Krisis Chip AI Tekan Industri HP, Xiaomi Andalkan Baterai Jumbo
Krisis memori akibat kebutuhan AI menekan industri smartphone. Xiaomi merespons lewat Redmi Note 17 dengan baterai 10.000 mAh dan fokus durabilitas.
Salah satu sudut kota di Rumania/Magnific
Harianjogja.com, JOGJA— Anggapan bahwa masyarakat di negara kaya selalu menjadi kelompok paling dermawan ternyata tidak sepenuhnya terbukti. Riset Charities Aid Foundation (CAF) menunjukkan tingkat kedermawanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh budaya memberi dan keterikatan terhadap komunitas, bukan semata-mata kekuatan ekonomi.
Temuan tersebut tertuang dalam World Giving Report 2026, riset global yang mengamati perilaku masyarakat dalam memberikan uang kepada orang yang membutuhkan, organisasi amal, maupun kegiatan keagamaan.
CAF mengumpulkan tanggapan dari lebih dari 60.000 orang di 105 negara. Data tersebut digunakan untuk melihat aktivitas pemberian donasi masyarakat selama 2025. Secara global, masyarakat memberikan rata-rata sekitar 1% dari pendapatan mereka untuk berbagai tujuan sosial.
Di Eropa, Irlandia menjadi salah satu negara yang paling menonjol dari sisi partisipasi masyarakat dalam berdonasi. Belanda juga berada di jajaran atas ketika indikator yang digunakan adalah persentase penduduk yang memberikan sumbangan.
Namun, Rumania menghadirkan temuan yang berbeda.
Negara tersebut memiliki tingkat partisipasi donatur yang relatif rendah, tetapi masyarakatnya memberikan porsi pendapatan yang cukup besar untuk berbagai tujuan sosial. Total pemberian masyarakat Rumania mencapai 0,9% dari pendapatan.
Angka tersebut menempatkan Rumania sebagai negara dengan proporsi pemberian tertinggi di Uni Eropa dalam laporan tersebut. Kroasia berada di posisi berikutnya dengan 0,8%, sedangkan Irlandia mencapai 0,7%.
Pola Rumania memperlihatkan bahwa jumlah orang yang berdonasi tidak selalu sejalan dengan besarnya nilai yang diberikan. Sebuah negara bisa memiliki jumlah donatur lebih sedikit, tetapi masyarakat yang berdonasi memberikan porsi pendapatan lebih besar.
Sementara itu, Irlandia menunjukkan pola yang berbeda. Kekuatan utamanya berada pada tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan donasi.
Temuan tersebut menjadi menarik ketika dibandingkan dengan gambaran Eropa secara keseluruhan. CAF mencatat masyarakat Eropa memberikan rata-rata sekitar 0,6% dari pendapatan mereka untuk tujuan yang berkaitan dengan kedermawanan. Angka itu berada di bawah rata-rata global sebesar sekitar 1%.
Dengan demikian, posisi ekonomi suatu negara tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya ukuran untuk melihat budaya berbagi masyarakatnya.
Negara-negara dengan perekonomian besar di Uni Eropa seperti Jerman, Prancis, dan Italia juga tidak otomatis menjadi yang paling tinggi dalam proporsi pendapatan yang diberikan untuk kegiatan sosial.
Di luar Uni Eropa, Ukraina menjadi salah satu negara yang mencuri perhatian. Sebanyak 61% masyarakatnya tercatat aktif memberikan donasi, dengan total pemberian mencapai 1,2% dari pendapatan.
Keterikatan Komunitas Pengaruhi Kedermawanan
Salah satu temuan penting dalam laporan CAF adalah hubungan antara rasa memiliki terhadap komunitas dengan kecenderungan seseorang untuk memberi.
Masyarakat yang merasa diterima dan memiliki keterikatan kuat dengan lingkungan sosialnya cenderung memberikan lebih banyak dibandingkan mereka yang merasa kurang terhubung dengan komunitas.
