2 Tahun Prabowo-Gibran, Pariwisata Indonesia Tak Lagi Sentris di Bali

Newswire
Newswire Jum'at, 23 Oktober 2026 23:47 WIB
2 Tahun Prabowo-Gibran, Pariwisata Indonesia Tak Lagi Sentris di Bali

Kaldera Toba - Antara

Harianjogja.com, JAKARTA— Pembangunan pariwisata Indonesia pada dua tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mulai menunjukkan arah pemerataan destinasi di luar Bali. Sejumlah kawasan wisata mencatatkan pertumbuhan kunjungan, sementara desa wisata semakin berperan dalam menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan, pembangunan sektor pariwisata kini diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata sekaligus memperluas pemerataan manfaat ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, peluang usaha diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar dan destinasi yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan.

“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat. Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” ujar Widiyanti dalam keterangan resmi, Selasa (20/10/2026).

Pemerataan tersebut terlihat dari pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) maupun pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) di sejumlah kawasan. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan beberapa destinasi di luar Bali mencatatkan kenaikan kunjungan yang signifikan.

Kunjungan Wisatawan Tumbuh di Luar Bali

Pada kuartal I/2026, kawasan Manado-Likupang mencatatkan kenaikan kunjungan wisman sebesar 60,42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, kawasan Danau Toba mengalami pertumbuhan kunjungan wisman sebesar 33,40%.

Pertumbuhan juga terlihat dari pergerakan wisatawan domestik. Sepanjang 2025 hingga 2026, kawasan Danau Toba mencatatkan pertumbuhan wisnus tercepat, yakni mencapai 106,68%.

Adapun kawasan Lombok-Gili Tramena membukukan pertumbuhan sebesar 75,45%. Angka tersebut memperlihatkan meningkatnya aktivitas perjalanan wisata di sejumlah destinasi yang berada di luar Bali.

Pertumbuhan di berbagai kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat sektor pariwisata. Selain mendatangkan pengunjung, perkembangan destinasi juga berpotensi membuka ruang usaha bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata melalui penyediaan akomodasi, kuliner, jasa perjalanan, serta produk lokal.

Desa Wisata Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyebut perkembangan desa wisata menjadi salah satu indikator penting dalam menilai pemerataan sektor pariwisata. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah terdaftar dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).

Keberadaan desa wisata tersebut membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan berbagai pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas wisata di tingkat desa diharapkan dapat memperluas kesempatan masyarakat memperoleh pendapatan dari potensi daerahnya sendiri.

Berdasarkan kajian Kementerian Pariwisata terhadap 66 desa wisata sampel, pendapatan desa dari sektor pariwisata meningkat 29,62%. Nilainya naik dari Rp46,05 miliar pada 2024 menjadi Rp59,70 miliar pada 2025.

“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” ungkap Ni Luh Puspa.

Peningkatan pendapatan tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah kunjungan wisatawan. Kunjungan turis asing ke desa-desa wisata dalam kajian itu meningkat 35,48% menjadi 74.409 kunjungan.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara meningkat 45,17% menjadi 2,25 juta perjalanan. Pertumbuhan dari kedua kelompok wisatawan tersebut memperbesar aktivitas ekonomi di kawasan pedesaan yang menjadi tujuan wisata.

Lapangan Kerja dan Akomodasi Lokal Ikut Bertambah

Perkembangan desa wisata juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan kajian terhadap 66 desa wisata sampel, jumlah pekerja meningkat 53,33%, dari 3.234 orang menjadi 4.959 orang.

Kenaikan tersebut memperlihatkan peran kegiatan pariwisata dalam membuka kesempatan kerja di tingkat lokal. Masyarakat dapat terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendukung kunjungan wisatawan, termasuk pengelolaan penginapan, penyediaan makanan, serta pengembangan produk dan layanan wisata.

Dari sisi akomodasi, kapasitas homestay milik warga turut berkembang. Jumlah kamar homestay meningkat hampir 50% menjadi 3.074 kamar.

Ekosistem usaha tersebut juga terhubung dengan 6.469 pelaku UMKM di desa-desa yang menjadi bagian dari kajian per Maret 2026. Keterlibatan pelaku usaha lokal menjadi salah satu unsur penting agar belanja wisatawan dapat mengalir ke masyarakat di sekitar destinasi.

Dengan bertambahnya kunjungan, akomodasi, dan pelaku usaha, desa wisata memiliki peluang untuk mengembangkan sumber pendapatan yang lebih beragam. Meski demikian, besarnya manfaat ekonomi di setiap wilayah tetap berkaitan dengan pengelolaan destinasi dan keterlibatan masyarakat setempat.

Desa Wisata Indonesia Raih Pengakuan Global

Perkembangan pariwisata berbasis desa juga mendapat pengakuan internasional. Dalam dua tahun terakhir, tiga desa wisata nasional berhasil meraih penghargaan UN Tourism Best Tourism Village.

Ketiga desa tersebut adalah Desa Wisata Jatiluwih dan Pemuteran di Bali, serta Desa Wisata Wukirsari di DI Yogyakarta.

Penghargaan itu menjadi bagian dari pengakuan terhadap desa wisata Indonesia di tingkat global. Selain memperkuat daya tarik destinasi, pengembangan desa wisata juga berkaitan dengan upaya menghubungkan potensi lokal dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Ke depan, penataan ekosistem pariwisata desa diharapkan semakin terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Kolaborasi tersebut diharapkan membantu menjaga perputaran uang agar tetap berada di tingkat ekonomi akar rumput.

Dengan pertumbuhan kunjungan di sejumlah destinasi, peningkatan pendapatan desa wisata, serta bertambahnya tenaga kerja dan kapasitas homestay, pemerataan pariwisata menjadi salah satu arah pembangunan yang ditonjolkan dalam dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata tidak hanya berkaitan dengan jumlah wisatawan, tetapi juga dengan peluang ekonomi yang tercipta bagi masyarakat di berbagai daerah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online