Naik Tangga Bisa Bantu Jaga Jantung, Ini Hasil Studi Terbaru

Jumali
Jumali Selasa, 20 Oktober 2026 11:17 WIB
Naik Tangga Bisa Bantu Jaga Jantung, Ini Hasil Studi Terbaru

Naik anak tangga. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Memilih naik tangga daripada menggunakan lift bisa menjadi cara sederhana untuk menambah aktivitas fisik di tengah kesibukan. Kebiasaan yang dapat dilakukan di kantor, pusat perbelanjaan, maupun gedung bertingkat ini juga berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang lebih rendah.

Temuan tersebut berasal dari tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam American Journal of Cardiovascular Drugs pada Agustus 2026. Penelitian itu menganalisis sembilan studi dengan total 480.479 peserta berusia 35 hingga 84 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa kebiasaan menaiki tangga berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 39% lebih rendah. Risiko kematian dari semua penyebab juga tercatat 24% lebih rendah pada kelompok yang rutin menaiki tangga dibandingkan kelompok pembanding.

Meski demikian, angka tersebut bukan jaminan bahwa naik tangga akan menurunkan risiko kematian setiap orang dengan persentase yang sama. Penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dan risiko kesehatan, bukan membuktikan bahwa naik tangga secara langsung menjadi penyebab penurunan risiko tersebut.

Mengapa Naik Tangga Baik untuk Kesehatan Jantung?

Naik tangga membutuhkan tenaga lebih besar daripada berjalan di permukaan datar. Tubuh harus mengangkat berat badan melawan gravitasi, sehingga otot bekerja lebih keras dan jantung serta paru-paru perlu memasok oksigen untuk mendukung aktivitas tersebut.

Menurut para ahli jantung yang dikutip Prevention, aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menjaga tekanan darah, memperbaiki profil kolesterol, mendukung pengendalian berat badan, dan meningkatkan kebugaran kardiovaskular. Manfaatnya bergantung pada kondisi kesehatan, tingkat aktivitas, dan kebiasaan hidup masing-masing orang.

Menaiki tangga dapat menjadi salah satu cara memasukkan aktivitas dengan intensitas relatif tinggi ke dalam rutinitas harian. Aktivitas ini juga tidak selalu membutuhkan peralatan olahraga atau waktu khusus untuk pergi ke pusat kebugaran.

Namun, tingkat kesulitannya berbeda bagi setiap orang. Mereka yang jarang berolahraga mungkin lebih cepat terengah-engah ketika menaiki tangga, sedangkan orang yang sudah terbiasa beraktivitas fisik dapat merasakan beban yang berbeda.

Karena itu, manfaat naik tangga sebaiknya dipahami sebagai bagian dari pola hidup aktif, bukan sebagai pengganti seluruh bentuk olahraga atau perawatan kesehatan.

Tak Hanya Jantung, Otot Kaki Juga Bekerja

Selain melibatkan sistem kardiovaskular, naik tangga juga memberikan beban pada otot. Setiap langkah mengharuskan otot kaki menghasilkan tenaga untuk mengangkat tubuh ke tingkat yang lebih tinggi.

Gerakan tersebut membuat naik tangga memiliki unsur latihan kekuatan sekaligus aktivitas aerobik. Sebaliknya, berjalan di permukaan datar umumnya membutuhkan tenaga yang lebih rendah, meskipun intensitasnya tetap dapat meningkat sesuai kecepatan dan jarak tempuh.

Kombinasi kerja otot dan peningkatan kebutuhan oksigen itulah yang membuat sebagian orang lebih cepat merasa lelah ketika menaiki tangga. Jika dilakukan secara teratur dan sesuai kemampuan, aktivitas ini dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kebugaran tubuh.

Meski demikian, naik tangga tidak perlu dilakukan secara berlebihan demi mengejar manfaat tertentu. Penelitian tersebut belum menetapkan satu jumlah anak tangga yang pasti menjadi target optimal bagi semua orang.

Apakah Naik Tangga Lebih Baik daripada Berjalan Kaki?

Naik tangga dapat memberikan tantangan fisik lebih besar dalam waktu singkat. Namun, hal itu tidak berarti berjalan kaki menjadi kurang bermanfaat bagi kesehatan.

Berjalan kaki tetap menjadi pilihan aktivitas fisik yang mudah dilakukan dan dapat disesuaikan dengan kemampuan tubuh. Orang yang kesulitan menaiki tangga dapat tetap aktif melalui berjalan kaki atau bentuk gerakan lain yang lebih nyaman.

Bagi pekerja yang banyak duduk, menambahkan gerakan ke dalam rutinitas harian bisa menjadi langkah awal yang realistis. Misalnya, berjalan sebentar saat istirahat, berdiri secara berkala, atau memilih tangga untuk satu atau dua lantai jika kondisi memungkinkan.

Kuncinya bukan sekadar memilih satu jenis aktivitas, melainkan mengurangi kebiasaan pasif dan membangun rutinitas bergerak yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.

Siapa yang Perlu Berhati-hati?

Meskipun praktis, menaiki tangga tidak cocok untuk semua orang dalam setiap kondisi. Orang yang memiliki keterbatasan mobilitas, masalah keseimbangan, nyeri sendi, atau kondisi jantung tertentu sebaiknya menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan dan anjuran tenaga kesehatan.

Jika belum terbiasa, mulailah secara bertahap dan jangan memaksakan diri ketika merasa tidak nyaman. Hentikan aktivitas apabila muncul nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, pusing, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, lalu cari pertolongan medis sesuai tingkat keparahannya.

Hasil penelitian terhadap ratusan ribu peserta tersebut memperkuat pentingnya aktivitas fisik dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang yang mampu melakukannya dengan aman, memilih tangga sesekali dapat menjadi langkah sederhana untuk lebih aktif tanpa harus mengubah seluruh jadwal harian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online