Indonesia Hanya Punya 66 Dokter Aritmia untuk 280 Juta Penduduk

Newswire
Newswire Selasa, 29 September 2026 22:47 WIB
Indonesia Hanya Punya 66 Dokter Aritmia untuk 280 Juta Penduduk

Ilustrasi serangan jantung (Freepik)

Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesia masih menghadapi keterbatasan akses layanan gangguan irama jantung atau aritmia. Saat ini, jumlah dokter yang menangani aritmia baru mencapai 66 orang untuk melayani sekitar 280 juta penduduk.

Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi Profesor Yoga Yuniadi mengatakan penambahan sumber daya manusia menjadi salah satu kebutuhan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan aritmia.

“Untuk meng-cover 280 juta penduduk di Indonesia, dokter aritmia saat ini hanya berjumlah 66 orang,” kata Yoga dalam konferensi pers peringatan “Hari Jantung Sedunia - Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup” di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut mengatakan jumlah dokter aritmia yang terbatas menjadi salah satu tantangan dalam memberikan layanan deteksi dini dan penanganan gangguan irama jantung secara tepat waktu.

Menurut Yoga, organisasi profesi terus mendorong peningkatan akses layanan aritmia. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menambah jumlah dokter aritmia dengan dukungan dari berbagai pihak.

“Kami dari perhimpunan selalu berusaha untuk meningkatkan akses terhadap layanan aritmia, termasuk juga berusaha untuk menambah dokter-dokter aritmia tentunya dengan bantuan berbagai pihak,” ujarnya.

Indonesia Masih Hadapi Kesenjangan Layanan

Yoga mengatakan persoalan akses layanan aritmia tidak hanya berkaitan dengan jumlah dokter. Indonesia juga masih menghadapi kesenjangan ketersediaan sumber daya layanan aritmia jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik.

Indonesia, kata dia, termasuk lima negara dengan rasio terendah dalam jumlah dokter aritmia, tindakan ablasi, serta pemasangan alat kejut listrik bagi pasien yang membutuhkan.

“Dan tentunya ini merupakan PR besar untuk kita semua,” kata penasihat di Heart Rhythm Society (InaHRS) itu.

Karena itu, penguatan layanan aritmia perlu dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi. Penanganan gangguan irama jantung yang tepat dinilai dapat membantu menurunkan kejadian strok serta kematian jantung mendadak.

“Investasi layanan aritmia bukan hanya dihitung dari biaya kesehatan, namun juga nantinya bisa menurunkan angka kejadian stroke dan juga kematian jantung mendadak,” ujarnya.

Yoga berharap seluruh masyarakat, tanpa melihat lokasi maupun latar belakang, dapat memperoleh akses yang setara terhadap deteksi dini aritmia dan terapi yang tepat waktu.

Dia juga berharap dukungan terhadap layanan jantung melalui program prioritas pemerintah dapat mendorong pengembangan layanan aritmia. Dengan demikian, kebutuhan pasien terhadap layanan tersebut di berbagai wilayah Indonesia semakin terakomodasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online