Fantastis, Potongan Rambut Ludwig van Beethoven Dilelang Rp270 Juta
Potongan rambut Ludwig van Beethoven yang dipotong sendiri oleh sang komposer Jerman dan diberikan kepada seorang pianis pada 1826, dilelang oleh rumah lelang Inggris Sotheby.
Wisata medis/travelinsuranceoffie.com
Harianjogja.com, JAKARTA – Banyak orang Indonesia memilih berobat di luar negeri daripada di dalam negeri sendiri. Konsep wisata kesehatan atau health tourism, sekarang ini menjadi andalan penopang daya saing pelayanan kesehatan di Indonesia. Namun, kenyataannya untuk bisa bersaing dengan pelayanan kesehatan di luar negeri masih dibutuhkan sejumlah kebijakan dari pemerintah.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih mengungkapkan kompetisi di antara rumah sakit di dalam negeri dengan luar negeri ada pada faktor kompetitif atau tidak kompetitifnya rumah sakit.
“Kita memang memiliki gap dengan yang di luar negeri, terutama negara-negara tetangga, seperti Penang (Malaysia), Singapura. Namun, menurut beberapa kawan yang menerima pasien yang berobat ke sana, hal itu karena faktor teknologi dan biaya,” ujarnya.
Berdasarkan temuan itu, Daeng mengatakan, industri kesehatan di Tanah Air membutuhkan kebijakan makro dari pemerintah yang terkait dengan obat dan alat.
Hal itu penting untuk menurunkan biaya. “Di Penang, Malaysia itu, bedah jantung terbuka dengan kualitas yang sama di Indonesia, biayanya bisa separuh dari Indonesia. Jadi murah sekali mereka.”
Dia mencontohkan, jika di Indonesia berbiaya Rp250 juta, mereka berani kasih harga Rp100 juta.
Daeng mengungkapkan bahwa murahnya biaya pengobatan itu disebabkan oleh faktor pembebasan pajak. Di Penang Malaysia, pajak alat kesehatan 0%. Jadi, manajemen rumah sakit dapat menekan biaya pelayanan.
Dia menjelaskan, jika Indonesia tidak dapat berkompetisi di area itu, maka selamanya biaya pelayanan kesehatan di Tanah Air akan jauh lebih tinggi. Pada akhirnya rumah sakit di Indonesia tidak dapat bersaing dengan rumah sakit di luar negeri.
Daeng mendorong agar pemerintah menerapkan kebijakan yang memacu pelayanan kesehatan nasional agar lebih kompetitif dibandingkan dengan layanan kesehatan di mancanegara. Selain itu, teknologi kesehatan juga harus dimutakhirkan.
“Jadi, faktor utamanya adalah penguasaan teknologi. Semua itu berpengaruh, mereka [rumah sakit lokal] takut membeli teknologi karena pajaknya tinggi,” ungkapnya.
Faktor lainnya, imbuh Daeng, adalah keramahan dalam pelayanan. Pelaku pelayanan di rumah sakit di Indonesia seharusnya menghadapi pasien dengan lebih ramah. Mulai dari dokter, perawat, hingga jajaran lainnya.
“Di luar negeri, hospitality-nya tinggi. Nah, itu yang perlu digenjot, selain tadi penguasaan teknologi didukung dengan biaya yang murah, strateginya dengan menurunkan pajak, dan menyusul berikutnya adalah hospitality.”
Menurutnya, daya saing rumah sakit nasional dapat didorong dengan memotivasi karyawan atau tenaga kesehatan dengan sistem reward yang jelas.
Dia mengatakan, IDI tengah mendorong pemerintah untuk melakukan pemetaan kesenjangan kompetensi sumber daya manusia dengan mancanegara. Jadi, pasien makin diuntungkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Potongan rambut Ludwig van Beethoven yang dipotong sendiri oleh sang komposer Jerman dan diberikan kepada seorang pianis pada 1826, dilelang oleh rumah lelang Inggris Sotheby.
Veda Ega Pratama gagal lolos Q2 Moto3 Catalunya 2026 dan akan memulai balapan dari posisi ke-21 di Barcelona.
Akses parkir bus Abu Bakar Ali II Jogja diatur satu arah. Bus wisata wajib memutar lewat Stadion Kridosono menuju Malioboro.
Presiden Prabowo menyebut sejumlah negara kini meminta membeli beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.
Pendaki asal Riau patah tulang saat mendaki Gunung Rinjani. Tim TNGR dan EMHC lakukan evakuasi di jalur Pelawangan Sembalun.
DPP Gunungkidul menyiapkan strategi antisipasi gagal panen saat musim kemarau dengan percepatan tanam dan benih padi umur pendek