Indonesia Bidik Wisatawan Eropa Lewat 5 Produk Wisata Unggulan
Indonesia menawarkan lima produk wisata unggulan di WTM London 2026 untuk menarik wisatawan Eropa dan memperkuat pasar pariwisata premium.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Obesitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga kesehatan mental. Stigma dan komentar negatif mengenai berat badan dapat memicu tekanan psikologis, mengganggu pola makan, hingga membuat seseorang enggan mencari bantuan medis.
Sebaliknya, gangguan kesehatan mental juga dapat memengaruhi pengelolaan berat badan. Hubungan dua arah tersebut membuat penanganan obesitas tidak cukup hanya dengan mengandalkan perubahan pola makan dan aktivitas fisik.
Dokter spesialis kesehatan jiwa, dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan obesitas dan kesehatan mental saling memengaruhi melalui faktor biologis, psikologis, maupun sosial.
“Hubungan antara obesitas dengan kesehatan mental itu berjalan dua arah, jadi obesitas mempengaruhi kesehatan mental dan kesehatan mental mempengaruhi obesitas juga,” kata Putri dalam diskusi media Novo Indonesia di Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).
Stigma berat badan dapat memperburuk kesehatan mental
Menurut Putri, orang dengan obesitas dapat menghadapi hambatan ketika melakukan aktivitas fisik. Padahal, aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga kesehatan mental serta membantu mengurangi risiko perburukan gejala kecemasan dan depresi.
Selain hambatan aktivitas fisik, stigma terhadap berat badan juga dapat menambah beban psikologis. Stigma tersebut bisa muncul melalui komentar negatif secara langsung, kekhawatiran terus-menerus terhadap penilaian orang lain, hingga sikap menyalahkan diri sendiri karena kondisi berat badan.
“Perkataan-perkataan yang bersifat stigmatis seperti itu, bukannya membuat kita lebih termotivasi, justru counterproductive,” ujar Putri.
Pengalaman menerima stigma dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Dampaknya juga bisa terlihat pada keputusan untuk mencari bantuan profesional.
Alih-alih mendorong seseorang mengelola obesitas, komentar yang menghakimi justru berpotensi menghambat upaya penanganan kondisi tersebut.
Depresi dapat memicu kebiasaan makan berlebihan
Putri menjelaskan penurunan kondisi kesehatan mental dapat membuat seseorang mencari cara cepat untuk meredakan perasaan negatif. Salah satu respons yang dapat muncul adalah stress eating, yaitu kebiasaan makan sebagai respons terhadap stres.
“Yang paling sering terjadi itu stress eating, sehingga orang dengan kondisi kesehatan mental akan banyak mengalami obesitas. Motivasi untuk olahraga juga menjadi menurun terutama pada kondisi depresi,” jelas Putri.
Dengan demikian, kondisi psikologis seseorang dapat memengaruhi kebiasaan makan dan aktivitas fisik. Ketika motivasi berolahraga menurun, sementara kebiasaan makan sebagai respons terhadap stres meningkat, pengelolaan berat badan bisa semakin sulit.
Obesitas bukan hanya persoalan kemauan
Putri mengingatkan bahwa obesitas tidak bisa semata-mata dipandang sebagai persoalan kemauan individu. Pandangan yang hanya menekankan tanggung jawab pribadi berisiko mengabaikan faktor biologis dan lingkungan yang turut memengaruhi kondisi tersebut.
Perilaku makan, misalnya, tidak hanya ditentukan oleh kemauan seseorang. Hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, kondisi otak, serta respons tubuh terhadap stres juga berperan dalam membentuk pola makan.
Putri mencontohkan hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang dapat dipengaruhi kondisi kesehatan mental maupun penggunaan obat-obatan psikiatri tertentu. Akibatnya, seseorang berpotensi lebih mudah merasa lapar atau lebih sulit mencapai rasa kenyang.
“Kalau kita hanya membicarakan kurang motivasi, itu kita baru membicarakan sepertiga dari masalah sebenarnya. Kalau kita hanya bilang, eat less, move more, kita baru membicarakan sepertiga dari solusi sebenarnya,” kata Putri.
Menurutnya, penanganan obesitas perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan berbagai faktor. Upaya tersebut mencakup perubahan hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang, pengaturan neurotransmitter di otak untuk mengurangi perilaku mencari makanan yang bersifat rewarding, serta intervensi terhadap perilaku makan.
Stigma membuat orang enggan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan
Selain memengaruhi kondisi psikologis, stigma berat badan juga dapat menghalangi seseorang untuk membicarakan obesitas dengan tenaga kesehatan profesional.
Putri mengutip temuan yang menunjukkan hanya sekitar tiga dari 10 orang dengan obesitas yang membicarakan kondisi berat badannya kepada tenaga kesehatan profesional.
Salah satu faktor penghambatnya adalah ketakutan mendapatkan respons yang menghakimi. Padahal, obesitas merupakan kondisi kesehatan yang dapat ditangani melalui pendampingan profesional.
Karena itu, pendekatan terhadap orang dengan obesitas perlu memperhatikan kondisi fisik dan mental sekaligus. Menghindari komentar yang menstigmatisasi juga menjadi bagian penting agar seseorang tidak semakin terhambat dalam mencari bantuan dan menjalani penanganan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Indonesia menawarkan lima produk wisata unggulan di WTM London 2026 untuk menarik wisatawan Eropa dan memperkuat pasar pariwisata premium.
Dokter menjelaskan hubungan dua arah obesitas dan depresi. Stigma berat badan dapat memicu tekanan psikologis hingga menghambat penanganan.
Simak cara download film bioskop sub Indo di Netflix dan Disney+, termasuk langkah mengaktifkan subtitle serta syarat mengunduh tayangan.
Pemprov Jateng menggelar program cashback pajak kendaraan 5 November–31 Desember 2026. Simak kuota penerima dan persyaratannya.
Kajian UGM dan Egis mencatat 79% emisi angkutan barang Jawa-Bali berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
BPS menjelaskan alasan pertumbuhan ekonomi 5,47% pada kuartal III/2026 belum dirasakan merata oleh seluruh kelompok masyarakat.