Kenali Tanda Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi yang Kerap Terlewat

Newswire
Newswire Sabtu, 24 Oktober 2026 10:37 WIB
Kenali Tanda Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi yang Kerap Terlewat

Bedak bayi - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Penyakit jantung bawaan (PJB) pada bayi tidak selalu menunjukkan gejala sejak lahir. Dalam sejumlah kasus, tanda-tandanya baru terlihat beberapa minggu atau bulan kemudian, seperti bayi lebih cepat lelah ketika menyusu, bernapas lebih cepat, hingga kesulitan mencapai kenaikan berat badan sesuai usianya.

Konsultan jantung anak, Dr. Anisa Rahmadhany, mengatakan orang tua perlu memperhatikan gejala yang muncul berulang, terlebih jika disertai keluhan lain. Kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis.

"Pada beberapa kasus, gejala penyakit jantung bawaan dapat terlihat sejak bayi dilahirkan. Namun beberapa gejala perlu diwaspadai apalagi jika terjadi secara berulang dan disertai keluhan lain, kondisi tersebut perlu mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut," katanya dalam keterangannya di Tangerang, Sabtu.

Menurut Anisa, PJB menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian sejak awal kehidupan. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 50.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kesehatan jantung anak, termasuk mengenali tanda-tanda yang terkadang tidak disadari.

Gejala Jantung Bawaan Bisa Muncul Bertahap

Anisa menjelaskan, penyakit jantung bawaan merupakan kelainan pada struktur jantung atau pembuluh darah besar yang terbentuk selama perkembangan janin. Bentuk kelainannya beragam, mulai dari lubang pada sekat jantung, gangguan katup jantung, hingga kelainan susunan pembuluh darah besar.

Perbedaan jenis dan tingkat keparahan kelainan membuat gejala yang dialami setiap bayi tidak selalu sama. Sebagian bayi mengalami gangguan sirkulasi darah berat sejak lahir, sedangkan bayi lainnya dapat terlihat sehat selama beberapa waktu.

Pada kondisi tertentu, tubuh bayi masih mampu menyesuaikan diri dengan kelainan yang ada. Namun, ketika usia bertambah dan kebutuhan oksigen tubuh meningkat, gangguan tersebut dapat mulai menimbulkan gejala.

Orang tua perlu memperhatikan sejumlah perubahan kondisi bayi, antara lain:

Bayi terlihat mudah lelah ketika menyusu.

Bayi sering berhenti menyusu untuk mengambil napas.

Keringat berlebihan saat menyusu.

Napas lebih cepat daripada biasanya.

Kenaikan berat badan kurang optimal.

Perubahan warna kulit, terutama jika disertai kesulitan menyusu atau gangguan pernapasan.

Meski demikian, gejala-gejala tersebut tidak selalu menandakan penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

"Meski demikian, tanda-tanda tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit jantung bawaan. Pemeriksaan oleh tenaga medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat," ujar Anisa dari BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo.

Skor Apgar Normal Tidak Menyingkirkan PJB

Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bayi yang lahir dalam kondisi baik, menangis kuat, dan memiliki skor Apgar normal pasti terbebas dari kelainan jantung.

Skor Apgar merupakan penilaian awal untuk mengetahui kondisi umum bayi pada menit-menit pertama setelah lahir. Penilaian tersebut bukan alat untuk mendeteksi kelainan struktur jantung.

Karena itu, pemeriksaan kondisi bayi setelah lahir perlu dilengkapi dengan skrining yang sesuai. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah mengukur saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi.

"Pemeriksaan kondisi bayi setelah lahir perlu dilengkapi dengan skrining yang sesuai. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah pemeriksaan saturasi oksigen menggunakan alat pulse oximeter pada tangan kanan dan salah satu kaki bayi," katanya.

Pengukuran saturasi oksigen pada tangan dan kaki bayi dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis. Jika dilakukan tepat waktu, hasil skrining dapat memengaruhi penanganan dan perjalanan kesehatan anak ke depan.

Apabila hasil skrining tidak normal atau terdapat kecurigaan klinis, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk ekokardiografi atau USG jantung, sesuai kebutuhan.

"Bila terdeteksi dan ditangani sejak dini, sebagian besar anak dengan kelainan jantung bawaan kini dapat tumbuh dan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya," ujarnya.

Kapan Bayi Perlu Segera Diperiksa?

Orang tua perlu segera membawa bayi untuk mendapatkan pertolongan medis apabila bayi terlihat kesulitan bernapas, mengalami kebiruan pada bibir atau lidah, atau menunjukkan tanda gangguan kondisi umum.

Bayi dengan napas cepat yang menetap, kesulitan menyusu, maupun kenaikan berat badan yang tidak optimal juga perlu dievaluasi oleh dokter.

"Bayinya dengan napas cepat yang menetap, kesulitan menyusu, atau kenaikan berat badan yang tidak optimal juga perlu dievaluasi oleh dokter," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online