IDAI Ingatkan Bahaya Telur Mentah untuk Bayi dan Anak
IDAI mengingatkan bahaya telur mentah bagi bayi dan anak karena risiko Salmonella. Simak cara mengolah telur yang aman untuk MPASI.
Ilustrasi serangan jantung (Freepik)
Harianjogja.com, JAKARTA— Indonesia masih menghadapi keterbatasan akses layanan gangguan irama jantung atau aritmia. Saat ini, jumlah dokter yang menangani aritmia baru mencapai 66 orang untuk melayani sekitar 280 juta penduduk.
Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi Profesor Yoga Yuniadi mengatakan penambahan sumber daya manusia menjadi salah satu kebutuhan untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan aritmia.
“Untuk meng-cover 280 juta penduduk di Indonesia, dokter aritmia saat ini hanya berjumlah 66 orang,” kata Yoga dalam konferensi pers peringatan “Hari Jantung Sedunia - Deteksi Dini Aritmia dan Rekomendasi Prosedur untuk Tingkatkan Kualitas Hidup” di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tersebut mengatakan jumlah dokter aritmia yang terbatas menjadi salah satu tantangan dalam memberikan layanan deteksi dini dan penanganan gangguan irama jantung secara tepat waktu.
Menurut Yoga, organisasi profesi terus mendorong peningkatan akses layanan aritmia. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menambah jumlah dokter aritmia dengan dukungan dari berbagai pihak.
“Kami dari perhimpunan selalu berusaha untuk meningkatkan akses terhadap layanan aritmia, termasuk juga berusaha untuk menambah dokter-dokter aritmia tentunya dengan bantuan berbagai pihak,” ujarnya.
Indonesia Masih Hadapi Kesenjangan Layanan
Yoga mengatakan persoalan akses layanan aritmia tidak hanya berkaitan dengan jumlah dokter. Indonesia juga masih menghadapi kesenjangan ketersediaan sumber daya layanan aritmia jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik.
Indonesia, kata dia, termasuk lima negara dengan rasio terendah dalam jumlah dokter aritmia, tindakan ablasi, serta pemasangan alat kejut listrik bagi pasien yang membutuhkan.
“Dan tentunya ini merupakan PR besar untuk kita semua,” kata penasihat di Heart Rhythm Society (InaHRS) itu.
Karena itu, penguatan layanan aritmia perlu dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi. Penanganan gangguan irama jantung yang tepat dinilai dapat membantu menurunkan kejadian strok serta kematian jantung mendadak.
“Investasi layanan aritmia bukan hanya dihitung dari biaya kesehatan, namun juga nantinya bisa menurunkan angka kejadian stroke dan juga kematian jantung mendadak,” ujarnya.
Yoga berharap seluruh masyarakat, tanpa melihat lokasi maupun latar belakang, dapat memperoleh akses yang setara terhadap deteksi dini aritmia dan terapi yang tepat waktu.
Dia juga berharap dukungan terhadap layanan jantung melalui program prioritas pemerintah dapat mendorong pengembangan layanan aritmia. Dengan demikian, kebutuhan pasien terhadap layanan tersebut di berbagai wilayah Indonesia semakin terakomodasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
IDAI mengingatkan bahaya telur mentah bagi bayi dan anak karena risiko Salmonella. Simak cara mengolah telur yang aman untuk MPASI.
Harga cabai merah di Jateng mencapai Rp90.000 per kg. Pemprov Jateng menggelar pangan murah dan memberi bantuan untuk menekan inflasi.
Kota Jogja mencatat 77 kejadian kebakaran hingga September 2026. Umbulharjo terbanyak, sementara Damkarmat belum merancang program baru pada 2027.
Bareskrim Polri memburu bandar dan penyuplai narkoba lewat operasi nasional. Sebanyak 60 orang diamankan di Jakarta dan Sumatra Utara.
Kelok 23 ditargetkan rampung pada 2027. Simak kendala pembangunan, rambu keselamatan, drainase, hingga rencana penataan lalu lintas.
Pasar Sentul menghadapi persaingan pedagang yang berjualan di rumah warga. Kemudahan akses dan kebiasaan pembeli menjadi tantangan revitalisasi.