Serangan Siber Sasar Bank Prancis, Dugaan Dana Rp2 Triliun Dicuri
Crédit Mutuel Arkéa mengonfirmasi serangan siber yang memicu transaksi ilegal. Dugaan kerugian US$133 juta belum dikonfirmasi bank.
Poster korean drama, A Shop for Killers yang diperankan Lee Dong Wook dan Kim Hye Jun. Istimewa/IMDB
Harianjogja.com, JOGJA—Popularitas drama Korea (Drakor) di berbagai negara belum sepenuhnya menjamin keberlangsungan industri produksinya di Korea Selatan. Sebanyak 12 kelompok industri hiburan di negara tersebut memperingatkan bahwa fondasi produksi drama televisi semakin tertekan dan meminta pemerintah menyiapkan dana investasi khusus senilai 1 triliun won atau sekitar Rp13,5 triliun.
Desakan itu disampaikan pada Rabu (4/11/2026). Dana tersebut diharapkan dapat menopang produksi Drakor di tengah penurunan jumlah judul yang diproduksi, meningkatnya biaya operasional, serta semakin terbatasnya kemampuan lembaga penyiaran lokal untuk berinvestasi.
Mengutip Channel News Asia (CNA), Kamis (5/11/2026), kelompok yang mewakili produser, sutradara, penulis, aktor, juru kamera, hingga kru produksi itu menilai penurunan jumlah drama berpotensi mengganggu regenerasi pekerja kreatif.
Data Korea IR Service menunjukkan jumlah drama yang diproduksi di Korea Selatan turun dari 141 judul pada 2022 menjadi sekitar 115 judul pada 2025.
Penurunan juga terlihat pada tiga jaringan televisi domestik. Jumlah drama yang mereka produksi menyusut dari 91 judul pada 2012 menjadi hanya 32 judul pada 2023. Bahkan, beberapa saluran televisi telah menghentikan penayangan drama pada hari kerja.
Ketua Asosiasi Produksi Drama Korea, Song Byeong-joon, menilai situasi tersebut mempersempit kesempatan bagi talenta baru untuk mengembangkan karier.
"Lingkungan seperti itu menyulitkan karya kedua penulis baru, peran utama pertama aktor pendukung, dan debut penyutradaraan anggota kru asisten," kata Song.
Kelompok industri tersebut mengaitkan penurunan produksi drama berdurasi panjang dengan meningkatnya biaya pembuatan konten. Persaingan dengan layanan streaming global seperti Netflix disebut ikut mendorong kenaikan biaya, sementara kemampuan investasi lembaga penyiaran lokal semakin terbatas.
Persoalan tidak berhenti pada persaingan antarlayanan streaming. Industri drama Korea juga harus berebut perhatian penonton dengan konten berdurasi pendek dan menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), baik dalam persaingan mendapatkan audiens maupun proses produksi.
Laporan Korea IR Service pada 2025 menyebut bayaran aktor papan atas menjadi salah satu pendorong utama kenaikan biaya produksi. Nilai honor mereka meningkat seiring persaingan layanan streaming untuk mendapatkan bintang yang mampu menarik banyak penonton.
Kondisi tersebut membuat perusahaan produksi menghadapi tekanan biaya yang semakin besar. Di sisi lain, berkurangnya investasi dari penyiaran lokal turut membatasi jumlah proyek drama yang dapat dikerjakan.
Meski kelompok industri memperingatkan ancaman terhadap basis produksi drama, sejumlah data menunjukkan kondisi sektor konten Korea Selatan secara keseluruhan tidak sepenuhnya mengalami penurunan.
Profesor Administrasi Bisnis Sun Moon University, Kim Yong-hee, menilai persoalan yang disampaikan kelompok industri lebih menggambarkan kemunduran sektor penyiaran terestrial. Menurutnya, kondisi tersebut tidak otomatis mencerminkan penurunan seluruh industri konten.
Data resmi Korea Creative Content Agency menunjukkan jumlah tenaga kerja di industri konten justru meningkat tipis menjadi 693.090 orang pada 2025, dibandingkan 688.122 orang pada tahun sebelumnya.
Namun, sektor penyiaran memang menghadapi tekanan. Survei pemerintah mencatat jumlah tenaga kerja di bidang tersebut turun 2,3% pada 2024.
Perbedaan data ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi industri drama televisi perlu dilihat secara lebih spesifik. Penurunan produksi dan kesempatan kerja di sektor penyiaran tidak serta-merta berarti seluruh industri hiburan Korea Selatan mengalami kemunduran.
Netflix menjadi salah satu perusahaan yang ikut disorot dalam pembahasan kondisi industri drama Korea. Layanan streaming tersebut mulai beroperasi di Korea Selatan pada 2016 dan sebelumnya telah mengumumkan komitmen investasi senilai US$2,5 miliar selama empat tahun pada 2023.
Investasi tersebut ditujukan untuk pasar Korea Selatan, termasuk pengembangan konten lokal. Namun, persaingan mendapatkan aktor dan talenta papan atas juga disebut kelompok industri sebagai salah satu faktor yang mendorong kenaikan biaya produksi.
Juru bicara Netflix Korea yang dihubungi media belum memberikan tanggapan langsung mengenai desakan 12 kelompok industri tersebut.
Permintaan dana investasi senilai 1 triliun won kini menjadi salah satu usulan untuk menjaga keberlanjutan produksi Drakor. Bagi para pekerja kreatif, pemulihan basis produksi bukan hanya soal mempertahankan popularitas drama Korea di pasar global, tetapi juga memastikan penulis baru, aktor pendukung, dan kru produksi tetap memiliki kesempatan untuk berkarya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Crédit Mutuel Arkéa mengonfirmasi serangan siber yang memicu transaksi ilegal. Dugaan kerugian US$133 juta belum dikonfirmasi bank.
Industri drama Korea meminta dana investasi 1 triliun won atau Rp13,5 triliun karena jumlah produksi menurun dan biaya operasional terus meningkat.
Sebanyak 22.555 peserta JKN di Jogja nonaktif pada November 2026. Pemkot menyiapkan Rp39,69 miliar untuk pembiayaan PBI APBD.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya swasembada pangan melalui modernisasi sektor pertanian dari hulu hingga hilir.
Jokowi mengenakan batik parang saat menjadi saksi di PN Jakarta Timur. Simak filosofi, sejarah, dan makna tiga jenis motif batik parang.
Wabah Ebola di RD Kongo telah menyebabkan 5.126 kematian dan menjangkau delapan provinsi. Simak penyebaran kasus serta gejala penyakitnya.