IDAI Ungkap Bahaya PM2,5 dari Asap Karhutla bagi Kesehatan Anak

Newswire
Newswire Senin, 19 Oktober 2026 13:17 WIB
IDAI Ungkap Bahaya PM2,5 dari Asap Karhutla bagi Kesehatan Anak

Siswa berjalan di halaman sekolah sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026). Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memberlakukan kebijakan untuk siswa SD dan SMP dengan menunda waktu masuk jam pelajaran menjadi pukul 08.00 WIB, meniadakan sementara kegiatan di luar ruangan, wajib memakai masker, dan menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatka

Harianjogja.com, JAKARTA—Anak-anak lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dibandingkan orang dewasa. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan kondisi ini berkaitan dengan sistem pernapasan dan kekebalan tubuh anak yang masih berkembang, serta paparan partikel berbahaya yang dapat menembus hingga bagian terdalam paru-paru.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp Respi(K), menjelaskan asap karhutla bukan sekadar asap biasa. Campuran zat berbahaya di dalamnya mencakup partikel halus PM2,5 yang mampu mencapai alveoli atau kantung udara di paru-paru.

"Asap kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar 'asap biasa'. Ia mengandung partikel padat, gas, dan cairan hasil pembakaran tidak sempurna," kata Fifi dalam siaran pers IDAI yang diterima ANTARA, Senin.

Menurut Fifi, partikel PM2,5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut menembus saluran pernapasan bagian bawah hingga mencapai bagian terdalam paru-paru, bahkan masuk ke aliran darah.

Mengapa anak lebih rentan terhadap asap karhutla?

Fifi menerangkan, organ pernapasan anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terhadap polutan. Selain memiliki diameter saluran napas yang lebih kecil, anak-anak juga bernapas lebih cepat dan membutuhkan ventilasi udara lebih tinggi per kilogram berat badan dibandingkan orang dewasa.

"Partikel inilah yang paling berbahaya bagi anak, terutama PM2.5 yang berukuran kurang dari 2,5 mikron, jauh lebih kecil dari sehelai rambut manusia," ujarnya.

Risiko paparan juga berkaitan dengan kebiasaan anak yang cenderung lebih banyak beraktivitas di luar ruangan dan lebih sering bernapas melalui mulut. Ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap karhutla, kondisi tersebut dapat meningkatkan jumlah polutan yang masuk ke tubuh.

Selain PM2,5, partikel dan senyawa lain dalam asap juga dapat mengganggu kesehatan. Fifi menjelaskan partikel kasar PM10 berpotensi mengiritasi saluran pernapasan atas, sedangkan PM2,5 dapat mengganggu saluran pernapasan bawah.

"Aldehida, salah satu senyawa dalam asap, bahkan dilaporkan dapat melumpuhkan silia di saluran napas, sementara karbon monoksida dan nitrogen oksida mengganggu fungsi hemoglobin," katanya.

Silia merupakan bagian dari mekanisme perlindungan saluran pernapasan. Sementara itu, gangguan terhadap fungsi hemoglobin dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam menjalankan fungsi pengangkutan oksigen.

Paparan jangka panjang berisiko mengganggu kesehatan

IDAI mengingatkan dampak asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan kesehatan yang muncul selama kabut asap berlangsung. Paparan dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan penyakit paru kronik dan menurunkan kualitas hidup anak hingga dewasa.

Karena itu, terdapat sejumlah kelompok anak yang perlu mendapat perhatian khusus ketika terjadi bencana kabut asap. Kelompok tersebut meliputi bayi, balita, anak dengan asma, anak dengan penyakit jantung atau paru kronik, anak dengan disabilitas, serta anak yang bergantung pada oksigen dan alat medis.

Kerentanan kelompok tersebut menjadi perhatian dalam upaya perlindungan kesehatan anak saat kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan.

IDAI tekankan tanggung jawab bersama melindungi anak

Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menegaskan perlindungan anak dari dampak karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama, baik keluarga maupun pemerintah.

"Anak adalah kelompok yang paling rentan dalam bencana kabut asap, namun sering kali suaranya tidak terdengar," kata Piprim.

Ia menekankan bahwa hak anak atas kesehatan, perlindungan, dan tumbuh kembang harus tetap terpenuhi dalam situasi darurat kabut asap.

Peringatan IDAI tersebut menegaskan pentingnya menempatkan keselamatan dan kesehatan anak sebagai perhatian utama saat terjadi karhutla. Selain memperhatikan kondisi anak secara umum, perlindungan khusus juga perlu diberikan kepada kelompok yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi akibat paparan polutan udara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online