Ebola di RD Kongo Capai 10.532 Kasus, Ini Perkembangan Terbarunya

Jumali
Jumali Kamis, 05 November 2026 13:07 WIB
Ebola di RD Kongo Capai 10.532 Kasus, Ini Perkembangan Terbarunya

Ilustrasi Ebola/Ist-express.co.uk

Harianjogja.com, JOGJA—Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo terus menimbulkan korban jiwa. Hingga awal November 2026, lebih dari 5.100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Penularan juga telah meluas ke delapan dari total 26 provinsi di negara Afrika tengah itu.

Data European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) yang diperbarui pada 4 November 2026 mencatat RD Kongo memiliki 10.532 kasus Ebola terkonfirmasi dan 5.126 kematian. Angka tersebut merupakan data hingga 1 November 2026.

Dengan jumlah tersebut, rasio kematian atau case fatality ratio mencapai sekitar 48,7%. Artinya, hampir separuh kasus terkonfirmasi dalam catatan tersebut berujung pada kematian.

Wabah yang mulai merebak pada Mei 2026 ini disebabkan virus Bundibugyo, salah satu jenis virus Ebola. Pusat penyebaran masih berada di Provinsi Ituri, wilayah timur laut RD Kongo yang menghadapi persoalan keamanan dan konflik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petugas kesehatan dalam mengendalikan penularan. Konflik dan keterbatasan akses layanan kesehatan dapat menghambat pelacakan kontak, pemeriksaan pasien, hingga penanganan orang yang terinfeksi.

Kasus Ebola Juga Ditemukan di Negara Lain

Penularan Ebola yang berkaitan dengan wabah di RD Kongo juga dilaporkan di sejumlah negara. ECDC mencatat kasus di Kenya dan Nigeria pada Oktober 2026. Sementara itu, Uganda sebelumnya juga melaporkan kasus, tetapi wabah di negara tersebut telah berakhir.

Pada 20 Oktober 2026, Nigeria mengonfirmasi satu kasus Ebola pada seseorang yang memiliki riwayat perjalanan dari Uganda. Pasien tersebut kemudian dievakuasi secara medis ke Swiss untuk mendapatkan penanganan. ECDC menyebut puluhan orang yang memiliki kontak dengan pasien telah diidentifikasi dan dipantau.

Di Kenya, hingga 26 Oktober 2026 tercatat sembilan kasus terkonfirmasi, termasuk dua kematian. Seluruh kasus tersebut berkaitan dengan kasus pertama yang dilaporkan di negara itu.

Sementara itu, data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mencatat Uganda memiliki 20 kasus terkonfirmasi dan dua kematian, ditambah satu kasus probable dengan satu kematian probable. Kasus terakhir di Uganda telah dinyatakan pulih dan tidak ada kasus aktif yang dilaporkan.

CDC juga mencatat satu kasus di Prancis yang berkaitan dengan wabah ini. Pasien tersebut telah pulih dan tidak ada kasus aktif di negara itu berdasarkan pembaruan per 1 November 2026.

Wabah Terbesar Kedua dalam Sejarah Ebola

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut wabah yang berlangsung saat ini merupakan wabah Ebola ke-17 dalam sejarah RD Kongo. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat juga menyebut wabah tersebut sebagai yang terbesar kedua dalam catatan sejarah Ebola.

Sebelumnya, RD Kongo pernah mengalami wabah besar pada periode 2018–2020. Sementara itu, wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah terjadi di Afrika Barat pada 2014–2016.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), wabah Afrika Barat tersebut menewaskan lebih dari 11.325 orang. Penularannya meluas ke sejumlah negara dan sempat memicu kasus di luar kawasan Afrika Barat, termasuk Italia, Inggris, dan Amerika Serikat.

WHO juga menyoroti tingginya jumlah kematian dalam wabah yang sedang berlangsung di RD Kongo. Dalam laporan situasi per 20 Oktober 2026, badan kesehatan dunia itu menyebut sebagian besar kematian yang dilaporkan sejak pembaruan sebelumnya terjadi di komunitas, bukan di pusat perawatan. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam mendeteksi pasien lebih awal dan memastikan mereka memperoleh perawatan tepat waktu.

Gejala dan Cara Penularan Virus Ebola

Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat berkembang menjadi kondisi serius. Gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba, antara lain demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan.

Seiring perkembangan penyakit, pasien dapat mengalami muntah, diare, ruam, serta gangguan fungsi organ. Pada sebagian kasus, perdarahan internal maupun eksternal juga dapat terjadi.

Penularan Ebola antarmanusia berlangsung melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh orang yang terinfeksi maupun meninggal akibat penyakit tersebut. Cairan tubuh yang berisiko menularkan antara lain muntahan dan cairan lain yang mengandung virus.

Karena itu, penanganan pasien membutuhkan prosedur pencegahan infeksi yang ketat. Pelacakan orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien, isolasi, pemeriksaan laboratorium, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan wabah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online