Marc Marquez Tak Mau Terlena Usai Menang Sprint Mandalika
Marc Marquez fokus menghadapi balapan utama MotoGP Indonesia 2026 setelah menjuarai sprint race di Sirkuit Mandalika.
Ilustrasi menguap/magnific
Harianjogja.com, JOGJA—Kurang tidur dapat membuat pekerja lebih sulit berkonsentrasi dan menerima informasi baru. Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menemukan aktivitas fisik selama 20 menit dapat membantu menjaga kemampuan memori setelah tubuh mengalami kurang tidur.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena kondisi kurang tidur tidak selalu bisa dihindari, terutama oleh orang yang bekerja dengan sistem sif atau memiliki aktivitas yang membuat waktu istirahat berkurang. Penelitian ini menunjukkan olahraga singkat dan tidur siang dapat sama-sama membantu mempertahankan kemampuan otak dalam membentuk memori, meski keduanya bekerja melalui mekanisme yang berbeda.
Penelitian Dilakukan Setelah 30 Jam Tanpa Tidur
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menguji 54 orang dewasa muda sehat yang menjalani periode 30 jam tanpa tidur secara terus-menerus di bawah pemantauan laboratorium. Setelah periode tersebut, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok untuk menjalani intervensi yang berbeda.
Satu kelompok melakukan olahraga aerobik selama 20 menit, kelompok kedua mendapat kesempatan tidur siang selama 90 menit, sedangkan kelompok ketiga tidak mendapatkan intervensi. Aktivitas otak peserta juga dipantau menggunakan electroencephalography (EEG) untuk melihat mekanisme saraf yang berkaitan dengan kemampuan mengingat.
Hasilnya menunjukkan kelompok yang berolahraga maupun tidur siang sama-sama mampu mempertahankan kemampuan memori episodik setelah kurang tidur. Secara rata-rata, performa memori pada kedua kelompok tersebut sekitar 22 persen lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak mendapatkan intervensi.
Namun, hasil tersebut bukan berarti olahraga 20 menit memiliki efek yang identik dengan tidur 90 menit. Peneliti menemukan kedua intervensi tersebut membantu memori melalui jalur saraf yang berbeda.
Olahraga dan Tidur Siang Bekerja dengan Cara Berbeda
Pada kelompok yang melakukan olahraga, kemampuan otak dalam memproses informasi secara efisien menjadi salah satu mekanisme yang berkaitan dengan performa memori. Sementara itu, pada kelompok tidur siang, kondisi otak yang berkaitan dengan kelelahan dan tekanan tidur lebih berperan terhadap kemampuan mengingat.
Dengan kata lain, olahraga singkat bukan pengganti tidur malam yang cukup. Aktivitas fisik dalam penelitian tersebut digunakan sebagai intervensi setelah peserta mengalami kondisi kurang tidur yang sangat berat dan dilakukan dalam lingkungan laboratorium.
Peneliti juga menekankan bahwa protokol 30 jam tanpa tidur dalam penelitian merupakan kondisi yang dibuat secara khusus untuk eksperimen. Kondisi tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kurang tidur kronis yang dialami masyarakat atau pekerja yang memiliki jadwal kerja tidak teratur.
Karena itu, temuan penelitian lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa aktivitas fisik singkat berpotensi membantu mempertahankan fungsi memori dalam kondisi kurang tidur, bukan sebagai alasan untuk mengganti waktu tidur dengan olahraga.
Jalan Cepat atau Bersepeda Bisa Menjadi Pilihan
Dalam eksperimen, peserta kelompok olahraga melakukan aktivitas aerobik menggunakan sepeda statis selama 20 menit dengan intensitas sekitar 80 persen dari denyut jantung maksimal. Sebelumnya, peserta menjalani pemanasan selama tiga menit pada intensitas yang lebih rendah.
Bagi masyarakat yang hanya ingin menerapkan aktivitas fisik ringan dalam rutinitas harian, bentuk olahraga tentu perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kemampuan masing-masing. Jalan cepat atau bersepeda dapat menjadi pilihan aktivitas fisik, tetapi intensitas dalam penelitian tidak dapat begitu saja disamakan dengan aktivitas ringan sehari-hari.
Selain olahraga, tidur tetap menjadi bagian penting untuk memulihkan tubuh setelah kurang tidur. Penelitian PNAS secara khusus membandingkan olahraga 20 menit dan tidur siang 90 menit sebagai dua intervensi yang diberikan setelah 30 jam tanpa tidur, sehingga hasilnya tidak dapat diartikan bahwa tidur siang selalu harus diganti dengan olahraga.
Bagi pekerja yang mengalami kurang tidur, temuan ini setidaknya memberikan gambaran bahwa bergerak secara aktif dalam waktu singkat berpotensi membantu fungsi kognitif tertentu. Namun, kebutuhan tidur yang memadai tetap tidak dapat diabaikan, terutama ketika seseorang harus menjalankan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa otak memiliki lebih dari satu cara untuk mempertahankan fungsi memori ketika menghadapi gangguan akibat kurang tidur. Temuan mengenai perbedaan mekanisme antara olahraga dan tidur siang menjadi bagian penting dari penelitian yang diterbitkan PNAS tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Marc Marquez fokus menghadapi balapan utama MotoGP Indonesia 2026 setelah menjuarai sprint race di Sirkuit Mandalika.
Kota Jogja mencatat 77 kejadian kebakaran hingga September 2026. Umbulharjo terbanyak, sementara Damkarmat belum merancang program baru pada 2027.
Bareskrim Polri memburu bandar dan penyuplai narkoba lewat operasi nasional. Sebanyak 60 orang diamankan di Jakarta dan Sumatra Utara.
Kelok 23 ditargetkan rampung pada 2027. Simak kendala pembangunan, rambu keselamatan, drainase, hingga rencana penataan lalu lintas.
Pasar Sentul menghadapi persaingan pedagang yang berjualan di rumah warga. Kemudahan akses dan kebiasaan pembeli menjadi tantangan revitalisasi.
Kiper PSIM Cahya Supriadi memilih fokus menjaga konsistensi di liga. Ia realistis menghadapi persaingan untuk kembali memperkuat Timnas Indonesia.