Sering Membandingkan Karier dengan Teman Sebaya? Ini Dampaknya bagi Masa Depan

Jumali
Jumali Kamis, 05 November 2026 12:17 WIB
Sering Membandingkan Karier dengan Teman Sebaya? Ini Dampaknya bagi Masa Depan

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Melihat teman sebaya sudah mendapatkan pekerjaan impian, naik jabatan, melanjutkan pendidikan S2, atau memiliki penghasilan lebih tinggi terkadang membuat seseorang merasa tertinggal. Kondisi ini bisa memunculkan pertanyaan tentang perkembangan karier sendiri, terutama ketika pencapaian orang lain terlihat lebih cepat.

Perasaan tersebut sebenarnya wajar. Namun, kebiasaan membandingkan perjalanan karier secara berlebihan justru bisa mengikis kepercayaan diri dan membuat seseorang sulit menghargai proses yang sedang dijalani.

Padahal, setiap orang memiliki kesempatan, tantangan, serta prioritas berbeda. Karena itu, pencapaian teman sebaya sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.

1. Terlalu Fokus pada Pencapaian Orang Lain

Media sosial membuat seseorang semakin mudah mengetahui perkembangan karier teman-temannya. Mulai dari mendapatkan promosi jabatan, bekerja di perusahaan besar, melanjutkan pendidikan, hingga berhasil membangun bisnis sendiri.

Sayangnya, unggahan tersebut biasanya hanya memperlihatkan hasil akhir. Proses panjang, kegagalan, pengorbanan, dan kesulitan yang mereka hadapi tidak selalu terlihat.

Jika terus menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk menghargai kemajuan dirinya sendiri. Bahkan, perkembangan kecil yang sebenarnya penting justru dianggap tidak berarti.

2. Setiap Orang Memiliki Waktu Perkembangan Karier Berbeda

Tidak semua orang memiliki perjalanan karier yang sama. Ada yang langsung memperoleh pekerjaan setelah lulus kuliah, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan pekerjaan sesuai minat dan kemampuannya.

Hal serupa berlaku dalam pendidikan. Sebagian orang memilih melanjutkan kuliah S2 setelah menyelesaikan pendidikan sarjana. Sementara itu, sebagian lainnya lebih memilih mengumpulkan pengalaman kerja atau memperkuat kondisi finansial terlebih dahulu.

Tidak ada satu jalur karier yang wajib diikuti semua orang. Pilihan yang tepat bagi teman belum tentu menjadi keputusan terbaik bagi diri sendiri.

Memahami perbedaan tersebut dapat membantu seseorang lebih realistis dalam menentukan target dan mengukur perkembangan kariernya.

3. Membandingkan Karier Bisa Memicu Keputusan Terburu-buru

Perasaan tertinggal terkadang mendorong seseorang mengambil keputusan hanya untuk menyamai pencapaian orang lain.

Misalnya, memutuskan kuliah S2 tanpa mempertimbangkan kesiapan finansial, berpindah pekerjaan karena melihat teman memperoleh gaji lebih tinggi, atau menerima pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan karier.

Keputusan yang diambil karena tekanan perbandingan berisiko menimbulkan penyesalan apabila tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi.

Sebelum mengambil langkah besar, penting untuk memahami alasan di balik keinginan tersebut. Pertimbangkan manfaat, risiko, kesiapan, serta tujuan jangka panjang agar keputusan yang diambil benar-benar memberikan dampak positif.

4. Fokus pada Perkembangan dan Target Diri Sendiri

Daripada terus membandingkan pencapaian, cobalah mengevaluasi perkembangan karier secara berkala. Perhatikan keterampilan yang sudah dikuasai, pengalaman yang diperoleh, serta kemampuan yang masih perlu ditingkatkan.

Buat target yang realistis sesuai kondisi dan prioritas saat ini. Jika ingin mendapatkan pekerjaan lebih baik, mulailah memperbarui portofolio, memperluas jaringan profesional, atau mempelajari keterampilan baru.

Jika memiliki rencana melanjutkan pendidikan, persiapkan kebutuhan akademik dan finansial sejak dini. Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu mendekatkan diri pada tujuan karier.

Menggunakan pencapaian teman sebagai inspirasi tentu tidak salah. Namun, jangan sampai perjalanan orang lain membuat kita meragukan setiap langkah yang sedang diperjuangkan.

Karier bukan perlombaan dengan garis akhir yang sama. Setiap orang memiliki perjalanan dan prioritas masing-masing. Karena itu, lebih baik fokus membangun kemampuan serta menghargai perkembangan diri daripada terus mengejar standar keberhasilan orang lain.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online