KKI 2026 Buka Jalan UMKM Banyumas Raya ke Pasar Ekspor
UMKM Banyumas Raya mencatat potensi ekspor US$26.000 atau sekitar Rp460 juta melalui business matching KKI 2026.
Kekerasan - Ilustrasi
Harianjogja.com, JAKARTA—Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra menegaskan kematangan emosi orang tua menjadi kunci utama mencegah kekerasan terhadap anak sejak usia dini.
Novi menegaskan, kematangan emosional idealnya sudah terbentuk jauh sebelum seseorang menikah dan memiliki anak.
“Seseorang yang siap jadi orang tua itu harus mampu mengelola dan meregulasi emosinya dengan baik. Secara sosial, ia juga mampu berkomunikasi dalam berbagai situasi dan membangun relasi yang sehat,” kata Novi, Rabu (17/12/2025).
Novi mengatakan, indikator psikologis seseorang siap menjadi orang tua dapat dilihat dari kematangan emosional, kognitif, dan sosial yang tecermin dalam perilaku sehari-hari.
Adapun kematangan emosional apabila seseorang memiliki kemampuan untuk mengelola respons emosinya secara stabil dan terukur.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi orang tua sangat berpengaruh terhadap risiko kekerasan pada anak, terutama pada usia 0–7 tahun.
Pada rentang usia tersebut, anak belajar secara bawah sadar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan dari orang-orang terdekat, khususnya orang tua.
Novi menyebut proses tersebut dikenal sebagai teori "social learning", di mana anak belajar meniru perilaku orang terdekat secara tidak sadar.
“Anak belajar mengenal emosi dan cara mengelolanya dari orang tuanya. Jika orang tua mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan meniru hal yang sama, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.
Selanjutnya secara kognitif, individu tersebut mampu berpikir seimbang antara rasional dan intuitif dalam mengambil keputusan serta mampu menghadapi persoalan secara kompleks.
Kemudian secara sosial, seseorang sudah mampu melakukan komunikasi dengan berbagai situasi dan kondisi sesuai konteks serta membangun relasi yang baik.
Lebih lanjut, ia menyebutkan tanda-tanda stres berat pada orang tua yang berpotensi membahayakan anak, antara lain munculnya agresivitas pasif seperti menarik diri, diam, dan memutus komunikasi, maupun agresivitas aktif berupa kekerasan verbal dan fisik.
Oleh karena itu, Novi menilai edukasi dan pendampingan parenting sangat penting dan sebaiknya dimulai sejak dini, termasuk melalui pendidikan emosi sosial di sekolah.
Selain itu, persiapan menjadi orang tua sebelum menikah serta pengenalan terhadap respons pasangan saat menghadapi tekanan juga dinilai penting sebagai langkah pencegahan kekerasan terhadap anak.
"Pendidikan menjadi orangtua sebelum menikah dengan melakukan cek pada perilaku pasangan atau calon pasangan, terutama ketika menghadapi situasi tidak biasa. Bagaimana reaksinya? Itu sangat penting," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
UMKM Banyumas Raya mencatat potensi ekspor US$26.000 atau sekitar Rp460 juta melalui business matching KKI 2026.
BNPB mencatat korban gempa NTT bertambah menjadi 103 orang. Sebanyak 1.666 warga mengalami luka dan penanganan masih dilakukan.
Jonatan Christie resmi menjadi tunggal putra nomor satu dunia setelah BWF memperbarui peringkat pada Selasa, 25 Agustus 2026.
Tottenham resmi mendatangkan Savinho dari Manchester City. Winger Brasil itu dikabarkan ditebus 85 juta pound sterling atau sekitar Rp2 triliun.
Prabowo menargetkan Indonesia berhenti impor minyak dan LPG dalam tiga tahun dengan pembangunan PLTS 100 GWp dan penguatan energi nasional.
Kekeringan Sukoharjo meluas. Sebanyak 3.300 jiwa dan tiga sekolah di sembilan desa terdampak krisis air bersih.