CAF menemukan negara dengan lebih dari 80% penduduk yang merasa diterima di lingkungan sosialnya mencatat rata-rata pemberian sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan negara dengan tingkat keterikatan komunitas yang lebih rendah.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya kedermawanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan finansial. Rasa percaya, hubungan sosial, dan perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas juga dapat memainkan peran penting.
Cara masyarakat Eropa menyalurkan bantuan pun memiliki karakteristik tersendiri.
Berbeda dengan kecenderungan global yang lebih banyak memberikan bantuan secara langsung kepada orang yang membutuhkan, masyarakat Eropa lebih sering menggunakan organisasi atau lembaga amal sebagai saluran donasi.
Sebanyak 38% donatur Eropa memilih menyalurkan bantuan melalui organisasi atau yayasan amal. Sementara itu, 26% memberikan bantuan secara langsung kepada orang yang membutuhkan.
Sebanyak 14% lainnya menyalurkan sumbangan kepada organisasi keagamaan atau kegiatan spiritual.
Dukungan terhadap organisasi internasional juga cukup menonjol. Sekitar 22% donatur Eropa memilih membantu yayasan atau organisasi yang beroperasi secara internasional.
Kecenderungan tersebut terlihat kuat di Norwegia dan Swedia. Di kedua negara tersebut, lebih dari separuh donatur memilih memberikan dukungan kepada organisasi internasional.
Untuk bidang yang didukung, anak-anak dan kaum muda menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Eropa. Kelompok tersebut mendapat dukungan dari sekitar 29% donatur.
Kekayaan Bukan Satu-satunya Ukuran
Data World Giving Report 2026 pada akhirnya memberikan gambaran bahwa kedermawanan masyarakat memiliki banyak dimensi.
Rumania menunjukkan bagaimana negara dengan tingkat partisipasi donasi yang tidak setinggi negara lain tetap dapat mencatatkan proporsi pemberian pendapatan yang tinggi. Sebaliknya, Irlandia memperlihatkan pentingnya partisipasi luas masyarakat dalam membangun budaya donasi.
CAF sendiri menekankan bahwa tingkat pendapatan bukan satu-satunya faktor yang menentukan perilaku memberi. Hubungan seseorang dengan komunitas dan cara mereka memandang dampak dari kontribusi yang diberikan juga turut membentuk keputusan untuk berdonasi.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan tersebut menunjukkan bahwa budaya berbagi tidak semestinya hanya diukur dari besarnya nominal yang dikeluarkan.
Jumlah orang yang terlibat, kepercayaan terhadap lembaga penerima, serta kuatnya hubungan antaranggota masyarakat juga menjadi bagian penting dari ekosistem kedermawanan.
Dengan kata lain, menjadi masyarakat yang dermawan bukan hanya soal memiliki lebih banyak uang untuk diberikan. Kemauan untuk berbagi dan rasa terhubung dengan orang lain juga menjadi bagian penting dari budaya tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Krisis memori akibat kebutuhan AI menekan industri smartphone. Xiaomi merespons lewat Redmi Note 17 dengan baterai 10.000 mAh dan fokus durabilitas.
Port USB-C HP rusak? Kenali penyebab, cara mengecek, biaya perbaikan, hingga kapan komponen tersebut perlu diganti agar tidak salah mengambil keputusan.
DPRD Bantul mendorong pelajar bijak bermedia sosial sekaligus produktif di ruang digital. Program kecakapan digital menyasar hampir 20 sekolah.
Riset World Giving Report 2026 mengungkap Rumania menjadi salah satu negara paling dermawan di Uni Eropa. Simak temuan CAF soal donasi masyarakat Eropa.
Budaya lokal dinilai bisa menjadi pembeda kuat di tengah tren wisata dan pengalaman yang semakin seragam. Namun, agar mampu menarik perhatian generasi saat ini,
Fenomena lava fountain di Gunung Anak Krakatau muncul akibat tekanan gas tinggi dalam magma. Simak penjelasan ilmiah, proses terbentuk, dan dampaknya.