Virus Shamonda Terdeteksi pada Manusia, Ini Risiko Penularannya

Newswire
Newswire Sabtu, 24 Oktober 2026 15:27 WIB
Virus Shamonda Terdeteksi pada Manusia, Ini Risiko Penularannya

Ilustrasi penyakit - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Virus Shamonda (Shamonda Virus/SHAV), yang selama ini dikenal menginfeksi hewan ternak, untuk pertama kalinya dilaporkan menyebabkan infeksi pada manusia. Kasus tersebut ditemukan di Prancis pada Oktober 2026 dan kini tengah diselidiki untuk mengetahui bagaimana infeksi terjadi serta apakah virus berkontribusi terhadap kematian pasien.

European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dalam laporan pada 22 Oktober 2026 menyebut pasien tersebut menjalani perawatan di rumah sakit di Lyon. Pasien meninggal dunia pada awal Oktober setelah mengalami penyakit serius yang membuat sistem kekebalan tubuhnya sangat lemah dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi maupun komplikasi.

Otoritas kesehatan Prancis menyebut pasien mengalami komplikasi yang berkaitan dengan otak sebelum meninggal dunia. Kondisi tersebut diduga berhubungan dengan infeksi virus Shamonda, tetapi penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah virus menjadi penyebab atau turut berkontribusi terhadap kematian pasien.

"Berdasarkan pengetahuan yang tersedia tentang virus ini, hingga saat ini belum teridentifikasi adanya risiko kesehatan bagi masyarakat umum," kata Kementerian Kesehatan Prancis dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari United Press National pada 22 Oktober 2026.

Kementerian Pertanian dan Kedaulatan Pangan Prancis menduga infeksi terjadi akibat gigitan serangga dari genus Culicoides. Serangga tersebut diketahui dapat menularkan virus di antara hewan, sementara virus Shamonda telah beredar pada hewan di wilayah timur Prancis selama musim semi dan panas.

ECDC menyatakan bekerja sama dengan otoritas Prancis dan mitra Eropa untuk menyelidiki implikasi kasus tersebut terhadap kesehatan masyarakat. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada kesimpulan yang memastikan risiko infeksi bagi populasi umum.

"Hingga saat ini, virus Shamonda dianggap tidak dapat menular ke manusia," kata Kementerian Kesehatan Prancis.

Apa Itu Virus Shamonda?

Menurut World Organisation for Animal Health (WOAH), virus Shamonda termasuk dalam genus Orthobunyavirus dan kelompok Simbu. Virus ini pertama kali diisolasi dari sapi di Nigeria pada 1965, kemudian ditemukan pada hewan di sejumlah wilayah Afrika dan Asia.

Virus Shamonda terutama menyerang sapi. Namun, infeksi juga pernah ditemukan pada hewan lain, termasuk domba, kambing, kuda, dan alpaka.

Penularan virus ini pada hewan diketahui berkaitan dengan gigitan serangga pengisap darah dari genus Culicoides. Meski demikian, jenis serangga yang terlibat dalam kasus manusia di Prancis belum dapat dipastikan.

Pada hewan ternak, infeksi virus Shamonda dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, lesu, dan penurunan produksi susu. Infeksi juga dapat mengganggu sistem reproduksi, termasuk menyebabkan keguguran dan kelainan janin.

Sejumlah hewan yang terinfeksi juga dilaporkan mengalami gejala neurologis. The Guardian, sebagaimana dirujuk dalam materi sumber, melaporkan keberadaan virus Shamonda pada jaringan otak kuda yang mati setelah mengalami gejala neurologis.

ECDC mencatat virus ini telah terdeteksi pada hewan ternak di sejumlah negara Eropa selama 2026. Negara-negara yang disebut dalam laporan tersebut antara lain Jerman, Prancis, Swiss, Italia, dan Spanyol. Laporan ECDC yang lebih luas juga mencatat temuan pada hewan di sejumlah negara Eropa lainnya.

Seberapa Besar Risiko Virus Shamonda bagi Manusia?

Temuan kasus di Prancis menjadi perkembangan penting karena virus Shamonda sebelumnya dikenal sebagai virus yang menginfeksi hewan, bukan penyebab penyakit pada manusia. Namun, satu kasus belum cukup untuk menyimpulkan bahwa virus ini dapat menyebar luas di antara manusia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan informasi mengenai infeksi virus Shamonda pada manusia masih sangat terbatas karena baru satu kasus yang dilaporkan. Pasien tersebut sebelumnya sudah mengalami penyakit serius dan kemudian menunjukkan gejala yang berkaitan dengan otak, yang dinilai berhubungan dengan infeksi virus tersebut.

WOAH menyebut potensi penularan virus ini dari hewan ke manusia belum sepenuhnya dipahami. Sementara itu, ECDC menyatakan jenis serangga yang terlibat dalam infeksi pada pasien di Prancis masih belum diketahui secara pasti.

WHO menilai kasus tersebut kemungkinan merupakan kejadian terisolasi berdasarkan informasi yang tersedia. Meski demikian, penyelidikan lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana pasien terinfeksi dan apakah kejadian tersebut memiliki implikasi kesehatan masyarakat yang lebih luas.

Karena itu, kasus pertama ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan penyakit yang beredar pada hewan. Pemantauan diperlukan terutama ketika muncul infeksi pada manusia yang sebelumnya belum pernah terdokumentasi, sehingga potensi risiko dapat diteliti berdasarkan bukti ilmiah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online