Puasa, Tak Perlu Khawatir Maag Kambuh

Yoseph Pencawan
Yoseph Pencawan Sabtu, 19 Mei 2018 14:35 WIB
Puasa, Tak Perlu Khawatir Maag Kambuh

Warga memilih makanan untuk berbuka puasa di Pasar Takjil Benhil, Jakarta./Antara-Wahyu Putro A

Harianjogja.com, JAKARTA-Maag kambuh karena puasa? Sebenarnya Anda tidak perlu khawatir asalkan memperhatikan hal-hal ini.
 
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam menjelaskan, secara umum, penderita sakit maag sebagian besar adalah sakit maag fungsional, yaitu mereka yang jika dilakukan evaluasi tidak ditemukan adanya kelainan.
 
"Pasien dengan maag fungsional biasanya dengan berpuasa, keluhan sakit maagnya berkurang dan merasa lebih sehat pada saat berpuasa," kata dia belum lama ini.
 
Hal ini, jelasnya, terjadi karena keluhan sakit maag timbul akibat ketidakteraturan makan serta konsumsi makanan camilan, seperti makanan yang berlemak serta berasa asam dan pedas, sepanjang hari. Begitu juga mengonsumsi minuman bersoda, minum kopi, merokok dan juga faktor-faktor lain, seperti stres.
 
Nah, selama berpuasa mereka pasti akan makan lebih teratur karena hanya dua kali dengan waktu yang lebih kurang sama setiap hari, yaitu saat sahur dan berbuka. "Keteraturan inilah yang bisa membuat pasien dengan sakit maag tersebut bisa sembuh."
 
Bukan hanya itu. Dia melanjutkan bahwa dalam berpuasa masing-masing individu juga melakukan pengendalian diri yang menjadi faktor penting untuk tetap sehat. Jiwa yang sehat merupakan kunci agar hidup tetap sehat.
 
Berbagai macam sakit fisik terjadi karena jiwa yang terganggu. Seperti pada penyakit psikosomatik, misalnya penderita maag yang cemas cenderung mengalami peningkatan asam lambung dan kemudian sakit maagnya kambuh.
 
Penderita hipertensi akan naik tensinya jika mengalami ganguan emosi, penderita asma bisa kambuh bila dalam keadaan stress. Kondisi jantung berdebar-debar, tangan berkeringat, pegal-pegal ditengkuk juga bisa berhubugan dengan faktor psikis.
 
"Dengan pengendalian diri selama berpuasa, faktor-faktor psikis yang bisa mengganggu fisik tersebut mudah-mudahan tidak akan muncul. Apalagi jika keteraturan yang telah terbina selama puasa juga tetap diteruskan setelah bulan Ramadan."
 
 
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online