Krisis Chip AI Tekan Industri HP, Xiaomi Andalkan Baterai Jumbo
Krisis memori akibat kebutuhan AI menekan industri smartphone. Xiaomi merespons lewat Redmi Note 17 dengan baterai 10.000 mAh dan fokus durabilitas.
Foto ilustrasi surat cerai, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Perceraian sering kali dipandang sebagai akibat dari satu peristiwa besar, seperti perselingkuhan atau pertengkaran hebat. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa berakhirnya sebuah pernikahan biasanya jauh lebih kompleks.
Penelitian dengan kelompok responden, metode, dan periode berbeda menemukan sejumlah pola yang relatif konsisten. Kurangnya komitmen, perselingkuhan, konflik berkepanjangan, ketidakcocokan, masalah komunikasi, penyalahgunaan zat, hingga kekerasan menjadi faktor yang berulang kali muncul.
Menariknya, alasan yang membuat hubungan memburuk dalam waktu lama tidak selalu sama dengan peristiwa yang akhirnya mendorong pasangan mengajukan perceraian.
Kurangnya Komitmen Jadi Salah Satu Faktor Utama
Penelitian Paul Amato dan Denise Previti pada 2003 menggunakan data dari proyek Marital Instability Over the Life Course untuk mengetahui alasan orang mengakhiri pernikahan.
Responden yang telah bercerai diminta menjelaskan penyebab berakhirnya hubungan mereka. Dari jawaban terbuka tersebut, sejumlah persoalan yang paling sering muncul adalah perselingkuhan, ketidakcocokan, konsumsi alkohol atau penggunaan narkoba, serta hubungan pasangan yang semakin menjauh.
Pola serupa ditemukan dalam survei besar pada 2001 terhadap lebih dari 2.000 orang di Oklahoma.
Dalam survei tersebut, responden yang pernah bercerai diminta memilih alasan utama perceraian. Tiga jawaban yang paling banyak dipilih adalah kurangnya komitmen, terlalu banyak konflik atau pertengkaran, serta perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan.
Alasan lain yang muncul antara lain menikah terlalu muda, kurangnya persiapan sebelum menikah, dan persoalan keuangan.
Usia saat menikah juga dapat berkaitan dengan ketidakcocokan. Penelitian Amato dan Previti menemukan bahwa persoalan ketidakcocokan lebih sering disebut oleh responden yang menikah pada usia muda.
Mantan Pasangan Cenderung Dianggap Lebih Bersalah
Penelitian juga menemukan sisi lain dari pengalaman perceraian, yakni bagaimana seseorang menilai tanggung jawab masing-masing pasangan.
Amato dan Previti menemukan bahwa 33 persen responden menyalahkan mantan pasangan atas berakhirnya pernikahan. Sebaliknya, hanya sekitar 5 persen yang menyalahkan diri sendiri.
Kecenderungan serupa terlihat dalam survei di Oklahoma. Sebanyak 73 persen responden merasa sudah berusaha cukup keras mempertahankan pernikahan.
Sementara itu, 74 persen menilai mantan pasangan seharusnya melakukan upaya lebih besar untuk menyelamatkan hubungan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman perceraian tidak hanya berkaitan dengan persoalan dalam rumah tangga, tetapi juga dengan persepsi seseorang mengenai siapa yang dianggap paling bertanggung jawab atas kegagalan hubungan.
Masalah Lama dan Pemicu Terakhir Bisa Berbeda
Penelitian Shelby Scott, Galena Rhoades, Scott Stanley, Elizabeth Allen, dan Howard Markman yang diterbitkan pada 2013 memberikan perspektif penting mengenai proses tersebut.
Para peneliti membedakan antara alasan utama perceraian dan last straw atau pemicu terakhir yang membuat seseorang benar-benar mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan.
Untuk alasan utama, tiga faktor yang paling sering muncul adalah kurangnya komitmen, perselingkuhan, serta konflik atau pertengkaran.
Namun, ketika ditanya mengenai pemicu terakhir, jawabannya sedikit berbeda. Perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan penyalahgunaan zat menjadi beberapa pemicu yang paling sering disebut.
Perbedaan ini penting untuk memahami bagaimana sebuah pernikahan dapat berakhir.
Masalah yang telah berlangsung selama bertahun-tahun bisa menjadi latar belakang memburuknya hubungan. Namun, keputusan untuk benar-benar berpisah dapat terjadi setelah satu peristiwa tertentu menjadi titik balik.
Dengan kata lain, perselingkuhan yang disebut sebagai penyebab perceraian belum tentu merupakan satu-satunya masalah dalam hubungan tersebut.
Kekerasan Lebih Banyak Disebut Perempuan
Jenis kelamin juga ditemukan berkaitan dengan cara responden menjelaskan alasan perceraian.
Dalam penelitian Johnson dan rekan-rekannya, alasan yang dikemukakan laki-laki dan perempuan secara umum memiliki banyak kesamaan. Namun, perempuan jauh lebih sering menyebut kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan utama perpisahan.
Sebanyak 44 persen perempuan menyebut kekerasan dalam rumah tangga sebagai alasan utama, dibandingkan 8 persen laki-laki.
Perempuan juga cenderung lebih sering menyatakan keinginan untuk mengakhiri hubungan. Pola tersebut ditemukan dalam penelitian Amato dan Previti serta sejumlah penelitian lainnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa pengalaman dalam rumah tangga tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh kedua pasangan.
Usia Lebih Tua Tidak Menghilangkan Masalah Rumah Tangga
Persoalan serupa juga ditemukan pada pasangan yang bercerai ketika memasuki usia paruh baya atau lebih tua.
