehari-hari.
Adapun kematangan emosional apabila seseorang memiliki kemampuan untuk mengelola respons emosinya secara stabil dan terukur.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi orang tua sangat berpengaruh terhadap risiko kekerasan pada anak, terutama pada usia 0–7 tahun.
Pada rentang usia tersebut, anak belajar secara bawah sadar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari orang-orang terdekat, khususnya orang tua.
Novi menyebut proses tersebut dikenal sebagai teori "social learning", di mana anak belajar meniru perilaku orang terdekat secara tidak sadar.
“Anak belajar mengenal emosi dan cara mengelolanya dari orang tuanya. Jika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru hal yang sama, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.
Selanjutnya secara kognitif, individu tersebut mampu berpikir seimbang antara rasional dan intuitif dalam mengambil keputusan serta mampu menghadapi persoalan secara kompleks.
Kemudian secara sosial, seseorang sudah mampu melakukan komunikasi dengan berbagai situasi dan kondisi sesuai konteks serta membangun relasi yang baik.
Lebih lanjut, ia menyebutkan tanda-tanda stres berat pada orang tua yang berpotensi membahayakan anak, antara lain munculnya agresivitas pasif seperti menarik diri, diam, dan memutus komunikasi, maupun agresivitas aktif berupa kekerasan verbal dan fisik.
Oleh karena itu, Novi menilai edukasi dan pendampingan parenting sangat penting dan sebaiknya dimulai sejak dini, termasuk melalui pendidikan emosi sosial di sekolah.
Selain itu, persiapan menjadi orang tua sebelum menikah serta pengenalan terhadap respons pasangan saat menghadapi tekanan juga dinilai penting sebagai langkah pencegahan kekerasan terhadap anak.
"Pendidikan menjadi orangtua sebelum menikah dengan melakukan cek pada perilaku pasangan atau calon pasangan, terutama ketika menghadapi situasi tidak biasa. Bagaimana reaksinya? Itu sangat penting," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pemerintah targetkan 40.000 Kopdes Merah Putih beroperasi Oktober 2026 untuk dorong ekonomi desa dan distribusi bantuan.
Simak cara tukar uang rusak di Bank Indonesia melalui PINTAR BI, lengkap dengan syarat, jadwal layanan, dan ketentuan penggantian.
Pemkot Pekalongan mencatat 11.090 penerima PKH desil 1-4 dan mendorong warga yang sudah mampu melakukan graduasi mandiri.
SMAN 3 Yogyakarta membuka SPMB Online jalur murid cadangan dengan kuota satu kursi. Simak jadwal seleksi, pengumuman, dan daftar ulang.
Program normalisasi Sungai Jogja menjadi fokus Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja untuk menekan risiko banjir sekaligus memperbaiki kualitas kawasan bantaran sungai
Kecelakaan di Berbah, Sleman, menewaskan seorang pemotor setelah diduga kehilangan konsentrasi dan terpental ke jalur berlawanan.