Jangan Langsung Marah, Jeda Beberapa Detik Bisa Ubah Respons Emosi

Jumali
Jumali Sabtu, 22 Agustus 2026 15:37 WIB
Jangan Langsung Marah, Jeda Beberapa Detik Bisa Ubah Respons Emosi

Ekspresi marah./Ist-Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Kebiasaan bereaksi spontan saat marah, kecewa, atau kesal ternyata bisa memperburuk keadaan. Penelitian terbaru dari University of Sydney menemukan bahwa berhenti sejenak sebelum merespons dapat membantu seseorang mengelola emosi secara lebih baik dan mengurangi risiko mengambil keputusan impulsif.

Riset yang dipimpin Riley Leckie itu menyoroti peran metakognisi, yakni kemampuan seseorang untuk memantau, memahami, dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri. Kemampuan ini dinilai berperan penting dalam mendukung kecerdasan emosional dan membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih tepat saat menghadapi situasi penuh tekanan.

Metakognisi Membantu Mengelola Emosi

Dalam penelitian tersebut, para peserta diminta menilai tingkat keyakinan mereka terhadap respons yang akan dipilih ketika menghadapi berbagai situasi emosional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses menilai kembali pilihan respons sebelum bertindak dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih. Dengan kata lain, seseorang tidak hanya mengikuti dorongan emosi sesaat, tetapi juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang melatarbelakangi suatu peristiwa.

Kemampuan metakognitif membuat seseorang lebih sadar terhadap perubahan emosinya sendiri. Mereka dapat mengenali kapan rasa marah, kecewa, atau frustrasi mulai muncul, sekaligus menilai seberapa kuat emosi tersebut memengaruhi cara berpikir.

Selain itu, proses evaluasi juga memberi kesempatan untuk mempertimbangkan apakah respons yang akan diberikan sudah sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Mencegah Respons Impulsif

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah manfaat jeda singkat untuk mencegah keputusan impulsif.

Ketika seseorang memberi waktu beberapa detik untuk berpikir, otak memiliki kesempatan melakukan evaluasi ulang terhadap situasi yang sedang terjadi. Proses tersebut membantu memeriksa apakah tindakan yang akan dilakukan benar-benar merupakan pilihan terbaik atau hanya dorongan emosi sesaat.

Peneliti menemukan bahwa kebiasaan menilai ulang respons dapat membantu individu memperhatikan informasi yang lebih relevan dan mengurangi kecenderungan bereaksi secara berlebihan.

Bisa Diterapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Penerapan temuan ini sebenarnya cukup sederhana. Misalnya saat seorang teman membatalkan janji secara mendadak sehingga memicu rasa kesal atau kecewa.

Alih-alih langsung mengirim pesan bernada emosional, seseorang dapat mencoba berhenti sejenak dan mempertimbangkan kemungkinan lain. Bisa jadi teman tersebut menghadapi kondisi darurat, masalah keluarga, atau situasi mendesak yang tidak dapat dihindari.

Dengan memberi ruang untuk berpikir lebih tenang, respons yang muncul cenderung lebih bijaksana dan konstruktif. Perasaan kecewa tetap dapat disampaikan, tetapi dengan cara yang tidak memperkeruh hubungan.

Langkah Kecil dengan Dampak Besar

Penelitian ini menunjukkan bahwa mengelola emosi tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Kebiasaan sederhana berupa berhenti sejenak, mengevaluasi situasi, lalu menentukan respons dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih baik.

Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kemampuan untuk menahan diri beberapa detik sebelum bereaksi bisa menjadi keterampilan penting. Langkah kecil tersebut tidak hanya membantu menjaga hubungan dengan orang lain, tetapi juga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dalam berbagai situasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online