Laporan AARP pada 2004, yang berdasarkan survei nasional terhadap orang dewasa berusia 40 tahun ke atas, menemukan beberapa alasan utama perceraian.
Di antaranya adalah perlakuan kasar secara verbal, fisik, maupun emosional; perbedaan nilai dan gaya hidup; serta perselingkuhan.
Sebagian responden juga menyebut hilangnya rasa cinta sebagai faktor perceraian. Ada pula yang merasa hubungan mereka berakhir tanpa satu persoalan spesifik yang dapat ditunjuk sebagai penyebab tunggal.
Artinya, bertambahnya usia pernikahan tidak otomatis menghilangkan persoalan yang dapat membuat pasangan memilih berpisah.
Komunikasi yang Buruk Bisa Membuat Hubungan Menjauh
Penelitian Alan Hawkins, Brian Willoughby, dan William Doherty pada 2012 memberikan gambaran dari sudut yang berbeda.
Penelitian tersebut melibatkan 886 orang tua yang sedang menjalani proses perceraian di Hennepin County, Minnesota. Berbeda dari penelitian yang menanyai orang setelah perceraian, responden dalam studi ini masih berada dalam proses mengakhiri pernikahan.
Dua alasan yang paling sering dikemukakan adalah hubungan yang semakin jauh dan ketidakmampuan pasangan berkomunikasi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keretakan hubungan tidak selalu diawali konflik besar. Jarak emosional yang semakin lebar dan komunikasi yang tidak berjalan dapat berkembang menjadi persoalan serius.
Penelitian itu juga menemukan bahwa orang yang paling kecil kemungkinannya mempertimbangkan pembatalan perceraian adalah mereka yang menyebut semakin jauhnya hubungan, perbedaan selera, dan masalah keuangan sebagai alasan.
Sementara itu, kekerasan dan perselingkuhan tidak menunjukkan hubungan yang sama dengan tingkat ketertarikan seseorang untuk mempertimbangkan rujuk.
Apakah Keinginan Memiliki Anak Menjadi Faktor Baru?
Perubahan sosial juga membuat pasangan kini menghadapi pertanyaan yang semakin beragam sebelum dan selama menjalani pernikahan.
Salah satunya adalah keputusan untuk memiliki anak.
Memiliki anak tidak lagi selalu dipandang sebagai konsekuensi otomatis dari pernikahan. Pasangan dapat memiliki pandangan berbeda mengenai apakah mereka ingin memiliki anak, kapan waktu yang tepat, dan berapa jumlah anak yang diinginkan.
Perbedaan tersebut berpotensi menjadi bentuk ketidakcocokan dalam rumah tangga.
Namun, belum cukup bukti untuk menempatkan perbedaan keinginan memiliki anak sebagai salah satu penyebab utama perceraian dengan tingkat kepastian yang sama seperti perselingkuhan, kurangnya komitmen, konflik, atau kekerasan.
Karena itu, faktor tersebut lebih tepat dipandang sebagai area konflik yang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Perceraian Biasanya Bukan Akibat Satu Masalah
Jika berbagai penelitian tersebut dirangkum, terlihat bahwa alasan perceraian memiliki sejumlah pola yang berulang.
Kurangnya komitmen, perselingkuhan, konflik berkepanjangan, ketidakcocokan, hubungan yang semakin menjauh, masalah komunikasi, penyalahgunaan zat, dan kekerasan merupakan faktor yang kerap muncul.
Namun, temuan penelitian juga mengingatkan bahwa penyebab hubungan memburuk dan pemicu terakhir perceraian merupakan dua hal berbeda.
Sebuah pernikahan dapat mengalami persoalan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berakhir karena satu peristiwa yang menjadi titik balik.
Karena itu, sulit menyimpulkan bahwa sebuah perceraian hanya disebabkan oleh satu kesalahan atau satu kejadian.
Pada akhirnya, hubungan pernikahan membutuhkan keterlibatan kedua pasangan. Komunikasi, kemauan memperbaiki kesalahan, komitmen, serta kemampuan menghadapi perubahan menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan.
Sebaliknya, ketika salah satu pihak merasa terus-menerus berjuang sendirian, persoalan yang awalnya masih mungkin diselesaikan dapat berkembang menjadi keretakan yang semakin sulit diperbaiki.
Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa perceraian bukan sekadar keputusan yang muncul dalam satu malam. Di baliknya sering terdapat rangkaian masalah, pengalaman, konflik, dan perubahan hubungan yang berlangsung dalam waktu panjang hingga pasangan akhirnya memutuskan untuk berpisah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Krisis memori akibat kebutuhan AI menekan industri smartphone. Xiaomi merespons lewat Redmi Note 17 dengan baterai 10.000 mAh dan fokus durabilitas.
Port USB-C HP rusak? Kenali penyebab, cara mengecek, biaya perbaikan, hingga kapan komponen tersebut perlu diganti agar tidak salah mengambil keputusan.
DPRD Bantul mendorong pelajar bijak bermedia sosial sekaligus produktif di ruang digital. Program kecakapan digital menyasar hampir 20 sekolah.
Riset World Giving Report 2026 mengungkap Rumania menjadi salah satu negara paling dermawan di Uni Eropa. Simak temuan CAF soal donasi masyarakat Eropa.
Budaya lokal dinilai bisa menjadi pembeda kuat di tengah tren wisata dan pengalaman yang semakin seragam. Namun, agar mampu menarik perhatian generasi saat ini,
Fenomena lava fountain di Gunung Anak Krakatau muncul akibat tekanan gas tinggi dalam magma. Simak penjelasan ilmiah, proses terbentuk, dan dampaknya.