Osteoporosis pada Lansia Bisa Picu Patah Tulang Panggul hingga Tulang Belakang

Newswire
Newswire Minggu, 18 Oktober 2026 23:47 WIB
Osteoporosis pada Lansia Bisa Picu Patah Tulang Panggul hingga Tulang Belakang

Ilustrasi olahraga untuk lansia

Harianjogja.com, TANGERANG—Osteoporosis perlu diwaspadai oleh masyarakat berusia di atas 50 tahun karena penurunan kepadatan dan kualitas tulang dapat meningkatkan risiko patah tulang. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari penurunan kemandirian hingga kecacatan jangka panjang.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra, menjelaskan patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga bagian tubuh, yakni panggul atau paha atas, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

"Secara anatomi dan klinis, patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga lokasi utama yang rentan yaitu panggul atau paha atas, tulang belakang dan pergelangan tangan," kata dr. Wijaya dalam keterangannya di Tangerang, Minggu (18/10/2026).

Patah Tulang Akibat Osteoporosis Berisiko Serius

Fraktur atau patah tulang panggul menjadi salah satu komplikasi osteoporosis yang paling berat. Kondisi ini berkaitan erat dengan berkurangnya kemampuan lansia menjalani aktivitas secara mandiri, risiko kecacatan dalam jangka panjang, hingga meningkatnya risiko kematian.

Sementara itu, patah tulang belakang akibat osteoporosis kerap tidak terdiagnosis. Meski demikian, kondisi tersebut dapat memicu nyeri kronis, perubahan postur tubuh berupa kifosis, serta penurunan tinggi badan.

Penanganan patah tulang disesuaikan dengan lokasi dan kondisi pasien. Pada kasus patah tulang panggul, tindakan operasi umumnya diperlukan untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang mengalami kerusakan. Operasi dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinilai memungkinkan.

Untuk patah tulang pergelangan tangan, operasi dapat dipertimbangkan apabila posisi tulang bergeser atau kondisinya tidak stabil. Adapun patah tulang belakang biasanya ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, kecuali terdapat kondisi tertentu, seperti nyeri berat yang menetap atau gangguan saraf.

Osteoporosis Sering Berkembang Tanpa Gejala

Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Penyakit ini sering berkembang tanpa gejala yang jelas sampai seseorang mengalami patah tulang.

Secara global, lebih dari 500 juta orang diperkirakan hidup dengan osteoporosis. Risiko mengalami fraktur fragilitas atau patah tulang akibat kerapuhan tulang juga cukup tinggi, terutama pada kelompok usia di atas 50 tahun.

Diperkirakan satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami patah tulang akibat kondisi tersebut.

Di Indonesia, pertambahan jumlah penduduk lanjut usia turut menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan beban osteoporosis. Angka osteoporosis diproyeksikan meningkat hingga 135 persen pada 2050.

Wijaya yang berasal dari Siloam Hospital TB Simatupang menekankan pencegahan dan penanganan osteoporosis perlu dilakukan melalui kombinasi pengobatan dan perubahan gaya hidup.

"Pencegahan dan penanganan osteoporosis tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga perlu didukung oleh perubahan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik yang memberikan pembebanan pada tulang secara aman," ujar dr. Wijaya.

Dalam rangka memperingati Hari Osteoporosis Sedunia setiap 20 Oktober, masyarakat juga diimbau untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta konsultasi dengan dokter spesialis.

Olahraga untuk Menjaga Kepadatan Tulang

Dokter spesialis kedokteran olahraga aktivitas dr. Bernadette Laura mengatakan, aktivitas fisik yang memberikan beban pada tulang dapat merangsang proses pembentukan dan pembaruan tulang. Dengan demikian, olahraga dapat membantu menjaga kekuatan sekaligus kepadatan tulang.

Selain bermanfaat bagi tulang, olahraga juga membantu memperkuat otot dan menjaga keseimbangan tubuh. Kedua manfaat tersebut penting untuk mengurangi risiko jatuh yang dapat berujung pada patah tulang.

Beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan antara lain weight-bearing exercise, seperti berjalan kaki dan naik tangga, serta latihan beban.

Bernadette juga mengingatkan pentingnya mengombinasikan olahraga dengan latihan fleksibilitas untuk membantu mencegah jatuh. Namun, penderita osteoporosis tetap perlu menyesuaikan jenis dan intensitas latihan dengan kondisi masing-masing.

"Selain itu penting untuk mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk mencegah risiko jatuh. Bagi pasien osteoporosis, latihan juga harus tetap dilakukan, tetapi jenis dan intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien serta dilakukan secara aman dan terstruktur karena risiko patah tulangnya lebih tinggi," katanya.

Dengan mengenali faktor risiko, menjalani pemeriksaan medis sesuai kebutuhan, serta melakukan aktivitas fisik secara aman, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan tulang dan mengurangi risiko patah tulang akibat osteoporosis.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online