Film PIYE TO KIH? Angkat Kisah Cinta Beda Alam dan Pesan Memantaskan Diri

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Sabtu, 24 Oktober 2026 16:37 WIB
Film PIYE TO KIH? Angkat Kisah Cinta Beda Alam dan Pesan Memantaskan Diri

Roadshow film PIYE TO KIH? di Ambarrukmo Plaza, Sleman, Jumat (23/10/2026).

Harianjogja.com, JOGJA — Bagaimana jika perjuangan mencari cinta justru berujung pada kekacauan hidup, terlebih ketika orang yang ditemui berasal dari alam berbeda? Premis itulah yang diangkat film PIYE TO KIH?, produksi MIRACLE Pictures yang memadukan drama, komedi, dan unsur supranatural dengan latar budaya Jawa.

Film yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 19 November 2026 ini mengikuti perjalanan Mukidi, lelaki yang berusaha membuktikan dirinya layak untuk menikah. Namun, kebohongan yang dilakukannya demi meraih keinginan tersebut justru membawa persoalan baru dan membuat kehidupannya berantakan.

Di tengah situasi itu, Mukidi bertemu Sukma, sosok astral perempuan yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuan keduanya perlahan mengubah cara mereka memandang kehidupan, termasuk soal kejujuran, penerimaan diri, serta keberanian mengakui kesalahan.

Sutradara Ito Mavin mengatakan, perpaduan drama, komedi, dan supranatural dalam film tersebut menjadi cara untuk menyampaikan pesan tentang proses seseorang memperbaiki diri.

“Pesannya adalah bagaimana kita sebagai manusia memantaskan diri untuk mendapatkan apa yang kita mau,” kata Ito Mavin saat roadshow film PIYE TO KIH? di Ambarrukmo Plaza, Sleman, Jumat (23/10/2026).

Menurut Ito, perjalanan Mukidi dan Sukma tidak hanya berkutat pada hubungan cinta beda alam. Film tersebut juga mengangkat nilai keikhlasan, ketulusan, dan perjuangan dalam menghadapi persoalan hidup.

“Lain daripada itu adalah tentang keikhlasan, ketulusan, dan perjuangan,” ujarnya.

Angkat Budaya Lokal Lewat Bahasa Jawa

Ito menjelaskan, Jogja menjadi kota kedua dalam rangkaian roadshow PIYE TO KIH? yang menyambangi 17 kota. Ia menilai Jogja memiliki tempat tersendiri bagi para sineas untuk bertemu, bertukar gagasan, dan mengembangkan perfilman Indonesia, termasuk melalui penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).

Film ini juga berupaya menghadirkan warna berbeda melalui penggunaan bahasa Jawa dan pengangkatan budaya lokal. Menurut Ito, keberagaman budaya daerah merupakan kekayaan yang dapat terus dieksplorasi untuk memperkaya cerita dalam perfilman nasional.

Ia berharap kehadiran PIYE TO KIH? dapat mendorong sineas lain untuk lebih berani mengangkat bahasa, kebiasaan, dan karakter masyarakat daerah ke layar lebar.

Film ini dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma. Sejumlah pemain lainnya antara lain Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, Gabriella Desta sebagai Bunga, Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, dan Yono Bakrie.

Skenario film ditulis Endik Koeswoyo bersama Ito Mavin.

Dara Sarasvati Tantang Diri Perankan Sosok Astral

Bagi Dara Sarasvati, memerankan Sukma menjadi pengalaman akting yang menuntut perhatian khusus, terutama dalam mengatur gestur dan ekspresi. Ia harus membangun karakter yang berbeda dari manusia biasa, meskipun tetap menyampaikan emosi melalui dialog dan gerak tubuh.

“Sebenarnya tantangannya adalah terkait gesture. Karena bagaimana ketika kita mengomunikasikan dialog, tidak boleh terlalu terkesan emosional atau seperti manusia,” kata Dara.

Ia mengaku perlu mengatur ekspresi saat memerankan berbagai emosi, mulai dari kemarahan dan kesedihan hingga cinta. Tantangan tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan aktingnya, terlebih PIYE TO KIH? merupakan film keduanya.

Dara juga menyampaikan pandangannya mengenai kehidupan manusia yang berdampingan dengan makhluk lain. Baginya, setiap makhluk memiliki urusan masing-masing selama tetap berpegang pada tujuan yang baik.

Melalui hubungan Mukidi dan Sukma, film ini membawa penonton mengikuti persoalan cinta beda alam yang bersinggungan dengan keyakinan, persahabatan, keluarga, kehilangan, dan penerimaan diri.

Ungkapan “Udah beda alam, beda agama pula… PIYE TO KIH?” menjadi gambaran keruwetan yang dihadapi kedua tokoh. Di tengah situasi yang tidak biasa tersebut, humor dibangun melalui nasib dan berbagai persoalan Mukidi, bukan dengan menjadikan keyakinan atau agama sebagai bahan lelucon.

Dengan menggabungkan komedi, drama, unsur supranatural, dan bahasa Jawa, PIYE TO KIH? menawarkan cerita tentang hubungan yang rumit sekaligus proses manusia belajar menjadi pribadi yang lebih jujur dan bertanggung jawab.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online